Dalam surat-suratnya kepada Stella Zeehandelaar, RA Kartini menempatkan satu hal sebagai persoalan paling mendesak: perempuan tidak diberi kuasa untuk menentukan hidupnya sendiri. Dari korespondensi itu terlihat bahwa kegelisahan Kartini bukan sekadar curahan hati pribadi, melainkan kritik tajam terhadap keadaan yang membuat perempuan Jawa berada di bawah kendali keluarga, adat, dan pilihan orang lain.
Pandangan tersebut membuat surat Kartini kepada Stella terus dibaca ulang hingga kini. Isi suratnya memperlihatkan bagaimana ia menghubungkan pengalaman sehari-hari dengan persoalan yang lebih besar, mulai dari keterbatasan pendidikan, tekanan adat, sampai kebebasan berpikir yang menurutnya harus dimiliki perempuan.
Perempuan yang tidak memegang kendali atas nasib sendiri
Salah satu titik paling kuat dalam surat Kartini adalah penolakannya terhadap keadaan ketika perempuan tidak bisa memilih jalan hidupnya sendiri. Ia berulang kali menyoroti bahwa perempuan pribumi, khususnya perempuan Jawa, hidup dalam batasan yang sangat sempit dan kerap harus tunduk pada keputusan keluarga.
Kartini memandang keadaan itu sebagai ketidakadilan yang nyata. Ia bahkan menegaskan dalam suratnya bahwa perempuan tidak memiliki ruang untuk menjalani hidup secara merdeka, termasuk ketika menyangkut urusan pernikahan yang sering ditentukan oleh orang lain.
Pendidikan sebagai jalan membuka ruang perubahan
Di balik kritiknya, Kartini tidak berhenti pada keluhan. Ia menempatkan pendidikan sebagai jalan yang paling penting untuk mengubah posisi perempuan, karena belajar memberi bekal untuk keluar dari penindasan dan memperbaiki masa depan.
Bagi Kartini, pendidikan bukan sekadar fasilitas tambahan. Ia melihatnya sebagai hak dasar yang semestinya bisa diakses perempuan, sebab keterbatasan belajar justru membuat perempuan tetap berada dalam posisi lemah di hadapan adat dan lingkungan.
Adat yang dikritik, bukan budaya yang ditolak
Kartini tidak menempatkan dirinya sebagai penentang budaya Jawa secara keseluruhan. Ia justru menghargai tradisi, tetapi secara tegas menolak praktik yang merugikan perempuan, seperti pingitan, poligami, dan perkawinan paksa.
Dalam surat-suratnya, ia juga menggambarkan betapa kuatnya kontrol sosial terhadap tubuh dan perilaku perempuan. Hal-hal yang tampak sederhana, termasuk cara berjalan, bisa menjadi bahan penilaian lingkungan, sementara perempuan hampir tidak memiliki kesempatan untuk menolak masa depan yang sudah diputuskan untuk mereka.
Kebebasan berpikir dan pertukaran gagasan dengan Stella
Hubungan Kartini dengan Stella Zeehandelaar memberi ruang aman bagi Kartini untuk berbicara bebas. Stella dikenal sebagai perempuan Belanda yang aktif sebagai penulis, feminis, dan bagian dari gerakan sosial progresif di Amsterdam, sehingga pertukaran surat keduanya menjadi saluran penting bagi Kartini untuk menuangkan pikiran tanpa batasan yang biasa ia hadapi di sekitarnya.
Kedekatan gagasan itu mulai terjalin ketika Kartini mencari sahabat pena dari Eropa melalui iklan korespondensi. Dari sana, percakapan mereka berkembang menjadi diskusi yang intens dan membantu Kartini merumuskan pandangannya tentang emansipasi dengan lebih jelas.
Dari pengalaman pribadi menuju gagasan yang lebih luas
Surat Kartini kepada Stella menunjukkan bahwa persoalan perempuan tidak dipandangnya sebagai masalah kecil yang terbatas pada satu lingkungan. Ia melihatnya sebagai isu yang lebih universal, karena ketidakadilan terhadap perempuan muncul dalam berbagai bentuk dan membutuhkan solidaritas lintas batas.
Pemikiran itu juga tampak dalam harapannya agar anak laki-laki dan perempuan dibesarkan dengan rasa saling hormat sebagai sesama manusia. Dalam pandangan Kartini, kemajuan perempuan tidak bisa dilepaskan dari perubahan cara pandang sejak usia dini, termasuk dalam keluarga dan pola asuh.
Kumpulan surat Kartini yang kemudian dihimpun dalam “Door Duisternis tot Licht”, atau yang dikenal luas di Indonesia sebagai “Habis Gelap Terbitlah Terang”, memperlihatkan bahwa curahan hatinya bukan hanya cerita tentang penderitaan. Surat-surat itu menjadi dasar penting bagi gagasan emansipasi perempuan yang masih relevan ketika membahas pendidikan, kesetaraan, dan kebebasan berpendapat.
Source: www.beritasatu.com






