Surplus perdagangan Jawa Timur dengan Malaysia kembali menguat setelah nilai ekspor provinsi itu tercatat jauh lebih besar dibanding impornya. Berdasarkan data yang disampaikan, ekspor Jawa Timur ke Malaysia pada 2025 mencapai 1.539,3 juta dolar AS, sedangkan impor dari negara tersebut berada di angka 572,37 juta dolar AS.
Selisih itu membuat Jawa Timur membukukan surplus perdagangan 967,06 juta dolar AS. Angka tersebut menjadi salah satu dasar pembahasan saat Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bertemu Duta Besar RI untuk Malaysia Raden Dato’ Muhammad Iman Hascarya Kusumo di Kuala Lumpur.
Peluang dagang masih terbuka lebar
Dalam pertemuan itu, pembicaraan tidak hanya berputar pada capaian perdagangan yang sudah ada, tetapi juga arah penguatan kerja sama ke depan. Malaysia diposisikan sebagai mitra penting bagi Jawa Timur untuk memperluas pasar sekaligus memperdalam jejaring ekonomi.
Khofifah menilai hubungan dagang kedua pihak masih menyimpan ruang besar untuk berkembang. Sejumlah sektor seperti industri pengolahan, pangan, dan produk unggulan lain disebut memiliki peluang sinergi yang kuat untuk terus didorong.
Di Surabaya, Khofifah menyampaikan bahwa Jawa Timur konsisten menjalankan misi dagang ke berbagai provinsi dan negara sahabat. Langkah itu dipakai untuk memperbesar pasar sekaligus menjaga posisi Jawa Timur sebagai salah satu pusat perdagangan yang kompetitif.
Business matching jadi pintu tindak lanjut
Pada misi dagang dan investasi Jatim-Malaysia kali ini, tercatat ada 10 kali business matching yang mempertemukan pelaku usaha dari kedua pihak. Skema ini dipakai untuk membuka komunikasi yang lebih konkret agar peluang kerja sama tidak berhenti pada pembahasan umum.
Pertemuan bisnis semacam itu memberi ruang bagi pelaku usaha untuk melihat kecocokan kebutuhan, komoditas, dan potensi kerja sama. Dari sana, tindak lanjut ekonomi diharapkan bisa bergerak lebih cepat dan terukur.
Komoditas ekspor unggulan Jawa Timur ke Malaysia juga menunjukkan karakter yang beragam. Tembaga, lemak dan minyak hewani, produk kimia, kakao dan olahannya, serta kayu dan turunannya masuk dalam daftar utama ekspor nonmigas Jawa Timur.
Di sisi lain, impor dari Malaysia didominasi plastik dan barang dari plastik, bahan kimia organik, mesin dan peralatan mekanis, makanan olahan, serta kakao. Komposisi ini menunjukkan adanya arus barang yang saling melengkapi antara kebutuhan industri dan pasokan perdagangan.
Pangan, inovasi, dan daya saing
Selain perdagangan, Khofifah menempatkan ketahanan pangan dan kedaulatan pangan sebagai modal penting untuk memperluas pasar. Penguatan sektor peternakan juga terus didorong melalui inovasi, termasuk pembangunan Grand Parent Stock atau GPS sebagai induk ayam ras generasi tertinggi.
Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kualitas produksi sekaligus menekan ketergantungan impor. Dukungan riset dan inovasi juga dianggap perlu agar daya saing produk Jawa Timur terus naik di pasar yang lebih luas.
Fokus pada pangan tidak berdiri sendiri karena berkaitan langsung dengan kesiapan daerah menghadapi kebutuhan industri dan perdagangan. Dengan basis produksi yang lebih kuat, Jawa Timur diharapkan punya posisi tawar yang lebih baik dalam hubungan dagang dengan Malaysia maupun pasar lain.
Kerja sama pendidikan ikut diprioritaskan
Di luar sektor ekonomi, agenda pertemuan juga memuat kerja sama pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Kolaborasi perguruan tinggi serta program pertukaran pelajar dipandang bisa mempererat hubungan Jawa Timur dan Malaysia dalam jangka panjang.
Skema tersebut dinilai penting karena hubungan antardaerah dan antarnegara tidak hanya ditopang transaksi dagang. Bila ditopang pertukaran pengetahuan dan pengembangan SDM, hubungan itu dinilai lebih stabil dan memberi manfaat yang lebih luas.
Dubes RI untuk Malaysia Raden Dato’ Muhammad Iman Hascarya Kusumo mengapresiasi peran strategis Jawa Timur sebagai kekuatan ekonomi nasional. Ia menilai diskusi yang intensif serta kolaborasi yang berkelanjutan dapat membuka peluang kerja sama yang memberi manfaat ekonomi nyata bagi kedua pihak.
Dengan surplus perdagangan yang besar, ragam komoditas ekspor yang kuat, serta perhatian pada pendidikan dan inovasi, Jawa Timur terus mendorong hubungan yang lebih dalam dengan Malaysia. Arah pembicaraan kedua pihak menunjukkan bahwa ruang kerja sama masih sangat terbuka, terutama jika jalur bisnis dan pengembangan SDM terus diperkuat secara konsisten.
Source: jatim.antaranews.com






