Taiwan dan Tarif Jadi Ujian Utama, Xi Siapkan Sinyal Keras untuk Trump di Beijing

Author: Redaksi Android62

Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping di Beijing langsung memusatkan perhatian pada satu hal: seberapa jauh dua kekuatan besar itu bisa menahan gesekan yang selama ini terus membesar. Dalam kunjungan tiga hari yang dijadwalkan dimulai Rabu malam itu, Taiwan, tarif, dan konflik di Timur Tengah berada di meja yang sama, sehingga pembicaraan dipandang sangat sensitif.

Bagi Beijing, momen ini bukan sekadar pertemuan diplomatik biasa. China ingin Washington memberi sinyal yang lebih lunak soal Taiwan sekaligus kepastian atas arah hubungan dagang yang masih mudah goyah.

Taiwan Jadi Titik Paling Rawan

Isu Taiwan hampir pasti menjadi pembahasan utama ketika Xi dan Trump bertatap muka. China tetap menganggap Taiwan sebagai wilayahnya, sementara pulau itu menjalankan pemerintahan sendiri secara de facto.

Amerika Serikat sudah lama memutus hubungan diplomatik resmi dengan Taiwan. Meski begitu, Washington masih memberi bantuan pertahanan berdasarkan Taiwan Relations Act 1979 dan terus memasok senjata serta memperkuat kerja sama militer dengan Taipei.

Langkah itu berulang kali memicu kemarahan Beijing karena dinilai mencampuri urusan dalam negeri China. Menteri Luar Negeri China Wang Yi bahkan menyebut Taiwan sebagai risiko terbesar dalam hubungan AS-China saat berbicara dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bulan lalu.

Kedutaan Besar China di Washington juga kembali menegaskan Taiwan sebagai salah satu dari empat garis merah yang tidak boleh dilanggar Amerika Serikat. Trump sendiri sebelumnya menyebut penjualan senjata AS ke Taiwan akan masuk dalam pembicaraan dengan Xi Jinping.

Pernyataan itu ikut memunculkan perhatian pada paket penjualan senjata senilai 14 miliar dolar AS yang masih menunggu persetujuan akhir Gedung Putih. Isu ini menambah lapisan tekanan dalam pertemuan yang sejak awal sudah sarat muatan politik.

Tekanan Beijing atas Dukungan Militer AS

Sejumlah pengamat memperkirakan China akan berusaha keras memengaruhi posisi Trump terkait Taiwan. Analis Crisis Group, William Yang, menilai Beijing kemungkinan mendorong agar penjualan senjata ke Taiwan dikurangi atau bahkan dihentikan.

“China ingin memengaruhi keputusan Trump terkait Taiwan dan menciptakan situasi yang membuat pemerintah Taiwan kesulitan meminta tambahan anggaran pertahanan,” ujarnya dilansir dari Al Jazeera. Pandangan itu sejalan dengan kepentingan Beijing untuk menekan dukungan militer Washington kepada Taipei.

Di sisi lain, China juga berkepentingan menjaga agar hubungan bilateral tidak jatuh lebih dalam ke dalam tekanan geopolitik. Karena itu, pembicaraan soal Taiwan diperkirakan tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan agenda ekonomi dan keamanan yang lebih luas.

Tarif Masih Menjadi Beban Besar

Selain Taiwan, perang dagang tetap menjadi isu yang tidak bisa dihindari. Hubungan ekonomi kedua negara masih terbebani setelah AS dan China saling menaikkan tarif impor hingga di atas 100 persen dalam 18 bulan terakhir.

Kedua pihak memang sempat sepakat menahan perang dagang selama satu tahun dalam pertemuan sebelumnya di Korea Selatan. Namun ketegangan belum benar-benar hilang dan masih membayangi pembicaraan terbaru di Beijing.

Washington juga belum menghentikan langkah tekanannya terhadap Beijing. AS masih memberlakukan sejumlah sanksi baru terhadap perusahaan China yang dituduh membeli minyak Iran serta membantu pengembangan drone dan rudal Teheran.

Dari sisi China, yang dibutuhkan adalah kepastian tentang arah kebijakan ekonomi AS hingga akhir masa jabatan Trump pada 2029. Beijing berharap hubungan yang lebih stabil dengan Washington bisa membantu pertumbuhan ekonomi domestik.

Bayang-Bayang Konflik Iran

Pertemuan Xi dan Trump berlangsung di tengah memanasnya konflik Iran, yang ikut memperumit lanskap global. China menilai perang itu berdampak luas, terutama pada pasokan energi yang sangat dibutuhkan banyak negara.

Jika Selat Hormuz tertutup akibat perang, dampaknya bisa besar terhadap pasokan energi global. China termasuk negara yang sangat bergantung pada impor minyak dari kawasan Timur Tengah, sehingga konflik itu ikut menjadi perhatian serius Beijing.

Itulah sebabnya China terus menyerukan dialog dan gencatan senjata sejak konflik pecah. Xi diperkirakan akan kembali mendorong solusi diplomatik saat bertemu Trump di Beijing.

Analis keamanan internasional Universitas Tsinghua, Jodie Wen, menegaskan bahwa dampak perang itu tidak berhenti di Timur Tengah. Menurutnya, efeknya juga terasa di Asia dan Amerika Serikat, sehingga dialog tetap menjadi kebutuhan mendesak.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru