Taiwan Jadi Cermin Utama, Beijing Membaca Celah Pertahanan AS dari Perang Iran

Bagi Beijing, perang Iran bukan sekadar pertarungan di Timur Tengah. Konflik yang sudah memasuki bulan ketiga itu dibaca sebagai ruang uji nyata untuk menilai pola tempur Amerika Serikat, sekaligus bahan untuk mengukur kemungkinan benturan di sekitar Taiwan.

Cara perang itu berlangsung memberi banyak petunjuk baru. Dari drone murah hingga senjata presisi, medan tempur di Teluk Persia memperlihatkan bahwa efektivitas operasi militer tidak hanya ditentukan oleh teknologi canggih, tetapi juga oleh daya tahan, logistik, dan kemampuan beradaptasi di lapangan.

Iran sebagai cermin perang modern

Sejumlah pengamat di Tiongkok, Taiwan, dan negara lain menilai perang ini memperlihatkan bahwa senjata paling maju bukan satu-satunya penentu hasil. Kemampuan bertahan dan ketahanan pasokan justru ikut menentukan arah pertempuran.

Iran disebut memanfaatkan drone murah Shahed dan rudal balistik berbiaya rendah untuk menembus sistem pertahanan udara Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia. Di sisi lain, Amerika Serikat membalas dengan F-35, B-2, serta amunisi berpemandu yang diluncurkan dari B-1, B-52, dan F-15 untuk menghancurkan target strategis.

Pola ini membuat medan tempur Iran dipandang sebagai laboratorium besar bagi militer dunia. Dalam situasi seperti itu, kemampuan adaptasi di lapangan sama pentingnya dengan kualitas teknologi yang dibawa ke medan perang.

Apa yang dicatat Tiongkok

Mantan kolonel Angkatan Udara Tiongkok, Fu Qianshao, menilai pelajaran utama dari perang Iran adalah perlunya memperkuat pertahanan dalam negeri. Ia menyebut Iran berhasil menemukan celah dalam sistem pertahanan udara Amerika Serikat seperti Patriot dan THAAD.

Fu menekankan bahwa kelemahan pertahanan harus dipetakan dengan serius agar Tiongkok tidak lengah dalam konflik masa depan. Ia juga menyoroti pentingnya perlindungan yang lebih kuat terhadap lokasi penting, lapangan terbang, dan pelabuhan dari serangan mendadak.

Di saat yang sama, Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok atau PLA terus memperkuat kemampuan ofensifnya. Beijing mengembangkan rudal hipersonik untuk menghindari sistem pencegat lawan dan mempercepat produksi jet siluman J-20.

Lembaga kajian pertahanan Inggris, Royal United Services Institute, memperkirakan Tiongkok dapat memiliki sekitar 1.000 unit J-20 untuk misi serangan presisi jarak jauh. Beijing juga tengah mengembangkan pembom siluman jarak jauh dengan karakteristik mirip B-2 dan B-21 milik Amerika Serikat.

Taiwan masuk ke pusat perhitungan

Pembacaan Tiongkok atas perang Iran segera dikaitkan dengan Taiwan. Pulau itu selama ini dianggap sebagai titik konflik paling mungkin antara Beijing dan Washington.

Partai Komunis Tiongkok berulang kali menegaskan tekad untuk melakukan reunifikasi dengan Taiwan, termasuk lewat opsi militer jika dianggap perlu. Karena itu, setiap pelajaran dari perang modern langsung disambungkan dengan kemungkinan konflik lintas Selat Taiwan.

Analis Taiwan menilai Tiongkok kini menggabungkan kemampuan perang presisi ala Amerika Serikat dengan taktik drone murah dalam skala besar seperti Iran. Chieh Chung dari Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan menyebut roket jarak jauh dan kawanan drone akan memainkan peran kunci dalam operasi militer gabungan Tiongkok.

Kapasitas industri dan sisi rapuh Taiwan

Kapasitas industri Tiongkok juga ikut menjadi perhatian. Sebagai produsen drone terbesar di dunia, kemampuan sipil Tiongkok dinilai dapat dialihkan untuk produksi militer dalam skala besar.

Laporan War on the Rocks pada 2025 menyebut produsen sipil Tiongkok dapat beralih memproduksi hingga satu miliar drone bersenjata per tahun dalam waktu kurang dari setahun. Namun, besarnya kapasitas produksi tidak otomatis menjamin kemenangan di medan perang.

Taiwan disebut belum sepenuhnya siap menghadapi ancaman serangan drone dalam jumlah besar. Laporan lembaga pengawas pemerintah Taiwan menyebut sistem penangkal drone militernya saat ini tidak efektif dan menimbulkan risiko keamanan besar bagi infrastruktur strategis.

Direktur eksekutif produsen drone Taiwan, Thunder Tiger, Gene Su, mendorong produksi massal yang berkelanjutan. Ia menekankan perlunya produksi tanpa henti untuk menghadapi lawan dalam skenario perang modern.

Pelajaran untuk Amerika Serikat

Perang Iran juga memberi bahan evaluasi bagi Amerika Serikat. Dalam skenario konflik di Pasifik, Washington diperkirakan akan lebih menekankan strategi defensif, terutama bila berhadapan dengan ancaman drone dan rudal dalam jumlah besar.

Komandan Komando Indo-Pasifik AS, Laksamana Samuel John Paparo, sebelumnya menegaskan bahwa drone dapat membuat perang jauh lebih mahal bagi pihak penyerang. Dalam konteks Taiwan, drone bisa dipakai untuk menyerang kapal dan pesawat Tiongkok yang membawa pasukan PLA melintasi Selat Taiwan.

Meski begitu, para analis mengingatkan bahwa kemenangan taktis tidak selalu berujung pada hasil politik yang diinginkan. Craig Singleton dari Yayasan Pertahanan Demokrasi menilai tekanan militer belum tentu menghasilkan penyelesaian jangka panjang.

Ia juga menekankan bahwa keberhasilan di medan perang tidak otomatis menciptakan keadaan akhir yang diharapkan pihak penyerang. Dari situ, perang Iran dipandang bukan hanya soal siapa yang unggul dalam serangan, tetapi juga soal bagaimana perang mengubah perhitungan politik setelah senjata berhenti berbunyi.

Pengalaman tempur tetap menjadi pembeda

Di luar teknologi, pengalaman tempur nyata masih menjadi pembeda penting. PLA dinilai belum memiliki pengalaman perang besar, dengan konflik terakhir yang melibatkan Tiongkok terjadi saat perang melawan Vietnam pada 1979.

Sebaliknya, militer Amerika Serikat sudah melewati berbagai operasi besar di Irak, Afghanistan, Kosovo, dan Panama. Perbedaan ini dianggap penting karena perang modern menuntut adaptasi cepat, koordinasi lintas matra, dan pengambilan keputusan di bawah tekanan.

Analis militer Tiongkok, Song Zongping, menyebut perang Iran sebagai gambaran perang modern yang sesungguhnya. Drew Thompson dari Sekolah Studi Internasional S. Rajaratnam di Singapura juga mengingatkan bahwa pilot andal dengan pesawat biasa dapat mengalahkan pilot biasa dengan pesawat yang sangat bagus.

Pesan yang muncul dari perang Iran cukup jelas. Celah pertahanan, ketahanan logistik, kemampuan bertahan, dan pengalaman tempur tetap bisa menentukan arah konflik, bahkan saat senjata yang digunakan terlihat semakin canggih.

Source: mediaindonesia.com

Berita Terkait