98% Publik Dukung Kendaraan Listrik, Taksi Elektrik Kian Menarik saat BBM Naik

Dukungan masyarakat terhadap kendaraan listrik menjadi modal besar bagi pengembangan taksi elektrik di Indonesia. Survei Litbang Kompas mencatat 98% publik mendukung penggunaannya karena biaya operasional lebih murah, perawatan lebih sederhana, dan pajak lebih ringan.

Momentum tersebut menguat ketika harga sejumlah bahan bakar minyak kembali menekan pengeluaran transportasi harian. Taksi listrik mulai dipandang sebagai pilihan yang relevan bagi mobilitas perkotaan karena tidak bergantung pada konsumsi BBM.

Biaya Operasional Menjadi Daya Tarik Utama

Pengemudi dan operator taksi menghadapi pengeluaran rutin yang sangat dipengaruhi harga energi. Kendaraan listrik menawarkan biaya operasional yang lebih ringan serta kebutuhan perawatan yang lebih sederhana dibandingkan armada bermesin konvensional.

Kenaikan harga BBM per 1 Juli 2026 memperjelas perbedaan beban tersebut bagi pengguna transportasi sehari-hari. Pertalite, Pertamax, dan Pertamax Green 95 dipatok pada harga berikut.

Jenis BBMHarga per LiterKeterangan
PertaliteRp10.000Dipatok per 1 Juli 2026
PertamaxRp16.250Dipatok per 1 Juli 2026
Pertamax Green 95Rp17.000Dipatok per 1 Juli 2026

Di sisi lain, beberapa jenis BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax Turbo dan Dexlite, mengalami penurunan harga. Namun, tekanan biaya perjalanan tetap terasa bagi banyak pengguna kendaraan berbahan bakar minyak.

China Menunjukkan Skala Peralihan yang Lebih Cepat

Perkembangan taksi listrik di China memberi gambaran tentang arah perubahan transportasi perkotaan. Data Kementerian Transportasi China menunjukkan 3,05 miliar perjalanan taksi dan layanan ride-hailing terjadi sepanjang Mei 2026, atau naik 6% dibandingkan setahun sebelumnya.

Dari sekitar 1,3 juta armada taksi di negara tersebut, separuhnya telah beralih ke kendaraan listrik. Skala penggunaan itu menunjukkan bahwa elektrifikasi dapat berlangsung luas ketika armada dan ekosistem pendukung tumbuh bersamaan.

Platform ride-hailing Didi melaporkan 75% perjalanannya kini menggunakan kendaraan listrik atau hybrid. Biaya operasional yang lebih rendah juga ikut mendorong tarif taksi listrik menjadi lebih murah dan menarik lebih banyak pengemudi.

Infrastruktur Masih Menentukan Kecepatan Adopsi

Peluang pengembangan taksi listrik di Indonesia masih dihadapkan pada kebutuhan infrastruktur pengisian daya. Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum atau SPBKLU perlu diperluas agar operasi armada berjalan lebih efisien dan menjangkau wilayah yang lebih luas.

Harga kendaraan listrik yang masih relatif tinggi turut menjadi hambatan bagi operator. Insentif fiskal dan subsidi dari pemerintah dinilai penting untuk mempercepat penambahan armada taksi listrik.

Dalam konteks transisi energi, pemerintah juga mendorong program Biosolar B50 yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada Juli 2026. Kebijakan tersebut menandai upaya memperluas pilihan energi di sektor transportasi.

Greenpeace memperkirakan 90% perjalanan taksi dan layanan ride-hailing di China akan menggunakan kendaraan listrik pada 2035. Bagi Indonesia, penguatan infrastruktur, insentif, dan edukasi publik akan menentukan apakah taksi listrik dapat menjadi penopang mobilitas kota yang lebih hemat.

Berita Terkait