Ikan pari tidak perlu terus berenang untuk tetap berada di dasar laut. Saat berhenti bergerak, tubuhnya justru bekerja dengan sangat efisien agar tetap stabil di tempat tanpa mudah tenggelam lebih dalam.
Kemampuan itu muncul dari gabungan beberapa ciri tubuh yang saling mendukung. Rangka yang ringan, bentuk tubuh yang pipih, cara bernapas yang khusus, dan ketiadaan kantung renang membuat ikan pari sangat cocok hidup dekat dasar perairan.
Tubuh pipih membantu menjaga posisi
Salah satu alasan utama ikan pari mudah diam di dasar laut adalah bentuk tubuhnya yang lebar dan pipih. Bentuk ini membuat beban tubuh tersebar ke area yang lebih luas, sehingga ikan pari lebih stabil saat beristirahat di atas pasir atau lumpur.
Bentuk tersebut juga membantu tubuhnya tidak mudah tergeser oleh arus yang lewat dari atas. Dalam kondisi dasar laut yang lunak, struktur seperti ini membuat ikan pari lebih sulit ambles dan lebih mudah bertahan di tempat.
Rangka ringan membuat tubuh tidak terlalu padat
Ikan pari termasuk kelompok Chondrichthyes, yaitu ikan yang memiliki rangka dari tulang rawan, bukan tulang keras. Tulang rawan lebih lentur dan lebih ringan, sehingga massa tubuh ikan pari tidak sepadat ikan bertulang keras dengan ukuran yang sebanding.
Perbedaan itu penting karena tulang keras mengandung mineral kalsium fosfat dalam jumlah besar. Dengan rangka yang lebih ringan, tubuh ikan pari lebih mudah menyesuaikan posisi di air dan tidak seberat ikan lain yang hidup di kolom air.
Bernapas tetap lancar meski menempel di dasar
Saat berbaring di dasar laut, bagian bawah tubuh ikan pari bisa tertutup pasir atau lumpur. Kondisi ini berisiko menutup mulut dan bukaan insang yang berada di sisi bawah tubuh, sehingga pernapasan bisa terganggu.
Untuk mengatasinya, ikan pari memiliki sepasang spirakel di bagian atas kepala. Lewat lubang kecil itu, air masuk ke rongga insang dari atas lalu mengalir melewati insang sebelum keluar kembali, tanpa harus membuka bagian bawah tubuh.
Letak spirakel yang berada di atas kepala membuat lubang ini hampir tidak pernah tertutup pasir atau lumpur. Karena itu, pertukaran oksigen tetap berjalan normal meski tubuh ikan pari sedang diam dan sebagian tertimbun substrat dasar laut.
Tidak punya kantung renang, jadi mudah turun ke bawah
Berbeda dari banyak ikan bertulang keras, ikan pari tidak memiliki kantung renang. Organ berisi gas itu biasanya dipakai ikan lain untuk mengatur daya apung dan menjaga posisi di kolom air.
Tanpa kantung renang, tubuh ikan pari cenderung lebih berat daripada air laut di sekitarnya. Akibatnya, saat berhenti bergerak, tubuhnya akan turun ke bawah secara alami dan tetap dekat dengan dasar.
Bagi ikan pari, kondisi ini justru menguntungkan. Tubuh yang mudah turun membantu mereka tinggal di dasar laut tanpa perlu mengeluarkan energi tambahan untuk mempertahankan posisi.
Diam juga bagian dari strategi bertahan hidup
Kebiasaan ikan pari membenamkan diri di pasir atau lumpur bukan hanya soal istirahat. Perilaku ini disebut kriptosis, yaitu kemampuan menyamarkan diri agar menyatu dengan lingkungan dan sulit terdeteksi predator maupun mangsa.
Warna tubuh cokelat keabu-abuan ikut memperkuat penyamaran itu di dasar laut berpasir. Saat tubuhnya tersembunyi, ikan pari juga bisa menghemat energi karena tidak perlu terus berenang atau mencari perlindungan secara aktif.
Penghematan energi ini berkaitan dengan metabolisme, yaitu semua proses kimia dalam tubuh yang memakai energi. Energi yang tidak habis untuk bergerak bisa dialihkan untuk pemulihan sel dan pertumbuhan.
Seluruh ciri itu menunjukkan bahwa kebiasaan ikan pari “tidur” di dasar laut bukan sekadar diam. Dari rangka tulang rawan hingga spirakel di kepala, setiap bagian tubuhnya mendukung kehidupan yang stabil di habitat dasar yang sudah menjadi rumahnya selama sekitar 200 juta tahun.
