Tanpa Kasus Hantavirus, Jawa Timur Tetap Pasang Alarm Tinggi dan Siaga Satu

Jawa Timur tetap belum mencatat kasus hantavirus, tetapi pemerintah provinsi memilih tidak memberi ruang bagi kelengahan. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan kesiagaan daerah harus tetap berada di level siaga satu agar potensi ancaman kesehatan tidak diabaikan begitu saja.

Emil menilai kewaspadaan yang sudah terbangun sejak pandemi Covid-19 perlu terus dijaga. Menurut dia, situasi aman saat ini tidak boleh membuat pemerintah maupun masyarakat menurunkan perhatian terhadap penyakit yang bisa muncul kapan saja.

Hantavirus sendiri kini menjadi perhatian global. Virus dari genus Orthohantavirus itu umumnya dibawa hewan pengerat seperti tikus dan celurut, lalu dapat menular ke manusia sebagai penyakit zoonosis.

Saat dikonfirmasi wartawan di sela Rapat Paripurna di Gedung DPRD Jatim, Jalan Indrapura, Surabaya, Senin (11/5/2026), Emil mengatakan hingga kini belum ada temuan kasus hantavirus di Jawa Timur. Ia kembali mengingatkan bahwa kondisi nol kasus tidak identik dengan aman untuk selamanya.

“Tapi sekali lagi kita tidak boleh terlena,” kata Emil dalam kesempatan tersebut. Sikap waspada itu, menurut dia, harus tetap menjadi pegangan dalam menghadapi ancaman kesehatan lain di luar Covid-19.

Pemantauan dan keterbukaan jadi kunci

Emil menjelaskan bahwa sistem pengecekan sudah memiliki metodologi yang dikoordinasikan oleh Kementerian Kesehatan. Karena itu, pemerintah diminta tetap terbuka dan tidak menutup-nutupi kejadian apa pun yang muncul di publik.

Menurut dia, keterbukaan menjadi bagian penting dari pencegahan, terutama ketika sebuah penyakit zoonosis mendapat sorotan luas. Kecepatan deteksi dan konsistensi pemantauan disebut menjadi faktor penting agar status nihil kasus tetap bertahan.

Di sisi lain, Pemprov Jatim juga memanfaatkan laman media sosial resminya untuk menyebarkan pesan pencegahan. Fokus utamanya adalah mendorong masyarakat menjaga kebersihan sebagai langkah dasar untuk menekan risiko paparan.

Langkah pencegahan yang ditekankan

Imbauan yang disampaikan pemerintah provinsi mencakup kebersihan tempat tinggal dan tempat kerja. Warga juga diminta menutup lubang di dinding atau atap agar tikus tidak masuk ke area hunian.

Selain itu, makanan dianjurkan disimpan dengan rapat supaya tidak menarik perhatian hewan pengerat. Pengelolaan sampah pun diminta dilakukan dengan baik agar tidak berubah menjadi sarang tikus.

Untuk warga yang berada di area yang berisiko kontak dengan habitat hewan pengerat, Pemprov Jatim mengimbau penggunaan masker dan sarung tangan. Anjuran ini ditujukan untuk menekan kemungkinan paparan saat beraktivitas di lingkungan rawan.

Status Jawa Timur yang masih nol kasus kini membuat perhatian pemerintah tertuju pada pencegahan dini. Selama temuan belum muncul, pengawasan, edukasi publik, dan kebiasaan hidup bersih menjadi tiga hal yang terus dijaga agar kondisi tersebut tidak berubah.

Source: jatim.tribunnews.com

Berita Terkait