Target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6 persen pada 2026 masih terbuka, tetapi jalurnya dinilai tidak mudah. Bank Permata menilai pemerintah perlu menjaga belanja, mempertahankan daya beli rumah tangga, dan memperbaiki iklim investasi agar target itu semakin masuk akal.
Meski begitu, modal awal sebenarnya sudah ada. Pertumbuhan ekonomi 5,61 persen pada kuartal I 2026 memberi sinyal positif, namun angka itu belum cukup kuat untuk mendorong kinerja setahun penuh ke level 6 persen.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai laju ekonomi setelah kuartal pertama harus jauh lebih cepat. Agar target tahunan tercapai, pertumbuhan pada kuartal II, III, dan IV perlu rata-rata berada di atas 6 persen.
Artinya, ekonomi nasional harus terus mendapat dorongan yang konsisten dari banyak sisi. Jika laju pertumbuhan di sisa tahun berjalan melemah, angka awal dari kuartal I akan sulit berubah menjadi pencapaian tahunan yang lebih tinggi.
Tekanan datang dari luar negeri
Risiko dari luar negeri masih menjadi salah satu ganjalan utama. Josua menyoroti pelemahan rupiah, perlambatan ekonomi dunia, dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah sebagai faktor yang dapat menekan pertumbuhan nasional.
Ia juga menyebut perlambatan ekonomi China yang diperkirakan berada di bawah 5 persen serta ekonomi Amerika Serikat yang ikut melambat. Kondisi itu berpotensi mengurangi permintaan terhadap ekspor Indonesia dan ikut menekan aktivitas bisnis di dalam negeri.
Selain itu, risiko perang dagang global dan konflik geopolitik dapat memengaruhi stabilitas pasar keuangan. Dalam situasi seperti ini, ruang pertumbuhan menjadi lebih sempit bila respons kebijakan tidak cukup cepat.
Belanja pemerintah dan daya beli jadi kunci
Di sisi domestik, percepatan belanja pemerintah dinilai penting untuk menjaga momentum ekonomi. Josua menekankan perlunya belanja yang cepat dan tepat sasaran, terutama pada sektor yang punya efek berganda besar terhadap masyarakat.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya menjaga daya beli, khususnya di kelompok kelas menengah. Penurunan jumlah kelas menengah pada periode 2019 hingga 2024 disebut sebagai persoalan serius karena konsumsi domestik masih menjadi penopang utama ekonomi.
Jika daya beli melemah, mesin pertumbuhan dari sisi konsumsi akan ikut melambat. Pada saat yang sama, ruang untuk menggerakkan sektor lain juga menjadi lebih terbatas.
Investasi dan pasar kerja tidak boleh tertinggal
Selain konsumsi, investasi tetap menjadi penopang penting pertumbuhan. Pemerintah dinilai perlu terus memperbaiki iklim investasi dan mengatasi hambatan teknis di lapangan, termasuk melalui satgas debottlenecking.
Josua juga mengingatkan adanya tantangan struktural di pasar tenaga kerja nasional. Dominasi sektor informal membuat penguatan konsumsi dan produktivitas ekonomi tidak bisa bertumpu pada satu sumber pertumbuhan saja.
Karena itu, kualitas pertumbuhan dianggap sama pentingnya dengan besarnya angka pertumbuhan. Tanpa perbaikan di investasi dan pasar kerja, target yang tinggi akan tetap sulit dicapai secara berkelanjutan.
Proyeksi masih di bawah target, tetapi optimisme tetap dijaga
Bank Permata memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 berada di kisaran 5,1 persen hingga 5,3 persen. Proyeksi itu masih bertumpu pada permintaan domestik sebagai motor utama ekonomi nasional, meski sedikit di bawah asumsi pertumbuhan dalam APBN 2026 yang dipatok 5,4 persen.
Di tengah proyeksi yang masih konservatif itu, target 6 persen tetap dipandang penting sebagai sinyal optimisme bagi pelaku usaha dan investor. Josua menilai kepercayaan dunia usaha perlu dijaga agar aktivitas ekonomi tidak kehilangan momentum.
Ia juga menegaskan perlunya koordinasi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas makroekonomi. Pemerintah diminta menjaga daya beli dan kredibilitas APBN, Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah serta inflasi, sementara dunia usaha diharapkan tetap efisien tanpa menekan tenaga kerja secara berlebihan.
