Target CNG Tanjung Enim Dikejar Paralel, Hambatan Administrasi Masih Dibedah KSP

Proyek Mother Station CNG di Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, kini dikejar lewat dua jalur sekaligus. Pemerintah menata penyelesaian administrasi dan pengerjaan fisik di lapangan secara paralel agar target rampung tahun ini tidak meleset.

Fokus utama yang sedang dibenahi adalah penyesuaian Rencana Detail Tata Ruang atau RDTR. Langkah ini dinilai penting supaya pembangunan bisa bergerak lebih cepat dan tetap sesuai regulasi.

Hambatan Administrasi Masih Jadi Pekerjaan Rumah

Kantor Staf Kepresidenan atau KSP tengah mengawal penyelesaian hambatan administrasi proyek tersebut. Proyek Mother Station CNG di Tanjung Enim masuk daftar proyek strategis nasional, sehingga pembenahan regulasi dan koordinasi antarpihak menjadi perhatian utama.

Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman meninjau langsung perkembangan proyek itu di lapangan. Ia menyebut masih ada beberapa persoalan administrasi yang harus diselesaikan, tetapi semua pihak sudah memiliki kesepahaman atas pentingnya proyek ini bagi kepentingan bangsa dan negara.

Dudung menegaskan penyelesaian administrasi akan ditempuh lewat koordinasi intensif bersama kementerian terkait dan pemerintah daerah. Dengan cara itu, proses di atas kertas dan pekerjaan fisik bisa berjalan beriringan tanpa saling menunggu terlalu lama.

Alasan Proyek Ini Dipercepat

Pemerintah menempatkan proyek ini sebagai bagian dari upaya memperluas pemanfaatan Compressed Natural Gas atau CNG di dalam negeri. Mother Station CNG berfungsi sebagai pusat pengolahan sekaligus distribusi gas alam untuk mendukung infrastruktur energi nasional.

Sumatera Selatan dipilih sebagai lokasi pengembangan karena wilayah ini memiliki cadangan sumber daya energi yang besar. Potensi gas bumi dan batu bara di provinsi tersebut dinilai membuatnya memegang posisi penting dalam penguatan sektor energi nasional.

Dudung menyebut manfaat yang paling dominan dari proyek ini adalah terbukanya kesempatan kerja dan penguatan ketahanan energi nasional. Dua hal itu menjadi alasan utama mengapa pengembangan infrastruktur gas domestik perlu dipercepat.

Dukungan dari PGN dan Pengembangan Lain

Direktur Utama PGN Arief K. Risdianto mengapresiasi langkah KSP dalam mengawal optimalisasi pemanfaatan gas domestik. Menurut dia, proyek ini sejalan dengan kebutuhan energi nasional dan memperkuat peran gas dalam sistem pasokan energi di dalam negeri.

Arief menjelaskan, proyek yang dikawal itu tidak hanya mencakup Mother Station CNG, tetapi juga pengembangan Coalbed Methane atau CBM Tanjung Enim. Selain itu, ada pembangunan infrastruktur penyaluran gas di Pagardewa yang menjadi bagian dari rangkaian pengembangan tersebut.

PGN menyatakan siap menjalankan peran sebagai penghubung antara potensi pasokan gas domestik dan kebutuhan energi nasional. Perusahaan juga menegaskan komitmen untuk memberi manfaat bagi masyarakat serta berkontribusi pada perekonomian daerah melalui pengalaman dan infrastruktur yang dimiliki sebagai Subholding Gas Pertamina.

Dengan pengawalan dari KSP dan dukungan PGN, proyek Mother Station CNG di Tanjung Enim kini diarahkan agar hambatan administratif tidak menghambat progres fisik di lapangan. Pemerintah berharap percepatan ini bisa menjaga target penyelesaian tetap berada di jalur yang sudah ditetapkan tahun ini.

Berita Terkait