TCL justru tampil sebagai penantang paling agresif di awal Q1 2026. Pengiriman TV perusahaan itu melonjak 22% secara tahunan, jauh di atas pertumbuhan pasar global yang hanya 3%, sehingga jarak dengan pemimpin pasar kini terasa makin sempit.
Samsung memang masih bertahan di posisi teratas, tetapi laju pertumbuhannya mulai mendapat tekanan dari bawah. Counterpoint Research mencatat pengiriman TV Samsung naik 8% secara tahunan, sebuah capaian yang kuat untuk awal tahun, namun belum cukup membuat posisinya terasa aman.
Persaingan bergeser ke teknologi layar
Di tengah perebutan pasar, arah kompetisi tidak lagi bertumpu pada angka pengiriman semata. TCL dan Hisense disebut semakin agresif mendorong MiniLED, sementara LG memperluas penawaran OLED yang lebih terjangkau.
Peta ini membuat Samsung harus bergerak hati-hati. Perusahaan tidak hanya dituntut menjaga citra premium, tetapi juga harus merespons tekanan dari sisi harga dan inovasi produk yang datang dari para pesaingnya.
Samsung mendapat dorongan dari OLED, tetapi volumenya belum besar
Kinerja Samsung pada awal tahun ini termasuk yang paling solid dalam hampir dua tahun. Pendorong utamanya datang dari segmen OLED, terutama tingginya permintaan terhadap TV W-OLED Samsung.
Meski begitu, kontribusi OLED terhadap total pengiriman TV Samsung masih relatif kecil. Artinya, pertumbuhan yang terlihat kuat belum sepenuhnya mengubah struktur volume perusahaan secara keseluruhan.
Kondisi itu membuat Samsung berada dalam posisi yang menarik sekaligus rumit. Di satu sisi, perusahaan berhasil menangkap minat konsumen pada produk premium, tetapi di sisi lain basis pertumbuhan masih bertumpu pada kategori yang belum dominan.
Harga mulai menjadi alat pertahanan
Untuk menjaga daya saing, Samsung mulai memakai strategi harga yang lebih agresif. Lini produknya dibagi ke beberapa tingkatan, termasuk model premium R95H dan opsi yang lebih terjangkau seperti R85H.
Pendekatan ini menunjukkan upaya Samsung menjangkau konsumen di lebih banyak kelas pasar. Langkah tersebut juga penting karena persaingan kini tidak berhenti di segmen entry-level, melainkan sudah merambah kategori premium dan teknologi mutakhir.
Samsung juga mendorong TV RGB MiniLED 55 inci ke harga di bawah $2,000. Dengan banderol seperti itu, teknologi kelas atas menjadi lebih mudah dijangkau dan persaingan bergeser dari sekadar fitur ke nilai yang diterima konsumen.
Q2 2026 diperkirakan lebih panas
Tekanan terhadap Samsung belum terlihat mereda dalam waktu dekat. Q2 2026 diperkirakan menjadi periode yang lebih ketat karena TCL dan Hisense terus memperkuat MiniLED, sementara LG berupaya memperluas jangkauan OLED lewat model yang lebih murah.
Di sisi internal, Samsung juga memasuki fase baru dengan pemimpin baru untuk divisi Visual Display. Perubahan ini mengarah pada strategi yang lebih berfokus pada platform, di saat para pesaing juga mulai mengeksplorasi kemitraan dan joint venture.
Jika tren itu berlanjut, persaingan pasar TV bisa semakin bergeser dari adu perangkat keras ke perebutan ekosistem, skala, dan model bisnis yang lebih luas. Untuk saat ini, Samsung masih memimpin, tetapi lonjakan TCL membuat posisi puncak itu jauh lebih rentan dibanding sebelumnya.
Source: sammyguru.com





