TECNO meluncurkan inisiatif global “100 Portraits of Becoming” untuk menantang bias AI dalam membaca wajah dan warna kulit. Program ini menempatkan representasi manusia yang lebih adil sebagai tujuan utama, di tengah kritik bahwa sistem pencitraan digital masih kerap gagal menangkap keragaman secara akurat.
Proyek tersebut diumumkan pada 4 Juli 2026 di Nairobi, Kenya, dan akan berjalan selama dua tahun. Setelah Kenya, program ini akan diperluas ke Filipina, Arab Saudi, Türkiye, dan Brasil.
Arsip hidup berisi 100 kisah manusia
Inti dari proyek ini adalah pembangunan arsip digital hidup yang memuat 100 potret dan kisah pribadi dari orang-orang dengan latar belakang beragam. TECNO memadukan fotografi, penceritaan, dan teknologi pencitraan berbasis AI untuk membahas identitas, martabat, dan representasi dengan pendekatan yang lebih manusiawi.
Setiap peserta akan difoto dalam cahaya alami tanpa filter kecantikan. Mereka juga bebas memilih pakaian sendiri agar potret yang dihasilkan tetap autentik dan tidak diseragamkan oleh estetika visual yang terlalu dipoles.
Selain foto, setiap potret akan disertai cerita tentang perjalanan hidup, pengaruh budaya, pengalaman bertumbuh, dan momen yang membentuk identitas mereka. Seluruh materi itu akan disimpan dalam Living Archive daring yang dirancang untuk memicu diskusi tentang identitas, representasi, martabat, dan etika AI.
| Elemen Proyek | Rincian | Keterangan |
|---|---|---|
| Nama inisiatif | 100 Portraits of Becoming | Fokus pada representasi manusia yang lebih adil |
| Jumlah potret | 100 | Disertai kisah pribadi masing-masing peserta |
| Wilayah pelaksanaan | Kenya, Filipina, Arab Saudi, Türkiye, Brasil | Berjalan selama dua tahun |
Universal Tone jadi senjata TECNO
Seluruh potret dalam proyek ini diambil menggunakan TECNO CAMON 50 Ultra yang dibekali teknologi Universal Tone. Sistem pencitraan ini diperkenalkan pada 2023 dan memakai pencitraan warna kulit spektrum penuh berbasis AI.
TECNO menyebut Universal Tone mendukung reproduksi akurat terhadap 372 warna kulit dengan memanfaatkan salah satu basis data warna kulit terbesar di industri. Tujuannya adalah menghasilkan foto potret yang lebih alami dan mengurangi masalah wajah yang terlalu cerah atau kurang pencahayaan pada berbagai jenis kulit.
Dengan pendekatan itu, teknologi diposisikan bukan sebagai alat yang memaksa wajah masuk ke standar visual tertentu, melainkan sebagai koreksi atas bias yang sudah lama muncul dalam kamera digital dan sistem AI.
Kenya dipilih sebagai titik awal
Kenya menjadi lokasi pertama karena memiliki populasi muda, ekosistem teknologi yang berkembang, dan reputasi sebagai “Silicon Savannah”. Pilihan ini juga memperlihatkan bahwa percakapan tentang AI dan identitas tidak hanya relevan di pusat teknologi global, tetapi juga di kawasan yang sedang tumbuh cepat.
Potret pertama menampilkan wirausahawan, petani, seniman, penari, dan kreator sehari-hari. Salah satu peserta awal adalah Alexander Odhiambo, salah satu pendiri Solutech Limited, yang menilai setiap orang seharusnya bebas menulis kisahnya sendiri.
Angélica Dass memberi landasan artistik
TECNO menggandeng seniman visual Brasil-Spanyol, Angélica Dass, untuk proyek ini. Ia dikenal melalui Humanæ, proyek potret yang menantang gagasan tradisional tentang ras dengan menampilkan warna kulit sebagai spektrum berkelanjutan, bukan kategori yang kaku.
Dass berpendapat bahwa fotografi seharusnya memberi ruang bagi seseorang untuk menyampaikan kisahnya sendiri. Ia juga menekankan bahwa terlihat belum tentu berarti benar-benar dipahami, sebuah pandangan yang selaras dengan tujuan proyek ini.
Karyanya pernah tampil di institusi global seperti UNESCO dan World Economic Forum, sementara TED Talk miliknya pada 2016 telah ditonton lebih dari dua juta kali. Kehadirannya memberi bobot artistik sekaligus etis pada upaya TECNO menampilkan manusia sebagai pribadi utuh, bukan sekadar objek visual.
General Manager TECNO, Jack Guo, mengatakan bahwa setiap gambar ikut membentuk persepsi publik. Karena itu, representasi yang adil dinilai makin penting saat AI semakin besar perannya dalam cara manusia dilihat dan dipahami.
Koleksi potret pertama dijadwalkan hadir secara online pada awal Agustus 2026. Bagi TECNO, arsip ini menjadi cara untuk menunjukkan bahwa teknologi dapat membantu manusia bukan hanya terlihat, tetapi juga dipahami.
