Teheran Ancam Naikkan Pengayaan Uranium Ke 90 Persen, Hormuz Makin Genting

Author: Redaksi Android62

Selat Hormuz kembali menjadi titik yang paling menyita perhatian ketika Iran mengirim sinyal bahwa eskalasi berikutnya bisa menyentuh program nuklirnya. Teheran menyebut akan mempertimbangkan pengayaan uranium hingga 90 persen bila Amerika Serikat dan Israel kembali menyerang wilayahnya.

Pernyataan itu langsung memperberat suasana yang memang sudah tegang. Jalur diplomasi tampak rapuh, sementara setiap langkah baru dari Teheran maupun Washington berpotensi memicu dampak yang lebih luas di kawasan dan pasar energi global.

Tekanan baru di parlemen Iran

Juru bicara Komite Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, menyatakan opsi tersebut akan dibahas di parlemen. Dalam unggahannya di platform X, ia menulis, “Kami akan meninjaunya di parlemen,” seperti dikutip Anadolu Agency.

Nada ancaman itu muncul di tengah situasi kawasan yang belum stabil setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan itu kemudian dibalas Teheran ke Israel dan sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk, yang berujung pada penutupan Selat Hormuz.

Diplomasi yang belum memberi kepastian

Upaya meredakan konflik memang sudah berjalan, tetapi belum menghasilkan hasil yang solid. Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan, namun perundingan di Islamabad tidak berujung pada kesepakatan permanen.

Presiden AS Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata itu tanpa batas waktu yang jelas. Di saat yang sama, Iran juga menyampaikan tanggapan kepada Pakistan terkait proposal AS untuk mengakhiri perang pada Minggu, tetapi jawaban itu langsung ditolak Trump.

Washington dan Teheran masih saling menekan

Trump menyebut jawaban Iran sepenuhnya tidak dapat diterima. Ia juga mengatakan gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi “kritis” dan mempertimbangkan pengerahan kembali pengawalan militer Angkatan Laut AS bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Langkah itu dimaksudkan untuk mengakhiri blokade Iran di jalur laut strategis tersebut. Dalam pernyataan yang dikutip The Guardian, Trump menggambarkan situasi itu dengan istilah yang sangat keras dan menegaskan dirinya tidak berada di bawah tekanan politik dalam negeri untuk segera mencapai kesepakatan.

Program nuklir kembali jadi pusat krisis

Pekan lalu, Washington mengirim serangkaian syarat kepada Iran untuk meredakan konflik. Sebagian besar syarat itu berkaitan dengan upaya mencegah Teheran memperluas program nuklirnya, yang kembali menjadi sumber utama kekhawatiran internasional.

Trump juga sempat menghentikan Project Freedom setelah berjalan kurang dari dua hari pekan lalu. Ia menyebut langkah itu dilakukan untuk memberi waktu bagi Iran merespons proposal damai dari Washington.

Ancaman Iran untuk menaikkan pengayaan uranium hingga 90 persen kini membuat posisi negosiasi semakin berat. Isu nuklir pun kembali berada di pusat krisis, di saat Israel, AS, dan Iran masih saling menguji batas.

Hormuz tetap jadi titik paling rawan

Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena jalur itu sangat strategis bagi lalu lintas kapal dan energi. Jika ketegangan kembali naik, pengawalan militer, blokade, dan balasan baru dapat membuat situasi kawasan bergerak lebih cepat daripada proses diplomasi.

Karena itu, setiap keputusan di Teheran maupun Washington membawa dampak yang luas. Dalam kondisi seperti ini, ancaman pengayaan uranium 90 persen bukan hanya pernyataan keras, tetapi juga tanda bahwa konflik belum benar-benar menjauh dari fase paling berbahaya.

Source: www.viva.co.id
Berita Terbaru