Tekanan AS Ke Minyak Iran Meningkat, Risiko Lonjakan Harga Makin Nyata

Author: Redaksi Android62

Harga minyak dunia kembali berada dalam posisi rapuh setelah Amerika Serikat memperketat sanksi terhadap jaringan minyak Iran dan arus aset digital yang diduga terkait Teheran. Di saat yang sama, gangguan di Selat Hormuz ikut menambah kekhawatiran pasar atas pasokan energi global.

Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi baru pada Selasa (14/7/2026) di tengah memanasnya hubungan Washington dan Teheran. Paket itu menargetkan jaringan pelayaran yang dikendalikan Mohammad Hossein Shamkhani, sosok yang disebut menjadi salah satu penggerak ekspor minyak Iran.

Jaringan Pelayaran dan Perdagangan Iran Jadi Sasaran

Menurut Departemen Keuangan AS, jaringan Shamkhani tidak hanya bergerak di sektor minyak, tetapi juga berkembang ke pengiriman peti kemas dan perdagangan komoditas global. Dalam paket terbaru ini, lebih dari 50 individu, perusahaan, dan kapal ikut dikenai sanksi karena dinilai membantu Iran memperoleh pendapatan dari penjualan minyak.

Dengan langkah tersebut, AS kini telah menjatuhkan sanksi kepada lebih dari 200 individu, entitas, dan kapal yang terkait dengan jaringan itu. Pemerintah AS menyebut jaringan tersebut selama bertahun-tahun memakai perusahaan cangkang, armada kapal tanker, dan perusahaan logistik di berbagai negara untuk menghindari sanksi internasional.

Fokus Sanksi Rincian Skala
Jaringan pelayaran Shamkhani Diduga membantu ekspor minyak Iran dan perdagangan komoditas Lebih dari 50 individu, perusahaan, dan kapal
Sanksi kumulatif AS Keterkaitan dengan jaringan Shamkhani Lebih dari 200 individu, entitas, dan kapal
Aset digital Iran Diduga terkait Bank Sentral Iran Lebih dari US$ 130 juta dibekukan

Aset Digital Iran Ikut Dibekukan

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan lebih dari US$ 130 juta aset digital dibekukan karena diduga terkait dengan Bank Sentral Iran. Ia menilai jalur keuangan digital semakin penting bagi Iran ketika konflik kembali memanas.

Dalam unggahan di akun X, Bessent menulis, “Kami akan terus secara agresif mengikuti aliran dana tersebut dan menolak akses rezim Iran terhadap hasil dari skema pendapatan ilegalnya,” dikutip dari TRT World. Pernyataan itu menegaskan bahwa Washington kini tidak hanya membidik kapal dan minyak, tetapi juga arus uang digital.

Selama bertahun-tahun, Iran menghadapi sanksi ekonomi dari Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Kondisi itu membuat banyak pelaku usaha di negara tersebut memanfaatkan cryptocurrency sebagai jalur alternatif untuk pembayaran lintas negara dan menjaga aktivitas perdagangan.

Selat Hormuz Menjadi Titik Paling Rawan

Tekanan baru dari Washington datang ketika militer AS terus melancarkan serangan terhadap Iran selama empat hari berturut-turut dan mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Pada saat yang sama, Iran juga disebut terus mengganggu pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Selat Hormuz memegang peran penting dalam pasokan energi dunia. Sebelum konflik terbaru pecah, sekitar 20% perdagangan minyak mentah dunia yang diangkut melalui laut melewati jalur sempit tersebut setiap hari.

Sejumlah kapal tanker dilaporkan mengalami gangguan operasional, sementara perusahaan pelayaran mulai menaikkan biaya pengiriman akibat tingginya risiko keamanan. Karena itu, setiap gangguan di kawasan tersebut langsung memukul sentimen pasar energi global.

Pasar Mulai Menghitung Risiko Lonjakan Harga

Iran memiliki sekitar 209 miliar barel cadangan minyak mentah terbukti, salah satu yang terbesar di dunia. Besarnya cadangan itu membuat setiap hambatan pada produksi dan ekspor Iran berpotensi memengaruhi keseimbangan pasokan energi internasional.

Kekhawatiran pasar sudah terlihat ketika harga minyak Brent sempat naik hingga sekitar US$ 87 per barel, level tertinggi dalam beberapa waktu terakhir, setelah AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran dan memperketat tekanan terhadap sektor energinya.

Jika ekspor minyak Iran terus terhambat dan ketidakpastian di Selat Hormuz berlanjut, harga minyak mentah dinilai berpotensi menembus US$ 100 per barel atau lebih tinggi. Dampaknya tidak hanya pada energi, tetapi juga biaya logistik, inflasi, dan tekanan yang lebih luas terhadap perekonomian dunia.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru