Tekanan di Balik Whoosh Makin Berat, Nilai Investasi KAI Kini Tersisa Rp3,24 Triliun

Author: Redaksi Android62

Beban keuangan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh kini semakin terasa di laporan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Hingga akhir 2025, nilai investasi KAI di proyek tersebut menyusut Rp4,48 triliun dan menyisakan saldo hanya Rp3,24 triliun.

Penurunan itu terjadi setelah KAI sempat menambah setoran Rp2,7 triliun pada 2024, yang membuat saldo investasi perusahaan mencapai Rp7,72 triliun. Namun, kerugian yang terus membesar di konsorsium pengendali proyek membuat nilai tersebut kembali terkikis tajam.

Kerugian PSBI terus menekan laporan keuangan

Tekanan utama datang dari PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), konsorsium pengendali proyek yang dimiliki KAI sebesar 58,53% saham. PSBI menjadi kendaraan investasi Danantara untuk menyalurkan pinjaman ke operator Whoosh, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

Dalam laporan keuangan KAI, rugi investasi di PSBI tercatat Rp2,22 triliun pada 2024 dan meningkat menjadi Rp2,92 triliun pada 2025. Bloomberg Technoz melaporkan bahwa kondisi ini menunjukkan beban proyek belum mereda, melainkan justru terus menekan posisi keuangan KAI.

Cadangan penurunan nilai ikut dibentuk

Menghadapi pelemahan tersebut, manajemen KAI membentuk cadangan penurunan nilai investasi atau impairment sekitar Rp1,55 triliun. Langkah ini menandakan risiko finansial proyek cepat itu kini sudah tercermin langsung dalam pembukuan perseroan.

Di sisi lain, saldo piutang KAI di PSBI hingga akhir 2025 menembus Rp10,41 triliun. Dari jumlah itu, piutang tidak lancar mendominasi dengan porsi Rp9,16 triliun.

Beban utang dan kurs ikut membengkak

PSBI mencatat kerugian akumulatif Rp4,98 triliun sepanjang 2025, naik 18,89% dari rugi tahun sebelumnya yang sebesar Rp4,19 triliun. Lonjakan ini terutama dipicu beban bunga utang yang besar kepada China Development Bank (CDB) dan selisih kurs.

KAI memiliki keterikatan pinjaman dengan CDB melalui dua skema. Fasilitas A bernilai US$325,62 juta dalam dolar AS, sedangkan fasilitas B berbentuk renminbi setara US$217,08 juta.

Bunga pinjaman tersebut masing-masing sebesar 3,2% per tahun untuk fasilitas dolar AS dan 3,1% per tahun untuk pinjaman renminbi. Biaya ini menambah tekanan pada struktur keuangan PSBI yang sudah rapuh akibat pembengkakan biaya atau cost overrun proyek.

Struktur keuangan PSBI kian melemah

Dampak lanjutan terlihat pada ekuitas PSBI yang anjlok 64,2% dari Rp14,26 triliun pada 2023 menjadi Rp5,1 triliun pada akhir 2025. Pada saat yang sama, rasio liabilitas terhadap aset naik hingga 79,8%.

Rangkaian angka tersebut menunjukkan bahwa investasi KAI di Whoosh belum memperlihatkan ruang pemulihan dalam waktu dekat. Selama beban utang, selisih kurs, dan pelemahan ekuitas masih menekan, risiko keuangan proyek itu kemungkinan tetap membayangi laporan KAI dan PSBI.

Berita Terbaru