IHSG masih berada di bawah tekanan, tetapi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tetap melihat ruang kenaikan yang besar. Ia menilai indeks saham acuan itu masih bisa menembus level 10.000 pada tahun ini selama fondasi ekonomi nasional tetap terjaga kuat.
Pernyataan itu muncul di tengah situasi pasar yang belum stabil. Meski indeks sempat melemah tajam, Purbaya menegaskan bahwa gerak IHSG tidak bisa dijadikan ukuran langsung untuk menilai kondisi ekonomi Indonesia.
Fondasi ekonomi jadi perhatian utama
Purbaya menempatkan kekuatan ekonomi nasional sebagai faktor penentu arah pasar saham. Menurut dia, pemerintah tidak perlu sibuk mengawal pergerakan indeks setiap hari, selama kinerja ekonomi tetap solid.
“Kalau ekonominya bagus, nanti (IHSG) naik cepat. Makanya fokus saya adalah jaga itu (ekonomi), bukan jaga IHSG,” kata Purbaya dilansir Antara, Sabtu, 25 April 2026.
Pandangan itu menunjukkan bahwa IHSG diposisikan sebagai cerminan dari kesehatan ekonomi, bukan penentu utamanya. Karena itu, penguatan pasar saham dinilai akan mengikuti perbaikan fundamental jika aktivitas ekonomi nasional terus bergerak positif.
Tekanan pasar masih terasa
Di sisi lain, pasar saham belum lepas dari tekanan. Pada perdagangan Jumat sore, IHSG ditutup turun 249,12 poin atau 3,38 persen ke level 7.129,49.
Indeks LQ45 juga ikut terkoreksi 25,12 poin atau 3,51 persen menjadi 690,76. Kondisi ini memperlihatkan pelemahan yang cukup merata di bursa, bukan hanya pada saham tertentu.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menyebut pelemahan pasar salah satunya dipicu kekhawatiran soal pasokan energi global. Selain itu, pelaku pasar juga menunggu hasil sidang Federal Open Market Committee atau FOMC Meeting dari The Fed.
Sikap investor masih menunggu kepastian
Pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat masih akan mempertahankan suku bunga acuan di level 3,53-3,75 persen. Di saat yang sama, deretan data ekonomi AS turut dipantau karena dapat mengubah sentimen investor global.
Sejumlah rilis yang ditunggu mencakup consumer confidence, data perumahan, Produk Domestik Bruto atau PDB kuartal I-2026, personal income, personal spending, indeks PCE prices, hingga ISM manufacturing index. Seluruh data itu biasanya dipakai pelaku pasar untuk membaca arah kebijakan dan tingkat risiko aset berisiko.
Tekanan dari dalam negeri ikut menambah beban
Selain faktor eksternal, pasar domestik juga menerima sentimen kurang mendukung. IHSG ikut tertekan setelah Fitch Ratings menurunkan outlook kredit empat bank besar di Indonesia, yakni Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Bank Central Asia, dan Bank Negara Indonesia, dari stabil menjadi negatif.
Langkah tersebut membuat investor lebih berhati-hati terhadap saham perbankan besar yang selama ini memiliki bobot penting dalam pergerakan indeks. Saat saham-saham berkapitalisasi besar melemah, IHSG biasanya lebih mudah terkoreksi dalam waktu singkat.
Seluruh sektor kompak melemah
Pelemahan pasar terlihat luas karena seluruh 11 sektor dalam Indeks Sektoral IDX-IC ikut masuk zona merah. Sektor barang konsumen non primer mencatat penurunan terdalam sebesar 4,14 persen, disusul sektor infrastruktur yang turun 4,03 persen serta sektor barang energi yang terkoreksi 3,82 persen.
Kondisi itu menegaskan bahwa tekanan yang terjadi bukan berasal dari satu sumber saja. Pasar bergerak dalam kombinasi sentimen global dan domestik, sementara arah ke depan masih sangat dipengaruhi oleh cepat atau lambatnya kepercayaan investor kembali pulih.
Di tengah situasi tersebut, pasar juga mencermati langkah pemerintah dalam menjaga pasokan energi, termasuk pengamanan 150 juta barel minyak Rusia sebagai bagian dari strategi energi nasional. Langkah itu ditempuh untuk melindungi stok minyak mentah di tengah konflik di kawasan Timur Tengah yang ikut memengaruhi persepsi risiko global.
Source: www.medcom.id






