Tekanan Rupiah Makin Berat, Rp18.000 Jadi Ambang Terdekat Sebelum Rp22.000

Author: Redaksi Android62

Skenario rupiah menembus Rp 18.000 kembali mengemuka setelah pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi melihat pelemahan masih mungkin berlanjut dalam waktu dekat. Jika tekanan pasar tidak mereda, level itu disebut menjadi pintu awal menuju Rp 22.000.

Sorotan utamanya bukan hanya pada angka psikologis tersebut, melainkan pada kondisi pasar yang masih belum ramah bagi rupiah. Ketidakpastian geopolitik global dan penguatan dolar Amerika Serikat terus menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Menurut Ibrahim, arah rupiah saat ini masih sangat dipengaruhi faktor dari luar negeri. Selama ketegangan geopolitik belum turun dan dolar AS tetap kuat, ruang untuk pemulihan rupiah dinilai semakin sempit.

Ia menilai level Rp 18.000 menjadi batas terdekat yang perlu dicermati pasar. Bila ambang itu terlewati, pelemahan lanjutan ke Rp 22.000 dinilai terbuka lebar.

“Dalam perdagangan di bulan Mei ini kemungkinan besar Rp 18 ribu akan tembus. Saya kalau seandainya Rp 18 ribu tembus di bulan Mei ini ada kemungkinan besar rupiah itu akan menembus level Rp 22 ribu,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (15/5/2026).

Pernyataan itu menempatkan Rp 22.000 sebagai kelanjutan dari tekanan yang sudah berjalan, bukan lonjakan yang berdiri sendiri. Karena itu, pergerakan rupiah dalam periode dekat menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Respons kebijakan jadi penentu

Di tengah tekanan yang datang dari luar, Ibrahim menilai penahan pelemahan rupiah hanya bisa datang dari kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia. Salah satu opsi yang dinilai paling mungkin adalah kenaikan BI Rate.

Ia memperkirakan kenaikan suku bunga acuan itu dapat berada di kisaran 25 basis poin hingga 50 basis poin. Langkah tersebut dipandang sebagai upaya untuk menstabilkan rupiah saat tekanan masih berlangsung.

Namun, kebijakan itu membawa konsekuensi. Jika BI Rate naik, daya beli masyarakat bisa ikut tertekan dan pertumbuhan ekonomi berpotensi melambat.

Ibrahim menyebut keputusan Bank Indonesia tidak mudah karena ada dua kepentingan yang harus dijaga sekaligus. Menahan suku bunga dapat membuat rupiah makin tertekan, sedangkan menaikkannya berisiko mengurangi konsumsi dan aktivitas ekonomi.

“Memang ya dalam kondisi saat ini sangat sulit Bank Indonesia apakah tetap mempertahankan suku bunga atau menaikkan suku bunga. Tapi ada kemungkinan besar dalam bulan Mei ini pertemuan Bank Sentral Indonesia akan menaikkan suku bunga tujuannya adalah untuk menestabilkan mata uang rupiah,” imbuhnya.

Fundamental domestik masih memberi penyangga

Meski sentimen eksternal belum bersahabat, Ibrahim masih melihat fondasi ekonomi Indonesia cukup kuat. Ia menyoroti sekitar 90 persen obligasi yang dibeli oleh investor domestik sebagai salah satu penopang pasar keuangan.

Kondisi itu memberi bantalan saat gejolak global meningkat. Tetapi kekuatan domestik tersebut belum cukup untuk sepenuhnya menghapus tekanan dari dolar AS dan ketegangan geopolitik dunia.

Dengan kombinasi itu, rupiah diperkirakan tetap bergerak hati-hati dalam waktu dekat. Arah pergerakan mata uang ini akan sangat ditentukan oleh seberapa lama tekanan eksternal bertahan dan seberapa cepat respons kebijakan domestik hadir.

Source: www.suara.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru