Tekanan Rupiah Mulai Menekan Harga Mobil, Indomobil Masih Kaji Penyesuaian

Author: Redaksi Android62

Pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp17.400 per dolar AS membuat pelaku otomotif mulai bersiap menghadapi tekanan biaya yang lebih berat. Indomobil Group pun membuka peluang menaikkan harga mobil baru bila kondisi nilai tukar yang tertekan ini berlangsung lebih lama.

Tekanan itu tidak hanya datang dari kurs, tetapi juga dari ongkos impor dan logistik yang ikut meningkat. Dalam situasi seperti ini, ruang untuk mempertahankan harga lama di pasar domestik menjadi semakin sempit.

Chief Executive Officer PT Indomobil National Distributor Tan Kim Piauw menyebut dampak pelemahan rupiah sudah terasa dalam struktur biaya perusahaan. Perubahan nilai tukar membuat sejumlah komponen biaya ikut bergerak naik dan memberi tekanan tambahan pada bisnis otomotif.

Menurut Kim, kenaikan biaya pengiriman dari luar negeri ke Indonesia juga menjadi salah satu faktor yang memperberat beban. Selain itu, pengaturan jadwal distribusi dari luar negeri disebut semakin sulit dilakukan ketika nilai tukar bergerak tidak stabil.

Harga mobil ikut bergantung pada pergerakan kurs

Bagi Indomobil, tekanan dari mata uang asing terhadap rupiah menambah risiko yang harus dihadapi dalam penjualan kendaraan. Jika kondisi ini bertahan dalam waktu panjang, harga mobil berpotensi menyesuaikan beban biaya yang meningkat.

Namun, perusahaan belum mengambil keputusan resmi untuk menaikkan harga. Indomobil masih memilih bersikap wait and see sambil berdiskusi dengan prinsipal dan memantau arah kebijakan pemerintah.

Kim mengatakan pembahasan dengan prinsipal masih berjalan karena situasi pasar belum stabil. Perusahaan juga terus mencermati pergerakan nilai tukar yang belakangan bergerak dinamis.

Harga lama makin sulit dipertahankan

Pelemahan rupiah tidak berhenti pada biaya pembelian komponen atau unit impor. Dampaknya merembet ke logistik, sehingga kemampuan produsen untuk mempertahankan harga jual lama ikut tertekan.

Dalam kondisi seperti itu, opsi penyesuaian harga disebut semakin sulit dihindari bila rupiah terus berada di bawah tekanan. Meski begitu, langkah tersebut tetap belum diputuskan dan masih menunggu perkembangan berikutnya.

Di tengah tekanan tersebut, rupiah pada perdagangan Rabu (6/5) pagi berada di level Rp17.390 per dolar AS. Mata uang Garuda tercatat menguat 34 poin atau 0,19 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pergerakan kurs yang masih fluktuatif membuat industri otomotif tetap waspada. Perubahan nilai tukar yang cepat dapat langsung memengaruhi harga jual kendaraan, sehingga pasar masih perlu dipantau sebelum penyesuaian harga diputuskan.

Source: www.cnnindonesia.com
Berita Terbaru