Teknologi DM dari BYD datang ke Indonesia dengan janji yang langsung menarik perhatian: jarak tempuh total lebih dari 1.800 kilometer sekali isi. Klaim itu membuat teknologi ini diposisikan sebagai jawaban untuk pengendara yang masih khawatir soal jarak tempuh, terutama saat harus menempuh perjalanan jauh atau ketika fasilitas pengisian daya belum merata.
BYD menempatkan DM, atau Dual Mode, sebagai jembatan antara mobil listrik murni dan hybrid. Dalam penggunaan harian, sistem ini tetap mengutamakan tenaga listrik agar terasa senyap dan efisien, namun tetap memberi fleksibilitas saat kebutuhan perjalanan berubah.
Bukan sekadar listrik murni
Pendekatan itu membuat DM relevan untuk dua kebutuhan sekaligus. Di area perkotaan, kendaraan bisa berjalan dengan prioritas tenaga listrik, sementara saat keluar kota sistem akan mengombinasikan mesin bensin dan motor listrik secara otomatis.
Pola kerja tersebut dirancang untuk mengurangi kekhawatiran pengendara terhadap jarak tempuh. BYD melihat ini sebagai solusi yang lebih pas untuk pasar Indonesia, terutama ketika daya beli masyarakat dan kebutuhan mobilitas harian perlu dipertemukan dalam satu teknologi.
Tiga pendekatan dalam DM
Teknologi Dual Mode BYD hadir dalam tiga karakter. DM-i atau Intelligent difokuskan pada efisiensi berkendara harian yang halus, DM-p atau Powerful menonjolkan akselerasi dan performa dinamis, sedangkan DMO atau Off-road disiapkan untuk medan berat.
BYD juga menyebut hasil pengujian internal yang menunjukkan konsumsi bahan bakar hingga 65 km/liter. Angka itu diklaim 60% lebih irit dibanding mobil bensin 1.500 cc konvensional.
Dukungan dari pengalaman global
Kehadiran DM ke Indonesia tidak datang dari ruang kosong. BYD sudah memiliki pengalaman panjang di teknologi plug-in hybrid electric vehicle atau PHEV, dengan penjualan kumulatif lebih dari 7 juta unit di seluruh dunia.
Teknologi Dual Mode juga terus berevolusi dari DM 1.0 pada 2008 hingga DM 5.0 yang berbasis electric-first. Di tingkat global, BYD mencatat penjualan 4,6 juta unit kendaraan energi baru atau NEV pada 2025, sementara total penjualan globalnya sudah menembus lebih dari 16 juta unit.
Indonesia jadi pasar yang semakin terbuka
Masuknya DM terjadi di tengah pasar kendaraan listrik nasional yang tumbuh cepat. Data GAIKINDO menunjukkan pangsa pasar kendaraan listrik naik dari kurang dari 1% pada 2022 menjadi hingga 20% pada kuartal pertama 2026.
BYD dan sub-brand premiumnya, DENZA, juga sudah membukukan hampir 20.000 unit kendaraan di Indonesia hingga April 2026. Jumlah itu naik sekitar 53% dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan setara dengan penguasaan 40% pangsa pasar EV nasional.
Secara total, sekitar 90.000 unit mobil BYD telah mengaspal di Indonesia. Pertumbuhan itu ikut ditopang model seperti MPV listrik BYD M6 yang diluncurkan sejak 2024, di tengah pasar mobil konvensional yang masih dominan di angka 65%.
Didorong untuk jadi solusi transisi
Liu Xueliang, Vice President of BYD Co., Ltd. dan General Manager of BYD Asia Pacific Auto Sales Division, mengatakan teknologi ini ingin menghadirkan solusi transisi energi yang lebih fleksibel, efisien, dan mudah diakses masyarakat luas, termasuk di Indonesia. Eagle Zhao, President Director PT BYD Motor Indonesia, juga menyebut kehadiran Dual Mode sebagai pembuka babak baru pasar NEV.
BYD menyebut Dual Mode sebagai bagian dari percepatan kendaraan energi baru atau NEV di Indonesia. Seluruh keunggulan itu dirangkum dalam filosofi G.A.S.S., yaitu Gesit, Andal, Senyap, dan Super Irit, yang ditujukan untuk kebutuhan harian di kota, tol, hingga jalur dengan kondisi jalan yang beragam.
