Tentara AS Didakwa Pengaruhi Taruhan Venezuela Lewat Informasi Rahasia, Untungnya Hanya Ratusan Dolar

Seorang tentara Angkatan Darat Amerika Serikat didakwa setelah diduga memakai informasi rahasia untuk mengambil untung dari taruhan di Polymarket. Dalam perkara ini, Gannon Ken Van Dyke disebut memanfaatkan akses internal terkait operasi militer yang berhubungan dengan upaya menangkap Nicolás Maduro, pemimpin Venezuela yang digulingkan.

Jaksa menilai akses Van Dyke ke detail sensitif memberi keuntungan saat ia bertransaksi di pasar prediksi berbasis Polygon. Kontrak yang dipilihnya berkaitan dengan kemungkinan Amerika Serikat melakukan invasi ke Venezuela serta skenario Maduro tersingkir dari kekuasaan.

Taruhan yang mengikuti arah operasi militer

Menurut dakwaan, Van Dyke diduga terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan operasi tersebut. Karena posisinya, ia disebut memiliki akses pada informasi yang dikategorikan sensitif dan tidak untuk kepentingan pribadi.

Penyidik menilai informasi itu kemudian dipakai untuk membaca arah pasar dengan lebih tajam. Fokus taruhannya berada pada kontrak yang bergerak cepat mengikuti perkembangan geopolitik dan militer di lapangan.

Van Dyke disebut memasang sekitar $33,034 dan konsisten mengambil posisi “YES” pada kontrak yang terkait Venezuela. Posisi itu mencakup taruhan pada kemungkinan serangan atau invasi AS ke negara tersebut dan peluang Maduro digulingkan.

Untung kecil, sorotan besar

Rangkaian taruhan itu disebut dilakukan sebelum pernyataan publik Donald Trump pada Jan. 3 yang mengonfirmasi penangkapan Maduro. Dari posisi yang ia ambil, Van Dyke disebut memenangkan seluruh taruhan dan meraih keuntungan sekitar $409,81 di Polymarket.

Nilai keuntungan itu memang jauh lebih kecil dibanding total dana yang dipertaruhkan. Namun, kasus ini tetap menyedot perhatian karena inti persoalannya adalah dugaan penyalahgunaan kepercayaan dan penggunaan akses negara untuk kepentingan pribadi.

FBI menyebut tindakan itu sebagai pengkhianatan terhadap rekan satu satuan. James C. Barnacle Jr., Assistant Director in Charge FBI, mengatakan Gannon Ken Van Dyke diduga mengkhianati sesama tentara dengan memanfaatkan informasi rahasia untuk keuntungan pribadi.

Tekanan terhadap pasar prediksi semakin kuat

Direktur FBI Kash Patel juga memberi peringatan keras kepada siapa pun yang memiliki izin akses rahasia. Menurut Patel, orang yang mencoba memanfaatkan akses dan keahlian semacam itu “will be held accountable.”

Polymarket belum segera memberikan komentar atas permintaan yang dikirim Benzinga terkait kasus tersebut. Meski begitu, perkara Van Dyke muncul di tengah meningkatnya sorotan terhadap pasar prediksi itu, terutama setelah muncul sejumlah taruhan yang dinilai terlalu tepat waktunya dan berkaitan langsung dengan keputusan militer Amerika Serikat.

Analisis blockchain sebelumnya bahkan disebut mengungkap enam akun yang diduga melakukan transaksi orang dalam dan mengantongi $1,2 juta saat serangan AS ke Iran. Temuan itu mendorong desakan politik dari Senator Chris Murphy, yang mengajukan rancangan undang-undang untuk melarang taruhan perang.

Senator Elizabeth Warren juga menyerukan penyelidikan atas aktivitas serupa di pasar prediksi. Tekanan terhadap platform seperti ini terus membesar karena kontraknya kerap bergerak sangat dekat dengan peristiwa geopolitik yang sensitif.

Sorotan tidak berhenti di isu militer. Pedagang minyak juga dilaporkan memasang taruhan senilai $430 juta pada penurunan harga minyak mentah hanya 15 menit sebelum Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran pada Selasa.

Waktu transaksi itu kembali memunculkan pertanyaan tentang kemungkinan adanya informasi yang bergerak lebih cepat daripada pengumuman publik. Di tengah rangkaian kasus tersebut, pasar prediksi kini semakin berada di bawah pengawasan ketat karena dugaan penyalahgunaan akses seperti yang dikaitkan dengan Van Dyke terus memicu perhatian penegak hukum dan pembuat kebijakan.

Berita Terkait