Tewas Usai Sebulan Dirawat, Praka Rico Tambah Daftar Korban Serangan di Libanon

Gugurnya Praka Rico Pramudia menambah panjang daftar prajurit Indonesia yang menjadi korban serangan artileri di Libanon selatan. Ia dinyatakan wafat setelah menjalani perawatan intensif hampir sebulan akibat luka berat dalam insiden di Adchit Al-Qusayr, yang juga merenggut nyawa Praka Farizal Rhomadhon.

Kabar duka itu disampaikan Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, yang menyebut Praka Rico wafat pada Jumat (24/4). Dengan demikian, serangan yang terjadi pada 29 Maret itu kembali menegaskan besarnya risiko yang dihadapi pasukan penjaga perdamaian di tengah eskalasi konflik yang belum mereda.

Dugaan proyektil dari tank Merkava

Temuan awal penyelidikan UNIFIL mengarah pada dugaan bahwa proyektil yang menghantam posisi penjaga perdamaian ditembakkan dari tank Merkava milik Israel. Menurut Dujarric, proyektil itu mengenai posisi UNIFIL dan memicu jatuhnya korban dari unsur TNI.

PBB belum mengumumkan hasil akhir penyelidikan. Namun, temuan awal tersebut memperkuat perhatian terhadap keselamatan personel penjaga perdamaian yang bertugas di area rawan tembakan.

Situasi di Libanon selatan membuat pasukan UNIFIL kerap berada dekat dengan garis bahaya. Saat operasi dan pergerakan pasukan berlangsung di wilayah konflik aktif, ancaman terhadap personel menjadi sangat tinggi.

Duka untuk kontingen Indonesia

Praka Rico menjadi prajurit TNI kedua yang gugur akibat serangan tersebut. Praka Farizal Rhomadhon tewas langsung dalam insiden artileri yang sama pada 29 Maret, sehingga satu kejadian itu meninggalkan luka besar bagi kontingen Indonesia di bawah bendera Pasukan Sementara PBB di Libanon.

Selain dua nama itu, korban lain juga muncul dari rangkaian insiden yang terjadi di tengah situasi yang memanas. Dua prajurit Indonesia lainnya, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ikhwan, gugur saat mengawal konvoi pada 30 Maret.

Rentetan kehilangan ini menunjukkan bahwa misi perdamaian bukan tanpa risiko. Tugas yang dijalankan di bawah mandat internasional tetap menempatkan para prajurit dalam kondisi yang dapat berubah cepat ketika konflik bersenjata meluas.

Sorotan PBB terhadap serangan ke penjaga perdamaian

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban, pemerintah Indonesia, dan rakyat Indonesia. Ia juga menyoroti pengabdian Praka Rico dalam menjalankan tugas pada misi perdamaian dunia.

PBB menegaskan bahwa serangan terhadap personel penjaga perdamaian merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 tahun 2006. Dalam pernyataannya, tindakan seperti itu bahkan disebut dapat dikategorikan sebagai tindak kejahatan perang.

PBB juga mendorong agar setiap serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian diselidiki secara tuntas. Pihak yang bertanggung jawab diminta diproses sesuai hukum, terutama karena keselamatan personel misi perdamaian menjadi bagian penting dari stabilitas di wilayah konflik.

Eskalasi yang terus memakan korban

Gugurnya Praka Rico terjadi di tengah meningkatnya konflik antara militer Israel dan kelompok Hizbullah di Libanon selatan. Sejak awal Maret, enam personel penjaga perdamaian dilaporkan tewas dalam situasi yang terus memburuk.

Tekanan untuk investigasi juga bertambah setelah Prancis melaporkan kehilangan dua tentaranya dalam misi UNIFIL usai patroli mereka diserang pada 18 April. Rangkaian peristiwa itu membuat keamanan pasukan penjaga perdamaian kembali menjadi perhatian utama di lapangan.

Bagi Indonesia, kabar ini bukan hanya soal kehilangan personel, tetapi juga pengingat bahwa misi perdamaian menuntut pengorbanan besar. Di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda mereda, kontingen UNIFIL tetap menjadi bagian penting dari upaya menjaga keamanan, meski risikonya terus membayangi setiap langkah.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terkait