The Mouse di galaksi Bimasakti menyimpan salah satu pemandangan paling ekstrem di langit. Dari Bumi, objek ini terlihat seperti tikus kosmik dengan kepala terang dan ekor sangat panjang, padahal di baliknya ada pulsar superpadat yang bergerak luar biasa cepat.
Nama ilmiahnya G359.23−0.82, sebuah nebula angin pulsar yang terbentuk dari sisa bintang masif yang pernah meledak sebagai supernova. Di pusatnya ada PSR J1747−2958, pulsar berukuran sekitar 20 kilometer yang massanya diperkirakan lebih besar daripada Matahari.
Pulsar yang memacu ekor panjangnya
PSR J1747−2958 berputar sekitar sekali setiap 98 milidetik, atau lebih dari 10 putaran per detik. Rotasi secepat ini membangkitkan medan magnet besar yang mempercepat partikel bermuatan mendekati kecepatan cahaya.
Partikel-partikel itulah yang membentuk aliran energi di sekitar pulsar dan memberi The Mouse tampilan khas saat diamati dalam gelombang radio maupun sinar-X. Bagian kepalanya tampak sangat terang karena partikel berenergi tinggi terjaga sangat dekat dengan sumbernya.
Gerak ekstrem di ruang antarbintang
The Mouse tidak hanya cepat di dalam, tetapi juga melaju sangat kencang melalui ruang antarbintang. Kecepatannya diperkirakan sekitar 600 kilometer per detik, atau lebih dari 2 juta kilometer per jam.
Pergerakan ini menabrak medium antarbintang dan membentuk gelombang kejut di depan objek tersebut. Lapisan terkompresi itu menciptakan kepala yang khas, seolah-olah The Mouse sedang menerobos ruang galaksi.
Ekor panjangnya terbentuk dari partikel berenergi tinggi yang terus tertinggal saat objek ini melesat. Berdasarkan pengamatan radio dan sinar-X, ekor itu diperkirakan membentang hingga sekitar 55 tahun cahaya.
Laboratorium alam untuk fisika ekstrem
Bagi para astronom, The Mouse bukan sekadar objek dengan bentuk unik. Struktur ini menjadi laboratorium alam untuk mempelajari interaksi angin pulsar dengan lingkungan antarbintang dalam kondisi yang sangat keras.
Beberapa ilmuwan bahkan menyebutnya sebagai terowongan angin kosmik karena memperlihatkan aliran plasma, struktur gelombang kejut, dan distribusi energi yang sulit ditiru di Bumi. Pengamatan dengan teleskop sinar-X seperti Chandra juga memperlihatkan detail yang lebih kompleks pada kepala dan ekornya.
Dalam sinar-X, kepala The Mouse tampak sangat terang, sedangkan ekornya menunjukkan bagaimana energi partikel berkurang sedikit demi sedikit saat menjauh dari pulsar. Ciri ini membuatnya penting untuk menguji teori fisika partikel dan magnetohidrodinamika.
Usia dan jaraknya masih belum pasti
Perkiraan usia PSR J1747−2958 juga masih menyimpan perdebatan. Pada awal penelitian, usianya dihitung sekitar 25 ribu tahun berdasarkan perlambatan rotasi, tetapi penelitian lanjutan yang menelaah gerak dan posisinya menghasilkan perkiraan berbeda.
Ada model yang bahkan menyebut usianya bisa lebih dari 160 ribu tahun. Perbedaan ini menunjukkan bahwa metode standar untuk memperkirakan usia pulsar belum tentu selalu akurat.
The Mouse sendiri berada sekitar 16 ribu tahun cahaya dari Bumi, mengarah ke pusat galaksi Bimasakti. Artinya, cahaya yang terlihat sekarang adalah potret objek itu pada masa sekitar 16 ribu tahun lalu.
Nama yang lahir dari bentuk visual
Para astronom pertama kali mengamati The Mouse dengan teleskop radio pada akhir 1980-an. Mereka melihat bagian depan yang terang, tubuh memanjang, dan ekor khas, lalu memberi julukan tersebut karena siluetnya mirip seekor tikus.
Penamaan seperti ini lazim dalam astronomi, karena membantu objek kompleks lebih mudah dikenali publik. Horsehead Nebula dan Crab Nebula juga mendapat nama dari bentuk visual yang menonjol, bukan dari ciri fisik yang langsung terlihat dari Bumi.
Source: www.idntimes.com






