Tiga Penghargaan Halal Menguatkan Jatim, Pesantren dan Kampus Jadi Penopang Ekonomi Syariah

Author: Redaksi Android62

Penguatan ekosistem halal di Jawa Timur kembali mendapat sorotan setelah provinsi ini memborong tiga penghargaan dalam UB Halal Metric Award 2026 di Kota Malang. Capaian itu menegaskan bahwa kerja panjang di bidang halal mulai membentuk ekosistem yang lebih siap, mulai dari pendidikan, infrastruktur, hingga pemberdayaan publik.

Dua penghargaan yang dibawa pulang Jawa Timur berstatus Gold Winner. Keduanya masing-masing untuk kategori Commitment to the Development of Halal Infrastructure 2026 dan Commitment to the Development of Halal Education 2026, sementara satu penghargaan lain diraih lewat kategori Commitment to the Development of Halal Innovation, Collaboration, and Public Empowerment 2026 dengan status Silver Winner.

Penghargaan tersebut diserahkan oleh Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal, Ahmad Haikal Hasan, kepada Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang diwakili Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak. Bagi Khofifah, hasil ini menunjukkan bahwa penguatan halal di daerah tidak berdiri sendiri, melainkan bergerak lewat kerja bersama berbagai pihak.

Ia menilai sinergi pemerintah kabupaten/kota, BPJPH, dan dunia akademik menjadi kunci dari capaian itu. Menurut dia, kontribusi kepala daerah di kabupaten/kota ikut memberi dorongan besar bagi penguatan produk halal di wilayah masing-masing.

Khofifah juga menegaskan bahwa perhatian Jawa Timur terhadap ekonomi syariah terus diarahkan pada sektor-sektor yang punya dampak luas. Produk halal, menurut dia, menjadi salah satu pilar penting dalam pengembangan ekosistem itu.

Modal kelembagaan yang sudah terbentuk

Jawa Timur memiliki basis kelembagaan yang cukup kuat untuk menopang pengembangan sektor halal. Provinsi ini menaungi 15 dari 124 Lembaga Pemeriksa Halal di Indonesia dan 85 dari 393 Lembaga Pendamping Proses Produk Halal nasional.

Selain itu, ada 16.424 pendamping Proses Produk Halal asal Jawa Timur. Jumlah itu menjadi bagian dari 129.368 pendamping secara nasional, sehingga menunjukkan kesiapan Jatim dalam memperkuat ekosistem halal di level regional maupun nasional.

Bagi Khofifah, penghargaan yang diterima bukan hanya soal prestise. Capaian itu juga harus menjadi dorongan agar pelaku industri halal di Jawa Timur terus meningkatkan kualitas dan daya saing.

Ia menambahkan bahwa halal kini telah bergeser makna menjadi lebih luas. “Halal sudah menjadi customer value bukan hanya soal sisi religius tapi ada value di dalamnya,” kata Khofifah.

Pesantren sebagai kekuatan ekonomi

Khofifah melihat Jawa Timur memiliki modal sosial yang sangat besar untuk menjadi pusat pengembangan industri halal. Salah satu modal itu adalah keberadaan pesantren yang tersebar luas di berbagai daerah.

“Jawa Timur dikenal provinsi yang banyak pesantrennya. Oleh karena itu pesantren juga menjadi mesin penggerak produk halal,” ujarnya. Dengan posisi itu, pesantren tidak hanya dipandang sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga bagian dari penguatan rantai ekonomi halal.

Pandangan tersebut mempertegas bahwa pengembangan halal di Jawa Timur tidak hanya bertumpu pada regulasi dan lembaga teknis. Ada unsur sosial, pendidikan, dan jejaring komunitas yang ikut menopang pertumbuhan ekosistemnya.

Halal sebagai ruang tumbuh ekonomi

Dari sisi nasional, Ahmad Haikal Hasan menekankan bahwa halal kini sudah menjadi perhatian yang lebih luas. Ia menyebut halal bukan hanya isu keagamaan, tetapi juga ruang tumbuh ekonomi yang semakin menarik minat banyak negara.

“Halal is for everybody. Halal itu adalah tempat tumbuhnya ekonomi, growth economy,” ucapnya. Ia menambahkan bahwa isu halal telah menjadi perhatian di Asia Timur dan Eropa.

Karena itu, ajang seperti UB Halal Metric Award diharapkan bisa ikut mempercepat pengembangan industri halal nasional. Bagi Jawa Timur, tiga penghargaan tersebut menunjukkan bahwa arah kebijakan daerah, dukungan kelembagaan, dan peran pesantren mulai bergerak dalam jalur yang sama.

Source: www.kabarnusantara.co.id
Berita Terbaru