Waduk-waduk besar di selatan Jawa Tengah kini berada dalam kondisi yang dinilai sangat mengkhawatirkan karena sedimentasi terus menekan daya tampung air. Situasi ini membuat pasokan air untuk pertanian terancam, padahal wilayah tersebut masih memegang peran penting sebagai penopang pangan.
Anggota DPD RI Abdul Kholik menilai persoalan itu tidak cukup dihadapi dengan langkah biasa. Ia mendorong adanya intervensi khusus agar ketahanan pangan di Jawa Tengah selatan tetap terjaga dan tidak terganggu oleh krisis air yang makin berat.
Ancaman air makin menekan pertanian
Dalam pembahasan di Purwokerto, tiga waduk besar yakni Mrica, Sempor, dan Wadaslintang disebut berada dalam kondisi kritis. Sedimentasi yang terus berjalan membuat kapasitas tampung menyusut dan mengganggu fungsi utama waduk sebagai penyangga air pertanian.
Salah satu waduk bahkan dilaporkan hanya menyisakan kapasitas efektif sekitar 10 persen. Kondisi seperti ini bukan hanya menekan irigasi, tetapi juga dinilai dapat memicu persoalan yang lebih luas bila dibiarkan terus berlangsung.
Produksi pangan ikut melemah
Masalah air datang bersamaan dengan tekanan pada produksi pangan di Jawa Tengah bagian selatan, atau Jasela. Komoditas unggulan seperti padi, jagung, dan hortikultura sebenarnya menjadi modal besar bagi kemandirian pangan di kawasan itu.
Namun, diskusi tersebut menunjukkan arah yang kurang menggembirakan karena sebagian besar komoditas justru mengalami tren produksi menurun. Komoditas lain memang masih bergerak naik turun, tetapi belum menunjukkan kepastian yang kuat untuk mendukung ketahanan pangan jangka panjang.
Kholik menilai penurunan itu tidak berdiri sendiri. Infrastruktur pertanian yang memburuk, minimnya regenerasi sumber daya manusia, serta pemanfaatan teknologi yang belum optimal ikut menekan daya tahan sektor pangan di wilayah tersebut.
Intervensi yang dibutuhkan tidak boleh setengah jalan
Menurut Kholik, perbaikan irigasi dan waduk memang penting, tetapi belum cukup untuk menjawab persoalan yang ada. Ia menekankan perlunya paket kebijakan yang lebih lengkap agar masalah air, produksi, dan pengelolaan kawasan bisa ditangani secara bersamaan.
Penguatan akses teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pembukaan akses pasar disebut harus berjalan seiring. Selain itu, kolaborasi antardaerah juga dinilai penting karena tiap wilayah di kawasan selatan memiliki peran yang saling melengkapi.
Pendekatan yang lebih luas diperlukan agar selatan Jawa Tengah tidak hanya dipandang sebagai wilayah produksi. Kawasan itu disebut layak ditempatkan sebagai penyangga pangan strategis yang membutuhkan dukungan pemerintah lebih kuat dan lebih terarah.
Kajian bersama untuk kebijakan yang lebih siap
Pembahasan masa depan pangan kawasan selatan melibatkan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah dari wilayah Barlingmascakeb dan Barlingmascakeb dan Purwomanggung. Sejumlah pihak lain juga ikut hadir, termasuk pemerintah daerah, akademisi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, dan Bank Indonesia Purwokerto.
Dari forum itu, hasil diskusi akan dirumuskan menjadi kajian komprehensif sebagai dasar rekomendasi kebijakan. Penyusunannya akan memakai pendekatan teknokratis, birokratis, dan multistakeholder agar usulan yang dihasilkan lebih siap digunakan untuk langkah transformasi ke depan.
Gagasan kawasan khusus penyangga pangan di selatan Jawa Tengah juga disebut telah mendapat respons positif dari sejumlah pihak, termasuk beberapa kementerian. Dukungan awal tersebut menjadi modal penting untuk menjaga agar potensi besar Jasela tidak terus tergerus oleh persoalan air, produksi, dan infrastruktur.
Source: jateng.antaranews.com






