Tikus Bukan Satu-Satunya Jalur, Hantavirus Bisa Masuk Saat Bersih-Bersih Rumah

Author: Redaksi Android62

Kehadiran hantavirus di Indonesia ternyata bukan hal baru. Data Kementerian Kesehatan menyebut ada masyarakat yang pernah terpapar virus ini, dengan seroprevalensi sekitar 11,6 persen.

Temuan itu memperlihatkan bahwa hantavirus sudah beredar cukup lama, bahkan penelitian menunjukkan keberadaannya telah terdeteksi sejak era 1980-an. Karena gejalanya sering menyerupai penyakit lain, sebagian kasus juga mungkin tidak langsung dikenali.

Gejala yang kerap disalahartikan

Hantavirus bisa memunculkan demam, nyeri otot, mual, sakit kepala, dan tubuh lemas. Keluhan seperti ini mudah disangka sebagai dengue, tifus, atau leptospirosis.

Itulah sebabnya hantavirus kerap luput dari kecurigaan awal. Dalam situasi tertentu, penyakit ini dapat terlihat seperti bagian kecil dari masalah yang lebih besar, padahal sebenarnya sudah ada di tengah masyarakat.

Kementerian Kesehatan mencatat sejak 2024 hingga 2026 terdapat 23 kasus hantavirus tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS di Indonesia. Hingga kini, belum ditemukan kasus tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS di Indonesia.

Penularan tidak selalu lewat gigitan

Sumber penularan utama hantavirus berasal dari tikus. Virus ini dapat masuk ke tubuh melalui udara yang tercemar partikel urin, feses, atau air liur tikus.

Risiko juga muncul saat seseorang menyentuh permukaan yang terkontaminasi lalu memegang wajah atau luka terbuka. Bahkan, menghirup debu yang tercemar saja sudah cukup meningkatkan risiko infeksi, tanpa harus ada gigitan tikus.

Karena itu, kegiatan membersihkan area kotor atau berdebu tanpa pelindung menjadi momen yang perlu diwaspadai. Banyak orang justru terpapar saat merasa hanya sedang melakukan pekerjaan biasa di rumah atau lingkungan sekitar.

Dua bentuk penyakit yang perlu dikenali

Hantavirus memiliki dua bentuk utama, yaitu HFRS dan HPS. HFRS lebih banyak ditemukan di Asia dan Eropa, sedangkan HPS lebih sering ditemukan di kawasan Amerika.

HFRS dapat menyerang ginjal dan pembuluh darah, lalu memicu demam, perdarahan, hingga gagal ginjal. Sementara itu, HPS menyerang paru-paru dan dapat menyebabkan sesak napas berat sampai gagal napas akut.

Pada beberapa jenis virus, case fatality rate atau CFR bisa mencapai sekitar 50 persen. Kondisi ini membuat hantavirus tetap harus dipandang serius meski gejala awalnya sering tampak seperti infeksi biasa.

Bukan hanya masalah di daerah terpencil

Keberadaan hantavirus juga tidak terbatas di wilayah yang jauh dari pusat kota. Penelitian di Indonesia menunjukkan virus ini terdeteksi di Jakarta, Bandung, Semarang, dan Denpasar.

Kepadatan penduduk, sanitasi buruk, serta pengelolaan sampah yang kurang baik dapat mendukung berkembangnya populasi tikus. Semakin dekat tikus hidup dengan manusia, semakin besar pula peluang penularan virus.

Artinya, risiko tidak hanya ada di pedesaan atau kawasan yang terlihat kumuh. Lingkungan rumah, permukiman padat, sampai area dengan kebersihan yang tidak terjaga juga bisa menjadi tempat paparan.

Pencegahan masih jadi langkah utama

Belum ada vaksin yang digunakan secara luas untuk hantavirus, sehingga pencegahan menjadi kunci utama. Kebersihan rumah dan lingkungan perlu dijaga agar tikus tidak mudah berkembang biak.

Rumah juga perlu ditutup dari akses masuk tikus, sementara sampah harus dikelola dengan baik agar tidak menarik rodensia. Saat membersihkan area yang penuh debu atau kotoran tikus, masker dan sarung tangan perlu digunakan untuk mengurangi risiko paparan.

Source: www.suara.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru