Paparan timbal di lingkungan hunian sering luput dari perhatian karena tidak selalu menimbulkan gangguan dalam waktu cepat. Bahan bangunan yang sudah tua, cat yang mulai mengelupas, debu hasil renovasi, serta pipa lama dapat menjadi jalur masuk zat berbahaya ini ke dalam tubuh.
Risikonya tidak berhenti pada satu ruangan. Partikel timbal bisa terbawa udara, menempel pada debu, lalu tertelan tanpa disadari oleh penghuni rumah, sekolah, atau fasilitas publik. Karena sifatnya dapat menumpuk di tulang, ginjal, dan sistem saraf, dampaknya sering baru terlihat setelah paparan berlangsung berulang.
Mengapa material aman menjadi perhatian utama
Arsitek dan Urban Designer di KIND Architects, Adjie Negara, menilai material bangunan bukan hanya soal ketahanan struktur. Menurut dia, kualitas material ikut menentukan sehat atau tidaknya ruang yang dipakai sehari-hari.
Pandangan itu menjadi penting di tengah maraknya pembangunan dan renovasi. Risiko timbal kerap muncul bukan saat bangunan baru berdiri, melainkan ketika material lama mulai rusak dan melepaskan serpihan halus ke udara.
Sumber paparan yang sering ditemukan
Cat yang mengelupas menjadi salah satu sumber paling umum. Serpihan dari material lama dapat berubah menjadi debu yang mudah terhirup atau tertelan, terutama saat proses perbaikan dilakukan tanpa pengendalian yang memadai.
Anak-anak berada dalam kelompok paling rentan. Mereka lebih sering bermain di dekat lantai dan memiliki kebiasaan memasukkan tangan ke mulut, sehingga peluang terpapar debu timbal menjadi lebih besar.
Dampak kesehatan yang perlu diwaspadai
Ahli Kimia Universitas Indonesia, Yuni Krisyuningsih Krisnandi, menjelaskan bahwa timbal adalah logam berat yang stabil dan tahan korosi, tetapi tetap berbahaya bagi tubuh. Paparan kecil yang terjadi terus-menerus dapat menimbulkan efek kumulatif tanpa langsung terasa.
Pada anak, ancamannya paling serius karena berkaitan dengan perkembangan sistem saraf. Dokter spesialis anak, Reza Fahlevi, menyebut timbal dapat mengganggu perkembangan otak, menurunkan kemampuan kognitif, memicu gangguan perilaku, dan berdampak pada prestasi belajar.
Data Surveilans Nasional yang dikutip dalam referensi menunjukkan bahwa 1 dari 7 anak di Indonesia memiliki kadar timbal dalam darah di atas 5 µg/dL. Temuan ini menegaskan bahwa persoalan timbal bukan sekadar kemungkinan, melainkan masalah kesehatan lingkungan yang nyata.
Pada orang dewasa, paparan jangka panjang dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit ginjal, hipertensi, dan gangguan kardiovaskular. Pada ibu hamil, timbal juga dapat menembus plasenta dan mencapai janin, sehingga meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur, dan gangguan tumbuh kembang bayi.
Jalur masuk timbal yang perlu dikenali
- Debu dari cat lama yang mengelupas.
- Serpihan material bangunan yang rusak.
- Tanah di sekitar bangunan yang sudah terkontaminasi.
- Partikel yang terbawa alas kaki atau barang dari luar.
- Air dari pipa dan sambungan lama yang berpotensi mengandung timbal.
Standar pencegahan dan pengawasan
WHO merekomendasikan kadar timbal dalam cat di bawah 90 ppm. Acuan itu telah diadopsi Indonesia melalui SNI 8011:2014 dan revisinya, SNI 8011:2022.
Meski demikian, penerapannya masih bersifat sukarela. Kondisi itu membuat pengawasan di lapangan tetap menjadi bagian penting agar material yang dipakai benar-benar aman bagi penghuni.
Prof. Yuni menyebut tren global bergerak ke arah penggunaan material bebas timbal untuk menekan paparan dari sumbernya. Di saat yang sama, bangunan lama tetap perlu diperiksa secara rutin agar kerusakan kecil tidak berkembang menjadi sumber risiko yang lebih luas.
Pemilik bangunan dapat memulai dari langkah sederhana seperti memeriksa cat yang retak, memilih material bersertifikat aman saat renovasi, membersihkan debu dengan metode yang tidak menyebarkannya ke udara, mengecek pipa tua, dan melakukan inspeksi berkala di area yang sering digunakan anak-anak. Bangunan yang tampak bersih belum tentu aman, sehingga perlindungan terhadap keluarga perlu dimulai dari material yang digunakan sehari-hari.
Source: www.suara.com