Justin Gaethje menegaskan bahwa kemenangan atas Ilia Topuria di laga utama UFC Freedom 250 bukanlah hasil kebetulan. Petarung Amerika itu menilai kunci duel ada pada kemampuannya menjaga lawan tetap tidak nyaman sejak awal hingga pertarungan masuk ke ronde-ronde penentu.
Gaethje mengatakan Topuria membuat kesalahan besar karena terlalu terpaku pada skenario yang sudah dibangun sebelum laga dimulai. Saat ritme berubah dan posisi kaki terus ia ganggu, Topuria disebut tidak mampu menyesuaikan diri dengan cukup cepat.
Tekanan yang Mengubah Arah Pertarungan
Dalam penjelasannya di The Pat McAfee Show, Gaethje menyebut dirinya sangat teliti dalam mengatur jarak dan posisi kaki lawan. Ia mengaku bisa terus menggeser ulang posisi Topuria setiap 1-2 detik sehingga sang lawan sulit menemukan kenyamanan bertarung.
“Saya mampu mengatur ulang posisi kakinya setiap 1-2 detik, saya sangat teliti dalam hal itu, dan saya bertarung dengan sempurna,” kata Gaethje.
Topuria Dinilai Terlalu Yakin pada Rencana Awal
Menurut Gaethje, masalah Topuria bukan semata soal teknik, melainkan soal cara membaca perubahan di dalam oktagon. Ia menilai mantan juara itu datang dengan ekspektasi yang terlalu kuat, lalu kehilangan kendali ketika situasi bergerak di luar dugaan.
Gaethje menambahkan bahwa dirinya justru masuk ke ring tanpa beban ekspektasi berlebihan. “Dia benar-benar lengah. Dia tidak mengharapkannya,” ucap Gaethje. “Saya tidak masuk ke ring dengan ekspektasi, jadi dengan begitu saya tidak akan pernah terkejut.”
Ronde Tengah Jadi Titik Balik
Gaethje bahkan sudah memperkirakan laga akan terasa jauh lebih berat bagi Topuria saat memasuki ronde 2 dan 3. Prediksi itu terbukti ketika intensitas pertarungan meningkat dan Topuria mulai kewalahan menghadapi tekanan yang terus datang.
“Saya sudah mengatakannya sebelum pertarungan: Saat kita memasuki ronde 2 dan 3, Anda akan berada di neraka, dan di situlah dia berada,” ujar Gaethje.
Gedung Putih Jadi Panggung Sejarah untuk Gaethje
Kemenangan ini juga menempatkan Gaethje dalam catatan penting divisi kelas ringan. Ia menjadi petarung kelas ringan pertama dalam 10 tahun terakhir yang merebut gelar langsung dari juara bertahan di dalam oktagon, sesuatu yang terakhir terjadi saat Conor McGregor mengalahkan Eddie Alvarez pada 2016.
Sejak itu, nama-nama seperti Khabib Nurmagomedov, Charles Oliveira, Islam Makhachev, hingga Ilia Topuria naik ke puncak saat sabuk sedang kosong. Karena itu, kemenangan Gaethje di kawasan Gedung Putih, Washington, terasa jauh lebih istimewa bagi peta persaingan kelas ringan.
Kerusakan yang Terlihat Jelas di Wajah Topuria
Selama laga berlangsung, tekanan Gaethje meninggalkan dampak nyata pada lawannya. Wajah Topuria mengalami luka cukup parah, termasuk kondisi kedua mata yang membengkak.
Situasi itu memperlihatkan bagaimana tempo tinggi dan perubahan kecil yang konsisten dapat meruntuhkan ritme petarung yang sebelumnya belum pernah kalah. Di UFC Freedom 250, Gaethje tampil sebagai sosok yang paling efektif sekaligus paling menentukan.
Source: www.viva.co.id






