Torino Bangkit Dari Tertinggal Dua Gol, Inter Kehilangan Dua Poin Di Menit Akhir

Inter Milan harus rela pulang hanya dengan satu poin setelah keunggulan dua gol mereka sirna di Stadion Olimpico Grande Torino. Torino memaksa laga berakhir 2-2 lewat tekanan yang terus naik pada fase akhir pertandingan, saat Inter sudah terlihat mengarah ke kemenangan.

Hasil ini terasa berat bagi Nerazzurri karena mereka sempat memegang kendali dan berada di jalur yang tepat untuk membawa pulang tiga poin. Namun, respons Torino di menit-menit penentuan mengubah alur laga dan membuat Inter kehilangan keunggulan yang sudah dibangun sejak awal.

Inter sempat nyaman memimpin

Cristian Chivu menurunkan timnya dengan pendekatan yang cukup terukur dan efisien saat menyerang. Inter kemudian membuka keunggulan melalui Marcus Thuram pada menit ke-23 dan membuat posisi tamu menjadi jauh lebih tenang.

Keadaan semakin menguntungkan bagi Inter ketika Yann Bisseck menambah gol pada menit ke-61. Dengan skor 2-0, tim tamu tampak berada dalam kendali penuh dan cukup solid untuk mengamankan kemenangan.

Torino mengubah ritme pertandingan

Meski tertinggal dua gol, Torino tidak membiarkan laga berjalan terlalu nyaman bagi Inter. Tuan rumah menaikkan intensitas serangan dan mulai menekan area pertahanan lawan secara lebih agresif.

Upaya itu membuahkan hasil lewat gol Giovanni Simeone pada menit ke-70. Gol tersebut memberi energi baru untuk Torino dan membuat Inter harus bertahan lebih dalam dari yang sebelumnya mereka bayangkan.

Tekanan Torino terus berlanjut setelah itu. Situasi di lapangan perlahan bergeser, dan tim tuan rumah semakin percaya diri untuk mengejar hasil yang sempat terlihat sulit diraih.

Penalti Vlasic jadi titik balik

Momentum akhirnya benar-benar berubah ketika Nikola Vlasic menuntaskan penalti sembilan menit setelah gol Simeone. Eksekusi itu membuat skor kembali sama kuat 2-2 dan menghapus keunggulan Inter yang sudah dibangun sejak babak pertama dan awal babak kedua.

Setelah gol penyama kedudukan tersebut, pertandingan lebih banyak dikuasai Torino. Mereka terus mencari celah untuk membalikkan keadaan hingga laga berakhir, sementara Inter kehilangan kendali pada fase yang paling menentukan.

Chivu soroti hilangnya kontrol

Cristian Chivu tidak menutupi kekecewaannya atas hasil ini. Ia menilai timnya gagal menjaga pertandingan saat Torino melancarkan serangan beruntun di menit akhir.

“C’è rammarico perché avevamo la partita in mano e abbiamo subito il loro assalto finale,” ujar Chivu. Ucapan itu mencerminkan penyesalan karena Inter sudah memegang pertandingan, tetapi tetap gagal meredam tekanan terakhir dari lawan.

Bagi Inter, laga ini menunjukkan bahwa efisiensi di lini depan belum otomatis diikuti kestabilan bertahan sampai peluit panjang. Saat intensitas lawan naik, kehilangan fokus sedikit saja bisa langsung mengubah hasil pertandingan.

Dampak pada klasemen

Meski gagal meraih kemenangan, Inter Milan masih bertahan di puncak klasemen sementara dengan 79 poin dari 34 pertandingan. Mereka tetap unggul 10 angka atas Napoli yang berada di posisi kedua dan masih terus membayangi persaingan gelar.

Torino sendiri mendapatkan satu poin yang menjaga posisi mereka di peringkat ke-13 dengan koleksi 41 poin. Hasil ini memberi mereka tambahan nilai penting di papan tengah sekaligus menunjukkan bahwa mereka tetap mampu memberi perlawanan kepada tim papan atas.

Perhatian Inter kini menuju laga berikutnya melawan Parma di San Siro. Pertandingan itu menjadi kesempatan penting untuk kembali ke jalur kemenangan sambil memperbaiki konsentrasi pada momen-momen akhir yang kali ini membuat mereka harus puas berbagi angka.

Berita Terkait