Toy Story 5 menempatkan satu kekhawatiran yang sangat dekat dengan keseharian anak masa kini: permainan perlahan tersisih oleh layar. Film ini tidak hanya mengandalkan nostalgia, tetapi juga menjadikan hilangnya ruang bermain sebagai pusat emosi dan konflik cerita.
Di tangan Andrew Stanton, kisah para mainan lama ini terasa lebih padat dan lebih terarah ke pertanyaan yang relevan. Bagaimana anak-anak bisa tetap terhubung ketika dunia digital semakin cepat mengambil alih perhatian mereka?
Layar yang menggantikan teman bermain
Bonnie, yang kini berusia 8 tahun, masih bermain dengan Jessie dan Bullseye, tetapi ia kesulitan membangun pertemanan di lingkungan sekitarnya. Film ini menempatkan kesepian itu sebagai titik awal yang kuat, lalu memperlihatkan bagaimana anak-anak makin akrab dengan perangkat digital ketimbang mainan fisik.
Kehadiran Lilypad, tablet anak berbentuk kodok hijau yang bisa bicara, mempertegas perubahan itu. Bonnie cepat terpikat karena ia merasa bisa mendapatkan teman dengan lebih mudah lewat koneksi digital.
Namun film ini menegaskan bahwa kedekatan semacam itu tidak sama dengan bermain bersama di ruang yang nyata. Di situlah “Toy Story 5” mengarahkan sorotannya ke imaginative play, atau bermain dengan daya khayal, sebagai hal yang makin langka namun tetap penting.
Jessie, Woody, dan perjuangan menghidupkan kembali bermain
Upaya mengembalikan Bonnie ke dunia bermain menjadi inti gerak cerita berikutnya. Jessie dan Bullseye kembali ke rumah pertanian tempat Emily dulu tinggal, lalu bertemu Blaze, anak berusia 9 tahun yang membuka jalur baru bagi misi mereka.
Jessie kemudian harus bergerak bersama Woody dan para mainan lama lain untuk mewujudkan satu tujuan sederhana: membuat Bonnie dan Blaze punya playdate. Di tengah perjalanan itu, film juga menghadirkan tiga perangkat teknologi primitif bernama Smarty Pants, Snappy, dan Atlas.
Ancaman yang mengadang datang dari sekelompok Buzz Lightyear yang terjebak dalam demo mode. Mereka bergabung menjadi Multi-Buzz, sebuah pasukan yang menjadi sumber kekacauan sekaligus dorongan komedi dalam cerita.
Andrew Stanton meramu nostalgia dan ketegangan baru
Stanton tidak memperlakukan teknologi sebagai musuh mutlak. Sebaliknya, ia menghadapkannya pada dunia mainan dengan pendekatan yang lebih metafisik, seolah teknologi juga menjadi ranah baru dalam semesta anak-anak.
Pendekatan itu membuat film ini terasa lebih dari sekadar pertarungan antara mainan lama dan perangkat baru. Ketegangan utamanya justru lahir dari perubahan cara anak-anak berhubungan, tumbuh, dan bermain.
Struktur ceritanya juga memberi ruang bagi hubungan antarkarakter yang sudah lama dikenal penonton. Joan Cusack menghadirkan Jessie sebagai sosok keras kepala, hangat, dan jenaka, sementara Tom Hanks membuat Woody yang mulai menua terasa rapuh tetapi tetap tangguh.
Humor, emosi, dan momen yang paling “Toy Story”
Lapisan komedi hadir lewat dinamika Jessie dan Buzz, termasuk saat Buzz datang bersama kuda putri bersayap. Momen itu menjadi salah satu bagian yang paling terasa khas “Toy Story” di tengah cerita yang semakin luas dan padat.
Film ini juga membangun energi visual yang mencolok saat masuk ke adegan-adegan yang berhubungan dengan daya khayal anak. Warna fluoresen dan gerak komedi yang liar membuat beberapa bagian terasa seperti keluar langsung dari kepala anak kecil.
Di balik kelucuannya, “Toy Story 5” tetap membawa pukulan emosional yang kuat. Ada rasa kehilangan yang hadir bukan hanya pada mainan yang ditinggalkan, tetapi juga pada cara bermain yang kian memudar di kehidupan anak-anak.
Pada akhirnya, film ini menyampaikan pesan yang sederhana namun tegas. Di tengah dorongan kehidupan virtual yang membuat anak-anak tumbuh terlalu cepat, “Toy Story 5” mengingatkan bahwa bermain bersama di dunia nyata masih punya tempat yang sangat penting.
Source: variety.com






