Toyota Pangkas 83.000 Kendaraan Ekspor, RAV4 dan Hilux Ikut Tertekan Perang Iran

Author: Redaksi Android62

Toyota mulai merasakan tekanan perang di Iran bukan dari medan konflik, melainkan dari jalur produksi dan distribusi yang ikut terganggu. Dampaknya langsung menyentuh salah satu model paling penting di lini globalnya, RAV4, yang masuk daftar pemangkasan produksi terbesar.

Perusahaan kemudian memberi tahu pemasok bahwa produksi luar negerinya akan dipotong sekitar 83.000 kendaraan sampai November. Pemberitahuan itu mulai disampaikan pekan ini, dengan kenaikan harga bahan bakar dan melemahnya permintaan di Timur Tengah disebut sebagai pemicu utama.

RAV4 ikut berada di barisan teratas pemangkasan

Di antara model yang terdampak, RAV4 menempati posisi paling atas dalam daftar kendaraan yang produksinya dipangkas besar-besaran. Kondisi ini membuat SUV terlaris Toyota itu menjadi salah satu korban paling menonjol dari kombinasi gangguan rantai pasok dan pasar yang melemah.

Pemangkasan tidak berhenti pada satu model saja. Toyota juga menyesuaikan produksi kendaraan berbasis platform Innovative International Multi-purpose Vehicle, termasuk Hilux, Fortuner, dan Land Cruiser FJ baru, serta Probox dan Corolla Touring.

Dampak merembet ke pabrik di Jepang

Tekanan produksi ternyata tidak hanya terjadi di luar negeri. Nikkei Asia melaporkan Toyota lebih dulu memangkas produksi di Jepang sebanyak 40.000 kendaraan yang ditujukan ke Timur Tengah selama Maret dan April.

Langkah lanjutan juga terlihat di fasilitas dalam negeri. Toyota menghentikan salah satu jalur di Tsutsumi Plant, Prefektur Aichi, selama dua hari bulan ini, lalu menghentikan pekerjaan pada jalur kedua di Gifu Auto Body selama satu hari.

Timur Tengah jadi pusat gangguan

Gangguan itu berkaitan erat dengan situasi distribusi ke Timur Tengah yang ikut terguncang. Selat Hormuz masih praktis terblokir, sementara harga bahan bakar terus naik dan permintaan di kawasan tersebut melemah.

Kepala akuntansi Toyota, Takanori Azuma, mengatakan perusahaan biasanya mengekspor antara 500.000 dan 600.000 kendaraan per tahun ke Timur Tengah. Ia menambahkan bahwa hampir separuh dari volume itu diperkirakan terdampak oleh gangguan yang sedang berlangsung.

Proyeksi produksi dan laba masih terjaga, tetapi risikonya membesar

Meski menghadapi penyesuaian besar, Toyota masih memproyeksikan output gabungan lebih dari 10 juta kendaraan dari merek Toyota dan Lexus untuk tahun berjalan. Angka itu setara kenaikan 1 persen dibanding sebelumnya, namun kondisi di Timur Tengah membuat prospek keuangan perusahaan tetap rapuh.

Laba bersih konsolidasi Toyota diperkirakan turun 22 persen menjadi 3 triliun yen atau $18.89 miliar. Perusahaan juga memperingatkan bahwa prospek pendapatan bisa memburuk lagi jika ketidakstabilan di Timur Tengah dan pasar minyak mentah meningkat lebih jauh dari perkiraan.

Perubahan cepat ini memperlihatkan bagaimana konflik geopolitik dapat langsung memengaruhi strategi produksi otomotif global. Bulan lalu, 1.400 Nissan Patrol yang awalnya ditujukan untuk Timur Tengah juga dialihkan ke Amerika Serikat dan dijual sebagai Armada, menandakan pabrikan besar harus bergerak cepat mengikuti pasar yang berubah mendadak.

Source: www.carscoops.com
Berita Terbaru