Di sejumlah negara, Iduladha tidak berhenti pada makna kurban dan ibadah haji. Perayaannya justru berkembang menjadi tradisi lokal yang sangat khas, dari meja makan keluarga hingga parade kuda hias yang meramaikan jalan.
Keberagaman itu membuat Iduladha tampil berbeda di tiap tempat, meski inti perayaannya tetap sama. Di satu wilayah, orang menyambutnya dengan henna, di wilayah lain dengan dupa, rumah yang dibersihkan, atau kebiasaan berbagi makanan kepada tetangga dan keluarga.
Perayaan yang paling ramai justru sering datang dari meja makan
Di Singapura, umat Islam biasanya membeli banyak bahan makanan dan bumbu untuk mengolah daging kurban. Setelah itu, keluarga makan bersama dan membagikan makanan kepada orang-orang di sekitar sebagai bagian dari tradisi berbagi.
Pola kebersamaan yang mirip juga terlihat di Filipina. Di sejumlah rumah, tuan rumah menaruh uang di balik penutup kursi di sekitar meja makan agar bisa diberikan kepada orang yang duduk di kursi tersebut.
Henna, dupa, dan rumah yang disiapkan lebih dulu
Di Uni Emirat Arab dan beberapa negara Asia Selatan, perempuan kerap menghias tangan dan kaki dengan henna menjelang Iduladha. Motifnya bisa sangat rumit, mulai dari bentuk floral hingga simbol tradisional, dan sebagian orang memilih bantuan henna artist profesional agar hasilnya lebih detail.
Di Tiongkok, komunitas Muslim memiliki kebiasaan membakar dupa saat Iduladha. Asap dupa dipercaya membawa doa ke surga sekaligus menjadi bentuk penghormatan pada leluhur.
Maroko menunjukkan sisi berbeda melalui kebiasaan membersihkan rumah dan mendekorasinya dengan indah sebelum hari raya tiba. Tradisi ini dimaknai sebagai awal yang baru dan kesiapan menyambut keberkahan bersama keluarga.
Nigeria merayakan Ileya seperti festival
Di Nigeria, Iduladha dikenal dengan sebutan Ileya dan dirayakan layaknya festival. Keluarga berkumpul, menikmati hidangan tradisional, lalu di beberapa tempat pernah ada tembakan dari senapan lontar oleh penjaga Emir di Kano sebelum parade kuda hias dimulai.
Kebiasaan itu muncul dari masa ketika penanda waktu belum tersedia seperti sekarang. Parade kuda hias kemudian menjadi unsur yang memperkuat suasana meriah dalam perayaan yang sudah akrab dengan nama Ileya.
Indonesia menampilkan warna lokal yang berlapis
Indonesia menghadirkan variasi yang sangat dipengaruhi budaya daerah. Di Surakarta, Gamelan Sekaten dikenal sebagai simbol keagungan Islam, sementara di beberapa tempat seperti Semarang dan Yogyakarta ada arak-arakan hasil bumi sebagai wujud syukur dan sarana berbagi.
Ragam perayaan itu menunjukkan bahwa Iduladha bisa tampil dengan wajah yang sangat berbeda tanpa kehilangan makna dasarnya. Di satu tempat, perayaan hidup lewat hiasan henna; di tempat lain, lewat rumah yang bersih, dupa yang dibakar, atau parade kuda yang memenuhi jalan.
Source: www.beautynesia.id