Transistor Tak Lagi Melaju Seperti Dulu, Industri Chip Dipaksa Menemukan Jalan Baru

Author: Redaksi Android62

Laju pertumbuhan transistor kini tidak lagi bergerak secepat masa ketika Moore’s Law menjadi patokan utama industri chip. Patokan yang dulu seolah menggambarkan kemajuan komputasi secara nyaris otomatis itu kini menghadapi kenyataan baru: permintaan performa terus naik, tetapi peningkatan transistor tidak lagi semudah sebelumnya.

Situasi ini membuat industri semikonduktor masuk ke fase yang berbeda. Moore’s Law tetap dipakai sebagai ukuran untuk melihat seberapa cepat teknologi berkembang, tetapi maknanya sudah bergeser dari janji pertumbuhan cepat menjadi gambaran tentang batas yang makin sulit ditembus.

Dari prediksi sederhana menjadi acuan besar

Moore’s Law berawal dari pengamatan Gordon Moore, salah satu pendiri Intel, yang menulis gagasannya di Electronics Magazine pada April 1965. Dari pengamatannya terhadap komponen elektronik, ia memprediksi jumlah transistor akan terus bertambah pesat, dan prediksi itu kemudian memengaruhi cara industri membaca arah perkembangan chip.

Intel menggambarkan konsep ini sebagai semacam “golden rule” bagi industri elektronik. Alasannya jelas, karena hukum tak tertulis ini menghubungkan peningkatan kemampuan komputasi dengan penurunan biaya relatif, sesuatu yang sangat penting bagi perkembangan perangkat elektronik selama puluhan tahun.

Dalam praktiknya, jumlah transistor pada satu chip memang terus melonjak jauh melampaui bayangan awal. Menjelang pergantian milenium, jumlah transistor meningkat lebih dari 18.000 kali, dari 2.300 pada 1971 menjadi 42 juta pada prosesor Pentium 4 kelas atas.

Saat ritme pertumbuhan mulai berubah

Kini, laju tersebut tidak lagi semulus dulu. Industri semikonduktor menghadapi batas teknis yang makin nyata, sementara kebutuhan pasar tetap menuntut chip yang lebih cepat, lebih kecil, dan lebih efisien.

TechRadar pada 2012 masih menilai Moore’s Law bisa bertahan setidaknya satu dekade lagi. Namun, perkembangan di lapangan menunjukkan ritme itu tidak lagi mengikuti pola eksponensial yang dulu dianggap wajar.

Pada 2023, CEO Intel Pat Gelsinger menyebut transistor kini hanya mengganda setiap tiga tahun. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa pertumbuhan chip sudah menjauh dari laju yang selama ini identik dengan Moore’s Law.

Masih relevan, tetapi dengan makna yang bergeser

Meski perlambatannya nyata, Moore’s Law tidak hilang dari pembicaraan industri. Konsep ini masih dipakai untuk menilai apakah teknologi bergerak cepat atau justru mulai mendekati batas yang semakin sulit dilewati.

Perannya kini lebih luas sebagai kerangka untuk memahami hubungan antara skala, biaya, dan kemampuan teknologi. Artinya, Moore’s Law tidak lagi hanya soal seberapa banyak transistor bisa ditaruh dalam satu chip, tetapi juga soal bagaimana industri menafsirkan arah efisiensi dan kemajuan komputasi.

Perubahan makna itu penting karena industri chip tetap berada di bawah tekanan besar. Perusahaan semikonduktor masih dituntut mengecilkan ukuran transistor dan meningkatkan performa, meski cara mencapainya sudah tidak bisa bergantung pada pola lama semata.

Istilah yang ikut dipakai di luar chip

Menariknya, Moore’s Law kini juga dipakai untuk menjelaskan percepatan di bidang lain. Sejumlah tokoh industri menggunakannya saat membahas perkembangan teknologi yang tumbuh cepat, termasuk generative AI yang dalam beberapa waktu terakhir berkembang dengan sangat agresif.

Pada Februari 2025, CEO OpenAI Sam Altman mengaitkan generative AI dengan Moore’s Law ketika membahas penurunan biaya dan peningkatan kemampuan model. Ia menyoroti ledakan generative AI sejak akhir 2022 yang berjalan seiring dengan semakin kuatnya performa model dan makin murahnya akses teknologi.

Altman juga menyebut biaya context tokens turun sekitar 10 kali dalam skala tahunan. Dalam periode 2023 hingga pertengahan 2024, harga per token ChatGPT bahkan turun sekitar 150 kali, menunjukkan perubahan efisiensi yang sangat cepat di sektor tersebut.

Arah baru industri chip

Di tengah perubahan itu, industri chip tetap bergerak dalam tekanan yang sama: pasar menginginkan performa lebih tinggi, sementara biaya dan efisiensi harus tetap dijaga. Karena itu, dorongan untuk terus memperkecil transistor masih menjadi pusat persaingan, meski jalannya tidak lagi sesederhana era ketika jumlah transistor naik dan komputer otomatis ikut melesat.

Moore’s Law kini lebih terlihat sebagai simbol ambisi industri sekaligus ukuran untuk membaca tantangan teknologi modern. Selama enam dekade, konsep ini telah berubah dari prediksi menjadi acuan, lalu menjadi penanda bahwa industri chip sedang memasuki babak baru yang menuntut cara berpikir berbeda dalam mengejar batas komputasi.

Berita Terbaru