Tugu Insurance menutup 2025 dengan posisi permodalan dan solvabilitas yang sangat kuat, meski industri asuransi masih berada dalam kondisi ketat. Perusahaan mencatat Risk Based Capital atau RBC sebesar 410,90 persen, jauh di atas ketentuan minimum Otoritas Jasa Keuangan sebesar 120 persen dan juga melampaui rata-rata industri yang sebesar 335,22 persen.
Kekuatan itu membuat Tugu Insurance tetap punya ruang yang leluasa untuk menjaga ketahanan bisnis. Perseroan juga mempertahankan Financial Strength Rating atau FSR di level A- (Excellent) dari lembaga pemeringkat internasional.
Di sisi kinerja, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk mencapai Rp 711 miliar. Hasil tersebut naik 76,8 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang sebesar Rp 402 miliar.
Presiden Direktur Tugu Insurance Adi Pramana menilai pencapaian itu menunjukkan fundamental keuangan perseroan yang kuat. Ia juga menyebut pengelolaan risiko yang disiplin ikut menjaga kinerja perusahaan tetap solid di tengah pasar yang bergerak ketat.
Kontributor utama lain datang dari bisnis asuransi yang ikut tumbuh. Pendapatan jasa asuransi secara konsolidasian naik 22,11 persen menjadi Rp 9,11 triliun dari sebelumnya Rp 7,46 triliun.
Kenaikan pendapatan itu mendorong hasil jasa asuransi menjadi Rp 1,02 triliun. Pada periode sebelumnya, hasil jasa asuransi perseroan masih berada di level Rp 736 miliar.
Selain dari bisnis inti, lini investasi juga memberi dorongan yang besar bagi laba. Kontribusi investasi tercatat Rp 723 miliar, naik 57,86 persen secara tahunan.
Adi mengatakan performa investasi tersebut lahir dari strategi portofolio yang responsif terhadap dinamika pasar global dan domestik. Dalam kondisi pasar yang cepat berubah, strategi itu ikut menopang kinerja perusahaan.
Dari sisi neraca, saldo kas konsolidasian Tugu Insurance tercatat Rp 735 miliar. Posisi ini naik Rp 377 miliar dibandingkan tahun sebelumnya.
Ekuitas perusahaan turut menguat menjadi Rp 10,17 triliun. Penguatan itu ditopang akumulasi laba berjalan serta penguatan struktur permodalan perseroan.
Tugu Insurance juga telah menerapkan standar akuntansi keuangan terbaru PSAK 117 dalam pelaporan keuangannya. Di tingkat kepemilikan, emiten anak usaha PT Pertamina (Persero) berkode saham TUGU ini tetap menunjukkan daya tahan yang terjaga.
Dalam RUPST, pemegang saham menyetujui perubahan pengurus dengan mengangkat Clifford Patrick Wuisan dan Ony Suprihartono sebagai komisaris baru. Keduanya masih menunggu hasil penilaian kemampuan dan kepatutan dari OJK.
Perubahan susunan pengurus itu menjadi bagian dari upaya menjaga kredibilitas dan tata kelola perusahaan. Dengan laba yang melonjak, pendapatan yang naik, dan posisi modal yang kuat, Tugu Insurance menutup 2025 dengan fondasi yang tetap kokoh di tengah industri asuransi yang masih ketat.
