Tomas Hertl menjadi pembeda saat Vegas Golden Knights menutup Game 1 Final Piala Stanley dengan kemenangan 5-4 atas Carolina Hurricanes. Golnya datang kurang dari empat menit sebelum laga selesai dan memastikan Carolina pulang dengan kekalahan dalam pertandingan yang sejak awal berjalan tidak rapi.
Laga ini lebih sering ditentukan oleh kesalahan dan perubahan momentum daripada kontrol permainan. Carolina sempat memimpin dua gol, lalu keunggulan itu hilang setelah serangkaian turnover memberi Vegas banyak ruang untuk membalas.
Vegas justru menunjukkan ketenangan saat berada dalam posisi tertinggal. Shea Theodore memulai kebangkitan Golden Knights, lalu Ivan Barbashev dan William Karlsson mencetak dua gol dalam rentang lima menit untuk membalikkan keadaan menjadi 4-3.
Brett Howden juga tampil penting dalam momen-momen krusial itu. Ia mencatat assist pada gol penyeimbang dan kemudian menambah gol yang membuat Vegas kembali unggul di awal periode ketiga.
Carolina masih sempat menjaga harapan lewat Shayne Gostisbehere, yang menyamakan skor menjadi 4-4 pada pertengahan periode ketiga. Namun, respons Vegas datang lebih cepat dan lebih tepat saat peluang terakhir muncul di bagian akhir laga.
Masalah terbesar Hurricanes terlihat jelas di area penguasaan puck. Kegagalan membersihkan zona sendiri membuka jalan bagi gol penyeimbang Barbashev, sementara turnover di belakang gawang berujung pada gol Karlsson yang mengubah skor menjadi 3-2 untuk Vegas.
Kesalahan serupa kembali muncul di awal periode ketiga. Carolina gagal mengeluarkan puck dari zona, dan situasi itu berakhir dengan gol Howden sebelum Fredrik Andersen menahan peluang jarak dekat dari Pavel Dorofeyev.
Awal pertandingan sebenarnya sempat berpihak pada Carolina. Nikolaj Ehlers membuka skor hanya 25 detik setelah puck drop, lalu menambah satu gol lagi lebih dari 12 menit kemudian sebelum Shea Theodore memperkecil ketertinggalan menjadi 2-1 di akhir periode pertama.
Carolina juga mendapat momen emosional ketika Jordan Staal mencetak gol Final Piala Stanley pertamanya dalam 17 tahun. Gol itu menjaga Hurricanes tetap hidup setelah mereka sempat kehilangan kendali di awal periode kedua dan kembali kebobolan tak lama sesudahnya.
Di kubu Carolina, lini kedua belum memberi jawaban yang dibutuhkan. Taylor Hall, yang memimpin poin Hurricanes selama tiga putaran pertama, tidak mencatat kontribusi poin dan hanya melepaskan dua tembakan.
Lini yang diisi Hall bersama Logan Stankoven dan Jackson Blake juga tidak menghasilkan angka. Kondisi itu menjadi perhatian besar karena trio tersebut sebelumnya termasuk salah satu yang paling berbahaya di postseason.
Bagi Vegas, kemenangan ini menunjukkan pola yang sudah beberapa kali terlihat di babak playoff. Tim asuhan Golden Knights tampak paling nyaman saat harus mengejar, lalu mematahkan momentum lawan dengan efisiensi yang mereka tunjukkan lagi di Game 1.
Itu juga sejalan dengan laju mereka saat menyapu Colorado Avalanche di final Wilayah Barat. Salah satu kekuatan utama Vegas di postseason ini adalah kemampuan menjaga kepala tetap dingin ketika pertandingan berubah kacau.
Data pertandingan ikut menggambarkan betapa liar jalannya laga. Natural Stat Trick mencatat Vegas hanya memiliki shot share 33,3 persen pada 5-on-5 di periode pertama, lalu naik menjadi 53,8 persen di periode kedua sebelum turun lagi ke 34,3 persen saat mereka mencetak dua gol di periode ketiga.
Secara keseluruhan, Vegas menutup pertandingan dengan shot share 39,7 persen. Angka itu menegaskan bahwa mereka tidak harus selalu dominan untuk menang, meski konsistensi dalam penguasaan puck akan sangat penting jika seri ini kembali berlangsung sechaotic Game 1.
Bagi Carolina, hasil ini langsung memberi sinyal bahwa ruang untuk melakukan kesalahan sangat kecil. Golden Knights sudah pulang membawa kemenangan tandang dan membawa modal penting menuju Game 2 pada Kamis.
Source: www.espn.com






