Kebiasaan orang tua menuruti permintaan anak tanpa batas sering terlihat sepele, padahal dampaknya bisa panjang. Anak jadi lebih mudah menganggap setiap keinginan harus dipenuhi sekarang juga, bukan sesuatu yang perlu ditunggu atau diusahakan.
Pola seperti ini juga muncul saat orang tua terlalu sering memakai hadiah untuk mengatur perilaku anak. Sonhood Coaching menilai, jika hadiah dipakai terlalu sering, anak bisa membentuk pola pikir transaksional dan mulai melihat kepatuhan sebagai sesuatu yang harus dibayar.
Salah satu ucapan yang paling sering memicu kebiasaan itu adalah, “Ya sudah, Mama/Papa belikan sekarang, ya.” Kalimat seperti ini membuat anak terbiasa mendapat apa yang diinginkan secara instan, sehingga kemampuan untuk menunggu ikut melemah.
Ucapan lain yang terlihat positif tetapi berisiko adalah, “Kalau kamu nurut, nanti Mama/Papa kasih hadiah.” Saat kalimat semacam ini diulang terus, anak bisa belajar bahwa perilaku baik hanya pantas dilakukan jika ada bonus yang menunggu.
Masalahnya tidak berhenti di hadiah. Ketika orang tua terlalu sering berkata, “Ya sudah, kali ini saja, ya,” batas di rumah menjadi terasa mudah berubah.
Kalimat itu biasanya muncul saat anak merengek atau menangis, lalu orang tua memilih mengalah agar suasana cepat tenang. Jika pola ini terus dibiarkan, anak akan belajar bahwa mendesak lebih lama bisa meningkatkan peluang mendapatkan apa yang diinginkan.
Di sisi lain, anak justru lebih terbantu saat orang tua konsisten membedakan kapan harus setuju dan kapan harus menolak. Penolakan yang disertai alasan jelas membantu anak memahami bahwa tidak semua permintaan harus langsung dipenuhi.
Ada juga ucapan yang terdengar ringan, tetapi diam-diam melemahkan tanggung jawab, yakni “Kalau kamu nggak mau, nggak usah dikerjakan.” Pesan seperti ini bisa membuat anak merasa tugas boleh ditinggalkan begitu saja saat tidak disukai.
Jika kebiasaan tersebut berlangsung terus, anak berisiko tumbuh kurang tangguh ketika menghadapi tantangan. Mereka juga bisa lebih mudah menghindari kewajiban yang terasa tidak nyaman.
Ucapan lain yang perlu diwaspadai adalah, “Sekarang Mama/Papa turuti, tapi nanti harus janji jadi anak baik, ya.” Kalimat ini membuat keinginan anak diposisikan sebagai sesuatu yang wajib dipenuhi saat itu juga, sementara janji tidak selalu punya dasar yang kuat untuk ditepati.
Pendekatan yang lebih sehat adalah mengarahkan anak pada dampak setelahnya, bukan mengandalkan janji. Misalnya, ketika tugas sekolah diselesaikan lebih dulu dengan fokus, anak bisa mendapat lebih banyak waktu untuk bermain setelahnya.
Pola asuh yang hangat tetap dibutuhkan, tetapi hangat saja tidak cukup tanpa batas yang jelas. Saat orang tua terlalu sering membujuk, mengalah, atau memberi kelonggaran tanpa alasan, anak lebih mudah menjadi manja, sulit menunggu, dan kurang siap menerima penolakan.
Source: www.beautynesia.id






