Uji Rudal China di Pasifik Memicu Gelombang Keras, Australia dan Sekutu Meradang

Author: Redaksi Android62

Peluncuran uji coba rudal balistik jarak jauh China ke Samudera Pasifik memicu kekhawatiran baru di kawasan karena dilakukan dari kapal selam bertenaga nuklir dan jatuh di wilayah Zona Bebas Nuklir Pasifik Selatan. Sejumlah negara menilai langkah itu bukan sekadar latihan rutin, melainkan sinyal kekuatan yang mengganggu stabilitas regional.

Yang membuatnya semakin sensitif, peluncuran tersebut berlangsung beriringan dengan latihan angkatan laut gabungan China dan Rusia di lepas pantai Qingdao. Di saat yang sama, Australia dan Fiji juga menandatangani pakta pertahanan untuk merespons pengaruh China di Pasifik.

Reaksi Keras dari Kawasan

Australia, Selandia Baru, Jepang, dan sejumlah negara lain menyebut uji coba itu provokatif dan mengkhawatirkan. Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong bahkan menilainya “meng destabilisasi” dan memperingatkan risiko salah perhitungan di kawasan yang ingin tetap menjadi “samudra perdamaian.”

Selandia Baru menyebut pemberitahuan peluncuran baru diterima beberapa jam sebelumnya, sehingga langkah itu dianggap tidak diinginkan dan mengkhawatirkan. Jepang juga meminta China mempertimbangkan kembali tindakan tersebut dan menyampaikan keprihatinan serius.

Papua Nugini memang telah diberi pengarahan sebelumnya, tetapi tetap menaruh perhatian terhadap meluasnya jejak militer China di Pasifik. Bagi banyak pemerintah di kawasan, persoalannya bukan hanya aspek teknis militer, melainkan juga kepercayaan terhadap komitmen yang telah disepakati.

Fakta Utama Rincian
Jenis uji coba Rudal balistik jarak jauh dengan hulu ledak tiruan
Platform peluncuran Kapal selam bertenaga nuklir
Lokasi jatuh Samudera Pasifik, di Zona Bebas Nuklir Pasifik Selatan
Waktu terkait Bersamaan dengan latihan gabungan China-Rusia di lepas pantai Qingdao

Diduga Terkait Rudal JL-3

Sejumlah analis menduga rudal yang diuji adalah JL-3, jenis yang disebut mampu menjangkau daratan Amerika Serikat. Jika benar, uji coba ini menunjukkan kemajuan penting dalam penangkal nuklir China yang diluncurkan dari kapal selam.

Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok menyatakan peluncuran itu merupakan bagian dari siklus pelatihan militer tahunan. Beijing juga menegaskan uji tersebut mengikuti hukum internasional dan tidak ditujukan kepada negara tertentu.

Namun, lokasi dan waktunya membuat pesan yang dibaca kawasan berbeda dari penjelasan resmi Beijing. Peluncuran itu terjadi di wilayah yang berada di bawah Perjanjian Rarotonga 1986, sementara China sendiri meratifikasi protokolnya pada 1987 dengan janji tidak menguji senjata nuklir di sana.

Karena hulu ledaknya hanya tiruan, uji coba itu tidak dipandang sebagai ledakan nuklir langsung. Meski begitu, banyak pihak menilai simbol dan norma yang terkait kawasan bebas nuklir tetap dilanggar secara politis.

Bayangan Modernisasi Nuklir China

Uji coba ini kembali menyorot modernisasi kekuatan nuklir China yang terus berkembang. Pentagon memperkirakan Beijing memiliki lebih dari 500 hulu ledak nuklir operasional pada 2023, dan jumlah itu diproyeksikan melampaui 1.000 pada 2030.

Catatan itu membuat setiap peluncuran dari kapal selam menjadi penting bagi perencana pertahanan Amerika Serikat dan sekutunya. China terakhir kali melakukan uji coba serupa pada September 2024, yang disebut sebagai peluncuran pertama di perairan internasional dalam beberapa dekade.

Sejak saat itu, tiap langkah serupa semakin dibaca sebagai penegasan bahwa Beijing bersedia menunjukkan kemampuan nuklirnya di luar perbatasan sendiri. Di Pasifik, rangkaian peristiwa ini memperkuat persepsi bahwa persaingan pengaruh, modernisasi militer, dan risiko eskalasi kini bergerak bersamaan.

Pertanyaan yang tersisa adalah apakah negara-negara regional akan menahan diri atau justru memperkuat langkah pertahanan masing-masing. Dalam situasi seperti ini, setiap peluncuran baru dapat dengan cepat berubah menjadi ujian bagi keseimbangan keamanan di Pasifik.

Source: www.viva.co.id
Berita Terbaru