Di Tengah Wabah Ebola yang Meluas, Nakes Kongo Mogok karena Gaji 2 Bulan Tak Dibayar

Author: Redaksi Android62

Gelombang protes meletus di Rumah Sakit Umum Rwampara, Provinsi Ituri, setelah puluhan tenaga kesehatan dan petugas penanganan wabah Ebola menghentikan pekerjaan mereka. Mereka menolak terus bekerja ketika gaji dan insentif selama dua bulan belum juga dibayarkan.

Aksi ini menambah tekanan pada upaya Republik Demokratik Kongo menahan wabah Ebola yang masih meluas. Di fasilitas yang menjadi salah satu pusat penanganan wabah itu, para petugas memilih menutup akses rumah sakit, memblokade jalan menuju fasilitas kesehatan, dan membakar ban sebagai bentuk protes.

Petugas yang ikut mogok dan alasan protes

Peserta aksi terdiri atas ahli epidemiologi, petugas pelacakan kasus, sopir ambulans, hingga petugas pemakaman. Bahati Claude, salah satu petugas kesehatan di Rumah Sakit Umum Rwampara, mengatakan para pekerja sebenarnya tidak ingin berhenti bekerja meski belum menerima pembayaran.

“Kami tidak tahu bagaimana mungkin kami belum dibayar selama dua bulan. Kami tidak ingin berhenti bekerja,” kata Bahati kepada AP.

Lokasi Peserta aksi Bentuk protes
Rumah Sakit Umum Rwampara, Provinsi Ituri Ahli epidemiologi, petugas pelacakan kasus, sopir ambulans, petugas pemakaman Menutup akses rumah sakit, memblokade jalan, membakar ban

Pemerintah diminta memastikan pembayaran tepat sasaran

Di sisi lain, Menteri Kesehatan Kongo Roger Kamba menyebut pemerintah tengah memverifikasi daftar tenaga kesehatan dan petugas penanganan yang benar-benar terlibat. Langkah itu diambil setelah ditemukan sejumlah nama yang tidak berkaitan dengan operasi penanganan Ebola masuk ke dalam daftar penerima gaji.

“Kita harus memastikan bahwa pembayaran ini sampai kepada orang yang tepat,” ujar Kamba. “Kami telah menghadapi beberapa tantangan, terutama perubahan pada daftar yang telah menyebabkan keluhan dari orang-orang yang mengatakan mereka tidak dibayar meskipun mereka bekerja. Kami memiliki cara untuk menyelesaikan masalah ini.”

Wabah masih menekan layanan di lapangan

Situasi tersebut terjadi saat Kongo masih berupaya menekan penyebaran virus Ebola jenis Bundibugyo yang telah berlangsung sejak Mei 2026. Jenis virus ini belum memiliki pengobatan maupun vaksin yang disetujui, sehingga kesiapan tenaga di lapangan menjadi faktor penting dalam respons kesehatan.

Berdasarkan data otoritas kesehatan Kongo, wabah Ebola di negara itu telah mencatat 1.926 kasus positif terkonfirmasi dengan 702 kematian. Angka itu menunjukkan besarnya beban yang masih harus ditangani, sementara sebagian petugas justru memilih mogok karena hak mereka belum diterima.

Pekan lalu, Kamba juga mengatakan wabah telah meluas ke dua provinsi tambahan. Di Provinsi Ituri, Rumah Sakit Umum Rwampara berbeda dengan pusat perawatan kasus Ebola lain yang baru memulai uji klinis dua kandidat terapi Ebola pada awal bulan ini.

Di tengah kebutuhan respons yang cepat, persoalan administrasi gaji ikut mengganggu jalannya penanganan wabah. Kondisi ini membuat beban tenaga kesehatan di lapangan semakin berat saat penularan masih berlangsung dan fasilitas kesehatan tetap menjadi tumpuan utama penanganan.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru