Komisi Eropa membuka jalan bagi langkah yang bisa mengubah cara AI bekerja di Android. Regulator menilai Google perlu memberi akses yang lebih setara kepada layanan AI pesaing untuk masuk lebih dalam ke lapisan sistem, bukan hanya hadir sebagai aplikasi biasa.
Sorotan utamanya ada pada bagian Android yang selama ini membuat Gemini punya keuntungan langsung di ponsel. Yang menjadi perhatian bukan sekadar tampilan aplikasi di layar utama, melainkan integrasi di level sistem operasi yang menyentuh pemicu, izin, dan data kontekstual.
Salah satu titik yang paling disorot adalah pintasan tekan lama pada bilah navigasi Android. Saat ini, pintasan itu dapat memanggil Gemini atau Circle to Search, sekaligus memberi Gemini kemampuan membaca data kontekstual yang muncul di layar.
Menurut Komisi Eropa, akses seperti itu belum terbuka secara adil untuk pengembang AI lain. Karena itu, regulator ingin Google memberi peluang yang setara agar layanan pesaing bisa mendekati pengalaman inti pengguna Android.
Hal lain yang ikut menjadi perhatian adalah kata pemicu khusus milik pesaing, mirip dengan “Hey Google”. Otoritas Eropa menilai akses semacam ini penting agar persaingan AI di Android tidak berhenti di level aplikasi saja.
Regulator juga menyoroti izin Android AppSearch. Izin ini dapat memberi akses ke data aplikasi yang tersimpan secara lokal, tetapi saat ini disebut hanya tersedia untuk asisten default di ponsel.
Jika situasi itu berubah, layanan AI pihak ketiga berpeluang memiliki pijakan yang jauh lebih kuat di sistem operasi. Persaingan pun bisa bergeser dari sekadar siapa yang tersedia di toko aplikasi menjadi siapa yang paling dekat dengan aktivitas harian pengguna.
Komisi Eropa menilai Google punya kewajiban hukum untuk memberi akses yang setara di bawah Digital Markets Act. Penilaian itu muncul karena Google dianggap unggul jauh dalam ekosistem AI ponsel dibanding Apple, sehingga posisinya dinilai perlu diawasi lebih ketat.
Pemeriksaan khusus di bawah Digital Markets Act telah dibuka pada Januari 2026. Kini prosesnya sudah masuk ke temuan pendahuluan dan rancangan langkah perbaikan yang dapat memengaruhi arah kebijakan Google di Android.
Komisi juga membuka konsultasi publik untuk menilai efektivitas langkah yang diusulkan. Pihak terkait diminta menyampaikan pandangan paling lambat 13 Mei 2026, sebelum Komisi menilai masukan itu bersama argumen dari Google.
Keputusan final dijadwalkan diambil pada akhir Juli 2026. Kerangka waktu ini penting karena dapat menentukan seberapa jauh Google harus membuka fitur internal Android kepada pesaing.
Google menolak usulan tersebut dan menyebutnya tidak beralasan. Senior Competition Counsel Alphabet Clare Kelly mengatakan kepada Reuters bahwa intervensi itu akan menghilangkan otonomi pengguna.
Kelly juga menilai kebijakan itu akan mewajibkan akses ke perangkat keras sensitif dan izin perangkat. Menurut Google, langkah seperti itu dapat menaikkan biaya tanpa alasan yang jelas sekaligus melemahkan perlindungan privasi dan keamanan pengguna di Eropa.
Di sisi lain, Komisi Eropa tetap menilai intervensi diperlukan untuk menjaga inovasi pasar. Wakil Presiden Eksekutif Teresa Ribera mengatakan langkah itu akan memberi pengguna Android kebebasan memilih dari beragam layanan yang bersaing dengan AI milik Google.
Perkara ini juga membuka pertanyaan yang lebih besar tentang siapa yang mengendalikan AI di ponsel. Saat AI tertanam di tombol, izin sistem, data kontekstual layar, dan pemicu suara, pemilik platform otomatis punya keunggulan yang sangat besar.
Ada pula contoh lain yang ikut memperkuat kekhawatiran soal pembatasan di level perangkat. Pada ponsel Pixel, membuka bootloader disebut membuat Gemini Nano nonaktif, dan itu dipandang sebagai bentuk penguncian perangkat keras yang menyulitkan pengguna serta pengembang.
Bagi regulator Eropa, pola seperti itu sejalan dengan hambatan yang ingin dibongkar oleh DMA. Bagi Google, hasil kasus ini bisa menjadi preseden penting yang menentukan seberapa jauh perusahaan harus membuka pengalaman AI Android kepada rivalnya.
Source: gadgets.beebom.com






