Unilever Catat Laba Rp 1,3 Triliun Di Kuartal I-2026, Efisiensi Mulai Berbuah

Author: Redaksi Android62

Laba bersih PT Unilever Indonesia Tbk dari operasi yang dilanjutkan naik 14,1 persen menjadi Rp 1,3 triliun pada kuartal I-2026. Capaian itu menjadi sinyal bahwa langkah efisiensi dan transformasi yang dijalankan perseroan mulai memberi hasil nyata.

Penguatan laba tersebut tidak berdiri sendiri. Di periode yang sama, penjualan bersih ikut tumbuh 2,8 persen menjadi Rp 8,4 triliun, didukung oleh kenaikan penjualan domestik 3,5 persen dan pertumbuhan volume dasar 2,1 persen.

Perbaikan laba lebih cepat dari penjualan

Di sisi profitabilitas, Unilever Indonesia mencatat kenaikan laba sebelum pajak sebesar 18,9 persen. Kenaikan itu setara 167 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Marjin kotor perusahaan berada di level 48,2 persen. Angka itu turun tipis 18 basis poin, tetapi belum mengubah gambaran bahwa perbaikan laba tetap berjalan kuat.

Kombinasi pertumbuhan penjualan dan efisiensi membuat kinerja kuartalan perusahaan terlihat lebih solid. Hasil ini juga menunjukkan bahwa pemulihan bisnis tidak hanya bertumpu pada pendapatan, tetapi juga pada pengelolaan biaya dan kualitas eksekusi.

Efisiensi, portofolio, dan digital jadi penopang

Presiden Direktur Unilever Indonesia Benjie Yap menilai fundamental perusahaan terus membaik pada paruh pertama 2026. Ia menyebut efisiensi biaya dan transformasi portofolio menjadi penopang utama penguatan struktur keuangan perseroan.

Benjie juga mengatakan disiplin eksekusi selama setahun terakhir mulai terlihat pada kualitas pertumbuhan, kekuatan eksekusi di pasar, dan ketangguhan kinerja keuangan. “Hasil kuartal pertama 2026 menandai langkah penting untuk terus maju,” ujarnya.

Manajemen saat ini menjalankan tiga pilar prioritas untuk menjaga momentum bisnis. Salah satunya adalah inovasi produk melalui pendekatan 6P agar merek tetap kompetitif di pasar.

Transformasi portofolio juga mulai memberi kontribusi yang lebih besar pada awal tahun ini. Sumbangsihnya naik dari 8,3 persen menjadi 10 persen, menandakan perubahan bauran bisnis mulai berdampak pada hasil perusahaan.

Selain itu, peningkatan efisiensi operasional dan percepatan transformasi digital ikut menjaga ketahanan marjin kotor. Langkah ini menjadi penting karena perseroan masih menghadapi tekanan dari fluktuasi nilai tukar mata uang asing dan kenaikan biaya input produksi.

Perbaikan yang terlihat pada kuartal I-2026 memberi ruang bagi Unilever Indonesia untuk menjaga kualitas pertumbuhan. Benjie menegaskan bahwa fondasi yang membaik dan momentum yang menguat memperkuat keyakinan manajemen terhadap arah bisnis perseroan.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru