Pemulihan operasi tambang emas Martabe menjadi salah satu agenda penting United Tractors karena aset ini kembali disiapkan untuk mendukung produksi emas perseroan. Setelah izin operasional dari Kementerian Lingkungan Hidup terbit pada Maret, perusahaan menargetkan aktivitas penambangan bisa berjalan lagi pada pertengahan Mei, dengan catatan seluruh kesiapan teknis dan administratif sudah lengkap.
Presiden Direktur United Tractors, Iwan Hadiantoro, menekankan bahwa pembukaan kembali tambang tidak bisa dilakukan terburu-buru. Menurut dia, perusahaan harus memastikan berbagai prasyarat telah beres, mulai dari peralatan, dokumen, hingga prosedur kerja di lapangan agar operasi berjalan sesuai ketentuan.
Kesiapan Lapangan Jadi Penentu
Iwan menyampaikan bahwa proses menghidupkan kembali Martabe tidak hanya bergantung pada izin yang sudah turun. Perusahaan masih harus menuntaskan sejumlah pekerjaan pendukung sebelum alat kembali dioperasikan dan produksi dimulai.
“Untuk membuka tambang itu banyak faktor yang harus kami siapkan. Kami harapkan sambil mempersiapkan ini dan paperwork-nya keluar, mungkin pertengahan Mei kami bisa beroperasi lagi,” ujar Iwan dalam konferensi pers di Jakarta.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa UNTR memilih langkah hati-hati dalam memulihkan operasi tambang emas strategis tersebut. Sikap ini juga penting karena Martabe termasuk salah satu aset emas utama dalam portofolio perseroan.
Target Produksi yang Dibidik
Berdasarkan data yang dilansir dari Market, produksi emas dari Martabe dipatok sekitar 60.000 ons untuk sisa tahun ini. Target tersebut menjadi salah satu penopang yang diharapkan bisa menjaga volume penjualan emas UNTR setelah sempat mengalami tekanan pada lini segmen emas.
Selain target produksi Martabe, Direktur UNTR Vilihati Surya juga menyebutkan target penjualan emas gabungan dari Agincourt Resources dan Sumbawa Juta Raya mencapai 82.000 ons. Berikut ringkasan angka yang disebutkan perseroan:
- Produksi emas Martabe: 60.000 ons
- Penjualan emas gabungan Agincourt Resources dan SJR: 82.000 ons
Angka itu menegaskan bahwa bisnis emas masih memiliki peran dalam struktur pendapatan UNTR, meski kontribusinya belum melampaui lini usaha lain yang lebih besar.
Tekanan pada Segmen Emas
Sepanjang periode berjalan, segmen emas UNTR mencatat penjualan setara emas sebesar 227.000 ons. Capaian itu turun 2 persen dibandingkan periode sebelumnya, dengan PT Agincourt Resources atau PTAR turun 7 persen menjadi 213.000 ons dan SJR menyumbang 14.000 ons.
Kondisi tersebut membuat kembalinya Martabe menjadi perhatian pasar. Tambahan produksi dari tambang ini berpeluang menahan pelemahan volume penjualan emas sekaligus memperbaiki kinerja segmen mineral pada periode berikutnya.
Lini Usaha Lain Masih Mendominasi
Di sisi lain, United Tractors masih bertumpu pada bisnis utama di luar emas. Perseroan membukukan pendapatan bersih Rp131,3 triliun, turun 2,32 persen dari Rp134,4 triliun pada periode sebelumnya, sementara laba bersih menyusut 24,17 persen menjadi Rp14,81 triliun dari Rp19,53 triliun pada 2024.
Kontributor terbesar pendapatan tetap berasal dari kontraktor penambangan sebesar Rp54,1 triliun, disusul mesin konstruksi Rp36,6 triliun, pertambangan batu bara Rp24,2 triliun, serta pertambangan emas dan mineral lainnya Rp14 triliun. Dalam susunan ini, aktivasi kembali Martabe pada pertengahan Mei akan menjadi salah satu sinyal penting bagi upaya UNTR menjaga keseimbangan portofolio di tengah tekanan bisnis tambang dan pergerakan harga komoditas.







