UNY Klarifikasi Dugaan Alumni Terlibat Riset Palsu di Denmark, Data Masih Dicek

Author: Redaksi Android62

Universitas Negeri Yogyakarta atau UNY kini ikut berada di tengah perhatian publik setelah nama alumninya disebut dalam dugaan skandal riset palsu yang ramai dibahas di media sosial. Kampus memastikan belum mengambil kesimpulan dan masih menelusuri kebenaran identitas pihak yang disebut terlibat.

Sorotan terhadap kasus ini bermula dari unggahan akun Instagram @w.o.d.d yang banyak dibagikan ulang. Unggahan tersebut menuduh adanya pemalsuan riset secara terorganisasi oleh sejumlah peserta asal Indonesia dalam International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases atau ISPPD 2026 yang berlangsung pada 17-21 Mei 2026 di Kopenhagen, Denmark.

Dugaan yang ramai di media sosial

Dalam unggahan itu, riset yang dipresentasikan disebut tidak pernah benar-benar ada. Akun tersebut juga menuliskan bahwa data, gambar, dan teks yang dipakai diduga dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan atau AI.

Masih dalam unggahan yang sama, ada tuduhan bahwa salah satu peserta mengganti jilbab dan tanda pengenal saat presentasi. Dugaan itu dikaitkan dengan upaya menghindari deteksi ketika mengikuti forum ilmiah tersebut.

Selain itu, skema yang dituduhkan juga dikaitkan dengan upaya memperoleh dana travel grant. Jalur itu diduga dimanfaatkan agar peserta dapat mengikuti konferensi internasional tanpa biaya.

Nama alumni UNY ikut disebut

Isu ini semakin meluas setelah akun X @RidhaIntifadha membagikan identitas empat nama yang diduga terlibat. Dari unggahan tersebut, dua nama disebut sebagai alumni UNY dan memicu reaksi publik.

Menanggapi ramainya kabar itu, Wakil Rektor Bidang Akademik UNY Nur Hidayanto mengatakan kampus masih melakukan penelusuran. Ia menyebut ada tiga nama yang memiliki kesamaan dengan data alumni yang tercatat di kampus.

“Setahu saya ada tiga nama yang kemarin kami cek memiliki kesamaan dengan alumni kami,” ujarnya, Kamis (28/5/2026).

UNY belum memastikan status alumni

Meski ada nama yang mirip dengan data kampus, Nur menegaskan kesamaan nama belum cukup untuk memastikan seseorang benar-benar alumni UNY. Karena itu, kampus tetap melakukan klarifikasi secara teliti sebelum menarik kesimpulan apa pun.

“Kami tetap melakukan klarifikasi terlebih dahulu agar bisa dipastikan apakah benar alumni kami atau bukan. Informasi di media sosial harus dicek sangat teliti,” katanya.

UNY juga sempat melihat unggahan klarifikasi dari salah satu nama yang disebut terlibat. Namun unggahan tersebut kemudian dihapus, sehingga status orang yang dimaksud tetap belum jelas.

Dalam klarifikasi yang sempat muncul itu, yang bersangkutan belum mengonfirmasi apakah benar alumni UNY atau bukan. Kondisi itu membuat kampus masih harus mengumpulkan data tambahan dan berkoordinasi dengan pihak terkait.

Langkah lanjutan dari kampus

UNY menegaskan akan mengikuti arahan resmi dari kementerian bila nantinya terbukti ada alumni yang terlibat pelanggaran etik dan akademik. Menurut Nur, pembahasan lanjutan akan dilakukan bersama pimpinan universitas serta pihak terkait jika memang ada temuan yang mengarah ke sana.

“Ke depannya kami mengikuti arahan kementerian jika memang terbukti ada permasalahan. Tentu akan dibahas bersama pimpinan universitas dan pihak terkait,” ujar Nur.

Di tengah proses penelusuran itu, perhatian publik masih tertuju pada tuduhan pemalsuan riset, penggunaan AI, dan dugaan manipulasi identitas yang membuat kasus ini cepat menyebar di ruang digital. Kepastian soal nama-nama yang disebut diharapkan segera terjawab setelah proses klarifikasi selesai.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru