Utang Pemerintah Dekati Rp 10.000 Triliun, Rupiah Masih Tertahan Di Rp 17.604 per Dolar AS

Author: Redaksi Android62

Posisi utang pemerintah Indonesia per akhir Maret tercatat sebesar Rp 9.920,42 triliun. Angka itu memang makin dekat ke batas psikologis Rp 10.000 triliun, tetapi pemerintah menyatakan kondisinya masih aman karena rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto berada di level 40,75 persen.

Di saat perhatian publik tertuju pada besarnya utang, rupiah justru sedang bergerak di bawah tekanan. Pada perdagangan pagi ini, kurs spot berada di level Rp 17.604 per dolar Amerika Serikat hingga pukul 09.00 WIB, melemah 75 poin atau 0,43 persen.

Utang yang besar, tetapi rasio masih terkendali

Kekhawatiran pasar muncul karena total utang pemerintah terus bertambah. Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan menunjukkan nilainya naik Rp 282,52 triliun dibanding posisi akhir Desember 2025 yang sebesar Rp 9.637,90 triliun.

Meski nominalnya besar, pemerintah menekankan bahwa rasio utang Indonesia masih jauh di bawah batas aman 60 persen sesuai Undang-Undang Keuangan Negara. Dengan rasio 40,75 persen dari PDB, ruang fiskal disebut masih terjaga.

Pengamat ekonomi dan pasar uang Ibrahim Assuaibi juga menyampaikan bahwa Menteri Keuangan menilai posisi utang tersebut masih aman. Penilaian itu ikut meredam kekhawatiran bahwa kedekatan angka utang dengan Rp 10.000 triliun otomatis berarti kondisi fiskal memburuk.

Pembiayaan negara masih bertumpu pada SBN

Struktur utang pemerintah masih didominasi Surat Berharga Negara. DJPPR Kementerian Keuangan mencatat nilai SBN mencapai Rp 8.652,89 triliun atau sekitar 87,22 persen dari total utang pemerintah per 31 Maret.

Komposisi itu menunjukkan pembiayaan negara masih sangat bergantung pada instrumen surat berharga. Dalam situasi seperti ini, stabilitas pasar keuangan ikut menjadi penting karena berpengaruh pada pengelolaan utang dan kepercayaan investor.

Ibrahim menilai posisi utang Indonesia juga masih lebih rendah dibanding sejumlah negara lain. Ia menyebut Singapura berada di level 180 persen terhadap PDB dan Malaysia berada di atas 60 persen terhadap PDB.

Rupiah masih sensitif terhadap sentimen luar negeri

Di pasar valas, rupiah belum menunjukkan arah yang stabil. Sebelum kembali melemah di pasar spot, rupiah sempat menguat di data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor Bank Indonesia ke level Rp 17.496 pada Rabu, 13 Mei, dari posisi Rp 17.514 pada perdagangan Selasa, 12 Mei.

Perubahan yang cepat itu memperlihatkan pasar masih sangat peka terhadap faktor eksternal. Dalam pantauan awal Jumat pagi, rupiah bergerak lebih lemah lagi dan menegaskan pola fluktuatif yang masih dominan.

Pelemahan rupiah juga tidak lepas dari sentimen global yang rapuh. Pasar masih mencermati pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa negosiasi dengan Iran berada dalam kondisi kritis.

BI terus menjaga stabilitas rupiah

Bank Indonesia tetap aktif melakukan stabilisasi lewat intervensi di pasar off-shore atau Non Deliverable Forward. Langkah itu dilakukan secara berkesinambungan di pasar New York, Asia, dan Eropa untuk meredam tekanan dari luar negeri.

Bank sentral juga disebut akan memperkuat intervensi di pasar domestik sejak pembukaan 18 Mei. Instrumen yang digunakan mencakup pasar valas, baik spot maupun DNDF, serta pembelian SBN di pasar sekunder.

Kekhawatiran pasar ikut bertambah karena ketegangan geopolitik dinilai dapat mengganggu jalur pengiriman minyak global melalui Selat Hormuz. Jika jalur itu terdampak, tekanan inflasi dari harga energi bisa meningkat dan prospek suku bunga menjadi semakin sulit diperkirakan.

Dengan kondisi tersebut, rupiah berpotensi tetap bergerak naik turun mengikuti perkembangan eksternal dan langkah stabilisasi dari Bank Indonesia. Sementara itu, pemerintah masih menegaskan bahwa struktur utang negara tetap berada dalam batas yang aman.

Source: www.viva.co.id
Berita Terbaru