Sepuluh peserta tunarungu tercatat mengikuti UTBK-SNBT di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, dan seluruhnya menjalani ujian di Gedung FMIPA Blok C, Kampus Utama Darussalam. Kehadiran mereka menjadi sorotan karena pelaksanaan tes disiapkan dengan pendekatan yang lebih ramah agar peserta disabilitas dapat mengikuti seleksi secara setara.
Komposisi peserta itu terdiri atas sembilan laki-laki dan satu perempuan. Nama-nama yang terdaftar ialah Fathan Muyassar, Muhammad Riski Pratama, Rifki Julian, Risky, Ferdyansyah, Bayhaqi, Teuku Sultan Syah Redhy, Muhammad Afdhalul Yasin, Muhammad Dzaky Izzuddin, Muhammad Fashihul Lisan, dan Adilla Zahra Luthfia.
Di USK, layanan untuk peserta tunarungu tidak hanya berkaitan dengan penyediaan ruang ujian. Panitia juga menyiapkan petugas pengawas yang memiliki kemampuan komunikasi khusus agar proses berlangsung lebih lancar dan tidak menimbulkan hambatan berarti.
Rektor USK, Profesor Mirza Tabrani, menegaskan bahwa infrastruktur serta sistem ujian memang sudah disiapkan untuk mendukung peserta disabilitas. Pengaturan ruang juga dibuat aksesibel, sehingga peserta dapat mengerjakan tes dalam suasana yang tertata dan aman.
Pelaksanaan ujian yang tetap ketat
UTBK-SNBT di Gedung FMIPA Blok C disebut berjalan dengan standar operasional prosedur yang ketat. Meski begitu, suasana humanis tetap dijaga agar peserta disabilitas bisa lebih fokus dan tidak terbebani oleh situasi teknis.
Pendekatan seperti ini penting karena kebutuhan peserta tunarungu tidak berhenti pada soal komunikasi saja. Lingkungan ujian yang nyaman, mudah diakses, dan minim tekanan ikut menentukan kelancaran mereka saat menjalani seleksi.
Ruang yang lebih terbuka bagi calon mahasiswa disabilitas
Kehadiran 10 peserta tunarungu di USK memperlihatkan bahwa akses menuju pendidikan tinggi terus meluas melalui layanan yang lebih inklusif. Seleksi masuk perguruan tinggi pun tampak tidak lagi dipahami semata sebagai persaingan nilai, melainkan juga sebagai kesempatan yang harus bisa dijangkau semua calon mahasiswa.
Prof Mirza menyampaikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih mimpi. Pandangan itu menjadi dasar bagi USK dalam memposisikan diri bukan hanya sebagai tempat pendidikan tinggi, tetapi juga sebagai ruang yang membuka peluang setara.
Komitmen kampus pada kesetaraan
USK menyatakan ingin memperkuat posisinya sebagai kampus yang menjunjung kesetaraan dan keadilan sosial dalam pendidikan. Komitmen itu menuntut lebih dari sekadar slogan, karena pendidikan inklusif baru terasa nyata ketika fasilitas, petugas, dan mekanisme layanan benar-benar dapat digunakan oleh semua peserta.
Dalam konteks UTBK-SNBT, langkah USK menunjukkan bahwa pelaksanaan ujian bisa disesuaikan tanpa mengurangi standar seleksi. Dengan dukungan petugas yang memahami kebutuhan peserta dan fasilitas yang ditata khusus, calon mahasiswa disabilitas mendapat ruang yang lebih setara untuk menunjukkan kemampuan mereka.
Pelaksanaan di Banda Aceh ini menjadi salah satu contoh bagaimana akses pendidikan tinggi dapat dirancang lebih ramah bagi penyandang disabilitas. Sepuluh peserta tunarungu yang mengikuti ujian di USK pun menjadi penanda bahwa jalur menuju perguruan tinggi terus bergerak ke arah yang lebih terbuka dan inklusif.
Source: mediaindonesia.com






