Uzbekistan menorehkan sejarah sebagai negara Asia Tengah pertama yang lolos ke Piala Dunia putra. Keberhasilan itu tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan dari pembangunan panjang di level usia muda, reformasi olahraga, dan perubahan arah politik di dalam negeri.
Di atas lapangan, fondasi paling kuat datang dari pembinaan kelompok umur. Uzbekistan menjuarai Piala Asia U20 pada 2023, mencapai final Piala Asia U23 pada 2024, dan merebut Piala Asia U17 pada 2025.
Tim U23 mereka juga tampil di Olimpiade Paris 2024. Pada periode itu, tim tersebut ditangani Timur Kapadze, sosok yang kemudian naik ke tim nasional senior setelah pekerjaannya di sektor pembinaan mendapat pengakuan.
Regenerasi yang menghasilkan nama besar
Dari jalur itu muncul sejumlah pemain yang kini menjadi penopang tim nasional. Abdukodir Khusanov, bek berusia 22 tahun, dibeli Manchester City pada 2025 dengan nilai 40 juta euro.
Nama lain yang menonjol adalah Eldor Shomurodov. Ia menjadi kapten tim nasional dan masih dikenal luas di Italia, dengan status kepemilikan Roma dan masa peminjaman di Istanbul Başakşehir, tempat ia mencetak 21 gol dalam 33 pertandingan.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa Uzbekistan tidak hanya mengandalkan satu generasi, melainkan membangun alur pasokan pemain dari kelompok umur ke tim senior. Hasilnya kini terlihat pada kekuatan skuad yang siap bersaing di level tertinggi.
Peran Cannavaro dan pengalaman di Asia
Fabio Cannavaro datang setelah tiket Piala Dunia sudah diamankan, tetapi penunjukannya tetap punya arti penting. Federasi menilai pengalaman kepelatihannya di Asia menjadi modal utama, terutama ketika ia melatih di China dan Arab Saudi antara 2014 dan 2019.
Di Eropa, rekam jejak Cannavaro sebagai pelatih tidak sekuat namanya sebagai pemain. Antara 2022 dan 2025, ia menangani Benevento, Udinese, dan Dinamo Zagreb tanpa hasil yang menonjol.
Timur Kapadze sempat kehilangan posisinya meski berperan besar dalam pembentukan fondasi tim. Namun ia tetap bekerja bersama Cannavaro, sehingga transisi di tim nasional berjalan tanpa memutus kesinambungan yang sudah dibangun sebelumnya.
Olahraga, politik, dan citra negara
Keberhasilan sepak bola juga terkait langsung dengan cara Uzbekistan membangun citra internasional. Pemerintah di bawah Shavkat Mirziyoyev tetap mempertahankan sistem otoriter, tetapi membuka lebih banyak ruang bagi hubungan dengan negara Barat, pariwisata, dan investor asing sejak 2016.
Dalam konteks itu, olahraga menjadi alat promosi yang penting. Namun, investasi besar di sektor ini juga memunculkan tudingan sportwashing, karena pemerintah dinilai memakai prestasi olahraga untuk memperhalus citra politik.
Federasi sepak bola direformasi besar-besaran pada 2018 dan kini praktis berada di bawah kendali pimpinan militer. Ketua federasi adalah Bakhodir Kurbanov, yang juga memimpin dinas intelijen.
Negara ini juga menyiapkan proyek infrastruktur ambisius, termasuk stadion berkapasitas 50.000 penonton di New Tashkent. Nilai proyek itu sekitar 100 juta euro, dengan target menjadi fasilitas sepak bola paling maju di Asia.
Dari Olimpiade sampai rencana besar New Uzbekistan
Di luar sepak bola, Uzbekistan juga mencatat capaian terbaiknya di Olimpiade Paris dengan 13 medali total, delapan di antaranya emas. Hampir seluruh medali itu datang dari cabang olahraga tarung, yang ikut memperkuat narasi kebangkitan olahraga nasional.
Mirziyoyev mengaitkan pencapaian tersebut dengan gagasan “New Uzbekistan”, slogan yang sering dipakai pemerintah. Ketika tim nasional memastikan lolos ke Piala Dunia 2026, ia mengatakan keberhasilan itu akan memperkuat “otoritas internasional” New Uzbekistan.
Transformasi ekonomi ikut menopang gambaran baru negara tersebut. Jika dulu ekonomi sangat bergantung pada kapas, kini Uzbekistan termasuk salah satu eksportir utama emas, tembaga, dan gas alam, sementara Bank Dunia menempatkannya di antara ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di kawasan Eurasia.
Menuju debut dengan modal hasil jangka panjang
Sebelum tampil di Piala Dunia, Uzbekistan menjalani serangkaian uji coba yang memberi gambaran tentang level mereka. Mereka menang atas Kuwait, Mesir, dan Gabon, imbang melawan Iran dan Venezuela, lalu kalah dari Uruguay, Kanada, dan Belanda.
Rangkaian hasil itu menunjukkan tim yang cukup solid untuk menahan lawan yang lebih kuat, meski tantangan di Piala Dunia tetap berat. Laga perdana akan menghadapkan mereka kepada Kolombia, sebelum bertemu Portugal dan Republik Demokratik Kongo.
Dengan latar seperti itu, debut Uzbekistan di Piala Dunia bukan sekadar cerita satu turnamen. Ini adalah hasil dari pembinaan panjang, pemanfaatan olahraga sebagai instrumen negara, dan ambisi besar untuk mengubah posisi Uzbekistan di panggung internasional.
