Rencana pembangunan hunian tetap atau huntap bagi penyintas bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah mencapai 39.217 unit. Dari total itu, 1.091 unit sedang dikerjakan dan 406 unit sudah selesai dibangun.
Percepatan ini menjadi fokus utama rehabilitasi dan rekonstruksi jangka panjang setelah kebutuhan dasar para penyintas melalui hunian sementara mulai terpenuhi. Pemerintah kini mendorong pemulihan ke tahap yang lebih permanen agar warga terdampak kembali memiliki kepastian tempat tinggal.
Aceh memegang porsi kebutuhan terbesar
Aceh menjadi wilayah dengan kebutuhan huntap paling besar, yakni 28.910 unit. Di provinsi ini, 722 unit sedang dibangun dan 157 unit telah rampung.
Di Sumatera Utara, kebutuhan huntap tercatat 7.483 unit. Sebanyak 312 unit tengah dikerjakan dan 227 unit sudah selesai.
Adapun Sumatera Barat membutuhkan 2.824 unit huntap. Hingga pertengahan Juni 2026, 57 unit di provinsi ini telah masuk tahap pembangunan.
Data penerima masih divalidasi di lapangan
Percepatan pembangunan tidak hanya bergantung pada lahan dan pekerjaan konstruksi, tetapi juga pada ketepatan data penerima. Di Kabupaten Pidie Jaya, verifikasi dan pemutakhiran data calon penerima huntap masih berlangsung agar pembangunan sesuai kebutuhan warga.
Kepala BPBD Pidie Jaya, Okta Handipa, mengatakan sebagian warga masih menyesuaikan pilihan skema hunian, baik huntap in-situ maupun komunal. Karena itu, validasi ulang diperlukan sebelum pembangunan dijalankan lebih jauh.
“Huntap sedang verifikasi kembali data. Data masyarakat sebenarnya sudah ada, tetapi masih ada warga yang ingin berpindah dari skema in-situ ke terpusat (komunal) maupun sebaliknya,” ujarnya.
SK baru disiapkan untuk dasar pengajuan
Setelah proses finalisasi data selesai, pemerintah daerah kini menyiapkan surat keputusan atau SK terbaru sebagai dasar pengajuan pembangunan kepada Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera.
Satgas PRR terus mengoordinasikan percepatan pembangunan di wilayah terdampak agar tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan sesuai rencana. Langkah ini juga memastikan kebutuhan masyarakat di lapangan tidak meleset dari data yang sudah disepakati.
Model percontohan sudah lebih dulu dibangun
Sebagai tahap awal, pembangunan huntap percontohan telah dilakukan di Kecamatan Meurah Dua, Meureudu, dan Pantee Raja. Model ini dipakai sebagai pijakan sebelum pembangunan dalam skala yang lebih besar dijalankan.
Di Pidie Jaya, perhatian pemerintah daerah kini bergeser dari penyediaan hunian sementara ke penyelesaian huntap bagi masyarakat terdampak banjir. Seluruh proses tersebut tetap dikawal bersama para pemangku kepentingan agar pemulihan berjalan bertahap dan sesuai kebutuhan warga.
Source: www.medcom.id






