VAR Dianulir, Mesir Tumbang dari Argentina di Laga Penuh Kartu Kuning

Author: Redaksi Android62

Argentina memastikan langkah ke perempat final Piala Dunia 2026 setelah menekuk Mesir 3-2 di Stadion Atlanta, tetapi kemenangan itu langsung dibayangi kontroversi wasit. Sejumlah keputusan di lapangan memicu protes keras dari kubu Mesir, terutama pada momen gol yang dianulir dan dugaan pelanggaran di kotak penalti.

Kontroversi paling besar muncul ketika gol Mostafa Ziko tidak disahkan oleh wasit setelah peninjauan VAR. Penyerang Mesir itu sempat merayakan gol saat timnya masih memimpin 1-0, namun keputusan akhirnya dibatalkan karena dinilai ada pelanggaran terhadap Lisandro Martinez pada fase awal serangan.

Keputusan tersebut memancing perdebatan karena banyak pihak menilai jarak antara pelanggaran dan gol terlalu jauh. Meski demikian, aturan IFAB memang memberi kewenangan kepada VAR untuk meninjau pelanggaran dalam fase pembangunan serangan sebelum gol tercipta.

Mesir Kehabisan Kesabaran di Tengah Hujan Kartu Kuning

Ketegangan tidak berhenti pada gol yang dianulir. Pada babak kedua, Mesir harus menghadapi deretan kartu kuning yang datang dalam waktu berdekatan untuk Mostafa Shobeir, Hamdi Fathy, dan Marwan Attia.

Pelatih Hossam Hassan juga ikut menerima kartu kuning setelah melancarkan protes keras dari area teknis. Mohamed Salah berulang kali terlihat berusaha menenangkan rekan-rekannya di tengah situasi yang semakin memanas.

Di mata kubu Mesir, standar hukuman wasit dianggap tidak konsisten. Mereka menilai pelanggaran serupa dari pemain Argentina tidak selalu berujung pada sanksi yang sama.

Penalti yang Tidak Ditinjau dan Gol Penentu Argentina

Perdebatan lain muncul menjelang gol kemenangan Argentina yang dicetak Enzo Fernandez pada masa injury time. Pemain Mesir menganggap mereka layak mendapat penalti setelah dugaan tarikan jersey oleh Alexis Mac Allister di dalam kotak penalti.

Namun, wasit tidak menghentikan pertandingan untuk meninjau insiden tersebut melalui VAR. Laga justru berlanjut, dan Argentina memanfaatkan transisi cepat untuk mengunci kemenangan lewat gol penentu itu.

Ketiadaan peninjauan VAR pada momen krusial tersebut membuat Mesir menilai ada ketidakkonsistenan dalam penerapan aturan. Dari sana, tudingan standar ganda pun menguat karena keputusan penting itu terjadi saat pertandingan masih terbuka.

Dari Keunggulan Mesir ke Kebangkitan Argentina

Mesir sempat berada di atas angin setelah unggul 2-0. Namun, Argentina mampu membalikkan keadaan lewat tiga gol dalam rentang 13 menit dan mengubah jalannya pertandingan menjadi drama penuh debat hingga peluit akhir.

Hasil itu sekaligus menjaga peluang Lionel Messi dan Argentina untuk terus mempertahankan gelar juara dunia. Messi tampak emosional setelah memastikan timnya melaju, sementara lawan mereka harus menerima kenyataan pahit tersingkir dari turnamen.

Bagi Mohamed Salah, kekalahan ini terasa lebih berat karena laga tersebut disebut berpotensi menjadi penampilan terakhirnya di Piala Dunia. Argentina kini bersiap menghadapi Swiss, sedangkan keputusan-keputusan wasit dalam laga melawan Mesir masih terus menuai sorotan.

Desakan agar FIFA mengevaluasi jalannya pertandingan pun mengemuka demi menjaga integritas turnamen. Bagi Mesir, laga ini bukan hanya soal kekalahan, tetapi juga soal rangkaian keputusan yang dianggap mengubah arah pertandingan di momen paling menentukan.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru