Vinyl album Presents… milik Reality Club terjual habis dalam dua hari setelah dirilis pada 11 Juni 2026. Respons itu menjadi sinyal kuat bahwa minat terhadap rilisan fisik masih besar, terutama saat dikemas sebagai karya koleksi dengan konsep yang matang.
Keberhasilan tersebut juga menandai tahap baru bagi band ini. Setelah merampungkan mimpi lama untuk menghadirkan album dalam format piringan hitam, Reality Club kini mulai menyiapkan agenda berikutnya yang mengarah ke panggung internasional.
Rilisan fisik yang sudah lama direncanakan
Keinginan Reality Club untuk merilis vinyl bukan hal yang muncul mendadak. Faiz Novascotia Saripudin mengatakan gagasan itu sudah ada sejak penggarapan Never Get Better pada 2017, lalu terus dibahas dari album pertama hingga album kedua.
Menurut Faiz, proses tersebut memang membutuhkan kesiapan produksi yang matang. Karena itu, realisasinya baru bisa terjadi setelah band menemukan waktu dan dukungan yang tepat bersama Universal Music Indonesia.
Alasan Presents… dipilih menjadi debut
Fathia Izzati, atau Chia, menyebut Presents… sebagai album yang paling cocok untuk menjadi rilisan vinyl perdana. Ia menilai album ini punya karakter sinematik, baik dari sisi tema maupun cara promosi yang menyertainya.
Karakter itu diperkuat oleh susunan musik yang lebih kaya. Reality Club menggandeng Bilal Indrajaya dan Budapest Scoring Orchestra, dengan total 11 lagu yang membuat album ini terasa pas dihadirkan dalam format piringan hitam.
| Informasi | Detail |
|---|---|
| Album | Presents… |
| Format | Vinyl |
| Tanggal rilis | 11 Juni 2026 |
| Jumlah lagu | 11 lagu |
| Kolaborasi | Bilal Indrajaya dan Budapest Scoring Orchestra |
Daya tarik vinyl bagi pendengar muda
Faiz melihat ketertarikan generasi Milenial dan Gen Z terhadap vinyl tidak hanya berkaitan dengan nostalgia. Bagi mereka, piringan hitam memberi pengalaman memiliki musik dalam bentuk nyata yang bisa dipegang langsung.
Ia juga menilai aspek visual dan karakter suara dari vinyl menjadi pembeda penting dibanding format digital. Artwork berukuran besar dan sensasi mendengar musik dengan cara yang berbeda memberi nilai personal yang lebih kuat bagi pendengar.
Makna lagu ikut berubah seiring waktu
Perilisan ulang album dalam format vinyl juga membuat para personel melihat karya lama dari sudut pandang baru. Setelah tiga tahun sejak perilisan awal, beberapa lagu terasa memiliki lapisan makna yang berbeda bagi mereka.
Era Patigo mencontohkan lagu “Love Epiphany” yang kini ia pandang sebagai catatan perjalanan hidup bersama pasangan. Perubahan tafsir itu memperlihatkan bahwa sebuah lagu dapat terus hidup dan berkembang bersama pengalaman para penciptanya.
Agenda berikutnya menuju tur Asia
Setelah vinyl dirilis, Reality Club mulai menyiapkan rangkaian kegiatan berikutnya yang berfokus pada panggung. Band ini ingin membawa konser perayaan satu dekade perjalanan musik mereka ke lebih banyak kota.
Nugi Wicaksono mengatakan rencana itu mencakup sejumlah kota di Indonesia dan juga beberapa negara di Asia. Dengan demikian, pencapaian dari rilisan vinyl tidak berhenti pada produk fisik, tetapi berlanjut menjadi dorongan untuk aktivitas panggung yang lebih luas.
Di sisi lain, Nugi juga menegaskan bahwa perilisan vinyl merupakan bagian dari strategi bisnis yang disusun bersama label. Bagi Reality Club, langkah ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan bagian dari pengembangan karier yang lebih terarah.
Chia pun berharap rilisan vinyl tidak berhenti pada Presents… saja. Ia membuka kemungkinan agar album lain Reality Club juga hadir dalam format serupa, termasuk edisi khusus dengan warna piringan yang berbeda.
Source: lifestyle.bisnis.com






