Festival animasi mahasiswa WAINI Vol. 6 hadir dengan format yang lebih luas dan berani, membawa identitas baru sebagai International Student Animation Festival. Ajang yang digelar di Yogyakarta ini tidak hanya menampilkan karya pelajar dan mahasiswa, tetapi juga dirancang untuk membuka jalur yang lebih besar agar animasi karya anak muda bisa dikenal audiens internasional.
Penyelenggaraan WAINI Vol. 6 berlangsung pada 30 April hingga 3 Mei 2026 di Concert Hall dan Gedung Serbaguna ISI Yogyakarta. Dengan tema “ENTRAPHORIA” dan tagline “Animating Connection, One Story at a Time”, festival ini menegaskan peran cerita sebagai penghubung antarkreator dari berbagai latar belakang.
Dorongan untuk ekosistem animasi muda
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif menyatakan dukungannya terhadap penyelenggaraan WAINI Vol. 6 karena festival ini memberi ruang penting bagi karya animasi pelajar dan mahasiswa. Posisi festival tersebut dianggap sejalan dengan upaya memperkuat subsektor animasi sebagai salah satu penggerak ekonomi kreatif nasional.
Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekraf, Cecep Rukendi, menilai WAINI menjadi wadah penting bagi talenta muda untuk tampil dan memperluas jangkauan penonton. Ia menekankan bahwa ruang seperti ini dibutuhkan agar kreator muda tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga bertemu dengan ekosistem yang bisa mendukung perkembangan mereka.
Cecep juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara komunitas, kampus, dan pelaku industri kreatif. Menurutnya, pertemuan berbagai pihak dalam satu festival dapat memperkuat jaringan kerja sama yang berkelanjutan.
Potensi besar di sektor film, animasi, dan video
Dukungan terhadap WAINI turut berkaitan dengan besarnya peluang industri animasi di Indonesia. Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM tahun 2025 mencatat nilai sektor film, animasi, dan video mencapai Rp2,15 triliun.
Angka tersebut menunjukkan bahwa subsektor ini memiliki nilai tambah yang besar sekaligus berpotensi menciptakan lapangan kerja. Karena itu, ruang tampil bagi kreator muda dinilai penting agar talenta baru dapat tersambung dengan peluang industri yang lebih luas.
Kolaborasi lintas institusi dan jejaring internasional
WAINI Vol. 6 melibatkan sejumlah mitra dari berbagai sektor, termasuk Bank Indonesia, SAE Indonesia, Gobelins Paris, dan IFI Yogyakarta. Kehadiran mitra-mitra tersebut menunjukkan bahwa festival ini tidak berdiri sendiri, melainkan tumbuh melalui dukungan lintas institusi dan koneksi internasional.
Kolaborasi semacam ini juga memberi dampak pada kualitas kurasi dan perluasan jejaring pendidikan kreatif. Bagi kreator muda, keterlibatan pihak internasional membantu membuka sudut pandang baru mengenai standar karya dan peluang pengembangannya.
Ruang tampil, ruang belajar, dan ruang bertemu
Program Director WAINI Vol. 6, Destianawati, menyebut festival ini disiapkan sebagai ruang tumbuh bersama bagi kreator muda. Fokus utamanya diarahkan pada student filmmakers dan generasi muda yang membawa ide segar ke dunia animasi.
“WAINI kami hadirkan sebagai ruang apresiasi sekaligus ruang belajar,” ujar Destianawati. Ia menambahkan bahwa festival ini ingin memberi panggung lebih bagi student filmmakers agar karya anak muda mendapat apresiasi dan menjadi bagian dari ekosistem yang terus berkembang.
Program yang mendorong interaksi pengunjung
Susunan acara WAINI Vol. 6 dibuat tidak hanya untuk menampilkan karya jadi, tetapi juga untuk memperlihatkan proses kreatif di baliknya. Pengunjung dapat mengikuti pemutaran dan diskusi film nasional serta internasional, pameran ilustrasi, dan berbagai instalasi interaktif.
Beberapa instalasi yang disiapkan antara lain zoetrope animation, grid barrier animation, pojok storyboard, hingga showreel animasi tradisional. Selain itu, ada program partisipatif seperti Rimbun Project x Storyline yang mengajak peserta menggambar bersama sampai menjadi animasi.
Festival ini juga menghadirkan pameran game karya mahasiswa dan studio lokal, Interactive Collage Mural, serta program edukatif seperti SKENI atau Sekolah bareng WAINI, talkshow, dan mini workshop. Ragam kegiatan tersebut membuat pengunjung bisa melihat animasi bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai proses kolaboratif yang bisa dipelajari.
Akses terbuka untuk publik luas
Selain program utama, WAINI Vol. 6 menyiapkan STICKTOK atau Stick The Token untuk mendorong pengunjung menjelajahi seluruh area acara. Ada juga WAINIMART sebagai ruang bagi kreator memamerkan dan menjual produk kreatif seperti art print, zine, hingga merchandise.
Festival ini terbuka untuk umum tanpa biaya dan menyasar pelajar, mahasiswa, profesional kreatif, serta masyarakat luas yang ingin mengenal animasi lebih dekat. Dengan format yang memadukan apresiasi karya, edukasi, dan interaksi publik, WAINI Vol. 6 memperlihatkan bagaimana festival mahasiswa dapat menjadi penghubung antara talenta muda, industri kreatif, dan audiens yang lebih luas.
