Warga Mengecat Ulang Halte Trans Jatim di Jalan Veteran, Sindir Minimnya Perawatan Fasilitas Publik

Aksi pengecatan ulang Halte Trans Jatim di kawasan Jalan Veteran, Kota Malang, menjadi sorotan karena dilakukan langsung oleh warga dan sejumlah komunitas. Mereka memilih turun tangan untuk memperbaiki halte yang dinilai kusam, kotor, dan terkesan dibiarkan terbengkalai.

Halte yang berada di depan Universitas Brawijaya itu dibersihkan, disapu, lalu dipoles agar tampil lebih layak digunakan. Gerakan spontan tersebut bukan sekadar kerja bakti, melainkan juga bentuk protes terhadap fasilitas publik yang dianggap tidak mendapat perawatan memadai.

Di lokasi, aksi itu menarik perhatian pengguna jalan dan warga sekitar yang melintas. Banyak yang melihat langsung bagaimana perbaikan sederhana dilakukan dengan peralatan seadanya oleh sekitar 10 orang yang dipelopori Wahyu Setyo Pratama.

Wahyu menyebut langkah itu sebagai cara untuk menunjukkan bahwa fasilitas umum yang rusak dan kotor sebenarnya bisa dibenahi jika ada kemauan. Ia menegaskan, tujuan utama gerakan tersebut bukan membuat aksi besar, melainkan memberi tanda bahwa kondisi halte seperti itu tidak semestinya dibiarkan.

Sorotan pada halte yang ramai dilalui

Menurut Wahyu, Halte Veteran 2 merupakan salah satu titik paling ramai di Kota Malang. Ia menilai kondisi halte itu tidak menunjukkan perubahan berarti, padahal jumlah penumpang dan pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut cukup tinggi.

Bagi para peserta aksi, halte bukan hanya pelengkap layanan transportasi. Fasilitas itu menjadi bagian penting dari pengalaman penumpang yang menunggu kendaraan, sehingga kebersihan dan kelayakan fisiknya semestinya dijaga secara rutin.

Mereka juga memandang halte yang berada di jalur sibuk tidak pantas terlihat kumuh. Kondisi seperti itu dinilai memberi kesan bahwa fasilitas publik kurang diperhatikan, meski layanan Trans Jatim sudah berjalan cukup lama.

Tuntutan perawatan yang lebih serius

Dalam aksi tersebut, muncul juga penekanan soal tanggung jawab perawatan fasilitas pendukung transportasi. Wahyu menilai perhatian terhadap halte tidak seharusnya sepenuhnya dibebankan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Pernyataan itu sekaligus menjadi dorongan agar Pemerintah Kota Malang ikut lebih aktif mengurus sarana publik di wilayahnya. Menurut pandangan para peserta, fasilitas yang berada di ruang kota semestinya mendapat perhatian dari pemerintah daerah setempat, bukan dibiarkan menunggu pembenahan.

Warga yang terlibat melihat masalah utama bukan pada tampilan mewah atau pembaruan besar. Yang paling dibutuhkan justru perawatan dasar agar halte tetap bersih, berfungsi, dan nyaman dipakai masyarakat.

Dukungan dari luar kota

Aksi pembersihan dan pengecatan ulang tersebut tidak hanya diikuti warga Malang. Sejumlah komunitas dari luar daerah juga datang memberikan dukungan, termasuk Transport for Malang, Transport for Surabaya, Transport for Banyuwangi, dan Aliansi Malang Bersatu.

Kehadiran mereka menunjukkan bahwa isu transportasi publik di Malang mendapat perhatian lebih luas. Persoalan halte yang kusam dan kurang terawat dipandang bukan sekadar urusan lokal, melainkan bagian dari kualitas layanan yang dirasakan banyak pengguna.

Bagi para peserta, modernisasi transportasi tidak terasa utuh jika sarana pendukungnya masih dibiarkan tidak terurus. Mereka menilai kenyamanan penumpang saat menunggu kendaraan sama pentingnya dengan layanan utama yang disediakan.

Warga dan komunitas yang turun ke Halte Trans Jatim di Jalan Veteran itu ingin menunjukkan bahwa fasilitas publik dapat dirawat bersama. Dari pembersihan sederhana hingga cat ulang seadanya, aksi tersebut menyampaikan pesan bahwa halte yang layak, bersih, dan nyaman adalah kebutuhan dasar pengguna transportasi setiap hari.

Source: www.detik.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer