Warisan otomotif keluarga Anderson masih bisa dilihat utuh di Brookline, Massachusetts, karena 14 kendaraan asli dari total 32 mobil yang mereka kumpulkan tetap berada di tempat yang sama seperti saat pertama kali diparkir. Ruang itu kini terasa seperti museum hidup, bukan sekadar garasi tua, dan pengunjung masih bisa melihat lompatan besar dari era horseless carriage ke mobil modern dalam satu tempat.
Koleksi itu berawal dari pilihan yang tidak lazim pada masanya. Saat mobil belum menjadi barang umum di jalan raya, Larz dan Isabel Anderson sudah memandang kendaraan bermotor sebagai benda bernilai tinggi dan mulai mengoleksinya ketika banyak orang lain masih menganggap mobil hanya mesin bising yang belum mampu menggantikan kereta kuda.
Minat tersebut tumbuh di Paris pada 1898, ketika keduanya terpikat pada mobil-mobil awal yang melintas di ibu kota Prancis. Setelah kembali ke Amerika Serikat, mereka segera memesan Winton Phaeton 1899, lalu menambah Rochet-Schneider asal Prancis setahun kemudian.
Pusat koleksi mereka berada di Weld estate milik pasangan itu di Brookline. Bangunan carriage house dua lantai dari bata tersebut dibangun pada 1888, lengkap dengan interior berpanel kayu dan kandang yang dipisahkan marmer, karena awalnya memang dirancang untuk kuda.
Perubahan dari kandang kuda menjadi ruang penyimpanan mobil menjadi titik penting dalam sejarah koleksi ini. Berbeda dari banyak orang kaya pada masa itu yang melepas mobil lama demi model terbaru, Anderson justru menyimpan hampir semuanya dan merawat kendaraan yang sudah selesai dipakai seperti artefak.
Setiap mobil tidak dibuang setelah tak lagi digunakan. Kendaraan-kendaraan itu dibersihkan, diservis, lalu dipindahkan ke tempat permanen di carriage house, sehingga pada awal 1910-an ruang tersebut sudah dipenuhi mobil-mobil terbaik dari berbagai negara.
Isi koleksi Anderson juga menonjol karena ragam teknologinya. Mereka memiliki Gardner-Serpollet 1903 yang bertenaga uap dan memerlukan waktu lama untuk panas sebelum bisa dipakai, serta Bailey Electric Phaeton Victoria 1908 yang dikendarai sendiri oleh Isabel.
Isabel juga dikenal sebagai perempuan pertama di Massachusetts yang memiliki SIM. Di sisi lain, Larz lebih tertarik pada mobil berperforma tinggi, termasuk Winton Bullet 1901 bertenaga 40 horsepower yang hanya dibuat empat unit dan bahkan pernah ia balap pada tahun yang sama.
Keduanya juga mengoleksi mobil yang saat itu mewakili puncak kemewahan dan tenaga Eropa. Salah satunya adalah Fiat 1907 berkekuatan 65 horsepower, yang disebut sebagai supercar era Edwardian, dan mobil itu diberi motto “No hill can stop me.”
Ada pula Charron-Girodot et Voigt 1906 asal Prancis yang digambarkan sebagai land yacht. Mobil ini memiliki rak bagasi di atap untuk perjalanan jauh dan toilet di dalam kabin, detail yang masih menarik perhatian pengunjung hingga sekarang.
Koleksi mereka terus mencatat jejak perkembangan teknologi otomotif. Renault 40CV 1912 hadir dengan hood “alligator nose” dan radiator di belakang mesin, sementara model serupa dikenal hilang bersama Titanic, sehingga mobil itu membawa nilai sejarah tambahan.
Di antara kendaraan yang tersisa juga ada Packard Twin Six 1915, mobil produksi massal pertama dengan mesin 12 silinder. Kehadiran berbagai model itu menunjukkan betapa cepatnya dunia otomotif berubah pada masa awal, sementara pasangan Anderson memilih menyimpan jejak tiap tahap perkembangan tersebut.
Saat Isabel Anderson meninggal pada 1948, ia mewariskan estate, carriage house, dan koleksi mobil itu kepada kota Brookline dengan syarat semuanya tetap bersama untuk dinikmati publik. Hasilnya, warisan yang semula hanya milik pribadi kini menjadi pusat budaya mobil di New England, dengan acara di halaman yang mencakup microcar hingga mobil eksotis Italia.







