Warsh Makin Dekat Pimpin The Fed, Kekhawatiran Soal Kendali Politik Kian Menguat

Pemungutan suara Komite Perbankan Senat Amerika Serikat atas Kevin Warsh berlangsung ketat dan menghasilkan dukungan 13-11. Hasil itu memperkuat langkah Warsh dalam proses pencalonannya sebagai Ketua Federal Reserve pilihan Presiden Donald Trump dan membuat peluangnya menggantikan Jerome Powell semakin terbuka.

Meski begitu, persaingan politik di sekitar pencalonan ini belum mereda. Perdebatan soal independensi bank sentral AS justru makin keras, karena banyak pihak melihat posisi Ketua The Fed bukan sekadar soal kebijakan ekonomi, tetapi juga soal batas pengaruh politik terhadap lembaga yang seharusnya berdiri mandiri.

Dukungan tipis yang sempat tertahan

Jalan Warsh menuju persetujuan komite tidak sepenuhnya mulus. Prosesnya sempat tertahan oleh sikap Senator Republik Thom Tillis, sebelum Departemen Kehakiman menghentikan sementara penyelidikan terkait renovasi gedung markas besar The Fed di Washington.

Langkah itu langsung mengubah dinamika di Senat. Tillis menilai penyelidikan tersebut berisiko mengganggu independensi kebijakan moneter Amerika Serikat, terutama jika penanganannya dipandang bisa memberi tekanan politik kepada bank sentral.

Setelah mendapat jaminan bahwa kasus itu tidak akan dibuka kembali tanpa rujukan pidana resmi dari pihak internal bank sentral, Tillis kemudian melunak. Dukungan yang semula tergantung pada isu hukum itu memperlihatkan bahwa pencalonan Warsh tidak hanya dinilai dari kapasitas pribadi, tetapi juga dari keyakinan bahwa The Fed tetap bisa bekerja tanpa intervensi langsung.

Kritik Demokrat soal arah kebijakan

Dari kubu Demokrat, pencalonan Warsh memunculkan penolakan yang keras. Senator Elizabeth Warren menilai ada dorongan untuk menempatkan sosok yang lebih sejalan dengan kepentingan Gedung Putih di kursi pimpinan bank sentral.

Warren juga mengaitkan pencalonan ini dengan risiko ekonomi yang lebih luas. Ia memperingatkan kemungkinan munculnya tekanan stagflasi dan menyebut upaya pengambilalihan lembaga itu tidak boleh dianggap remeh.

Nada kritik tersebut menunjukkan bahwa yang dipersoalkan bukan hanya nama calon, melainkan arah besar yang mungkin mengikuti jika kendali atas The Fed dianggap makin dekat ke tangan politik. Dalam situasi seperti ini, debat di Senat berubah menjadi pembahasan yang lebih luas tentang batas kewenangan presiden terhadap kebijakan moneter.

Agenda besar Warsh jika memimpin The Fed

Warsh sendiri telah menyampaikan rencana perubahan besar jika nanti resmi memimpin The Fed. Salah satu agenda yang paling mendapat sorotan adalah pengurangan neraca keuangan bank sentral yang nilainya mencapai US$6,7 triliun.

Di saat yang sama, ia juga akan menghadapi ekspektasi pasar terkait suku bunga. Warsh dituntut menjelaskan bagaimana kebijakan penurunan suku bunga bisa dijalankan tanpa memicu gejolak baru, sekaligus bagaimana reformasi internal bank sentral dapat dilakukan secara terkendali.

Gregory Daco, Kepala Ekonom EY-Parthenon, menilai langkah semacam itu harus dilakukan dengan sangat transparan. Ia mengatakan bahwa jika seluruh kebijakan tersebut digabungkan, hasilnya bisa mengarah pada kerangka yang lebih terpusat, kurang transparan, dan lebih rentan terhadap risiko politik.

Sorotan atas aset dan hubungan pribadi

Selain soal arah kebijakan, Warsh juga berada di bawah pengawasan karena kekayaan pribadinya yang mencapai ratusan juta dolar. Hal itu menambah lapisan pertanyaan di tengah proses pencalonan yang sudah sarat tekanan politik.

Sorotan lain muncul ketika Senator Warren menyinggung kemungkinan hubungan Warsh dengan tokoh kontroversial yang tercantum dalam dokumen Departemen Kehakiman. Warsh membantah tuduhan itu secara tertulis dan menegaskan bahwa dirinya tidak mengenal orang-orang tersebut, tidak menghadiri acara mereka, dan tidak sadar pernah berada di acara yang dihadiri oleh pihak-pihak itu.

Warsh juga menyatakan akan melakukan divestasi atas sejumlah aset yang terikat perjanjian kerahasiaan sebelum resmi menjabat. Dengan proses yang kini bergerak ke Senat penuh, pertanyaan utama tetap sama: apakah Warsh akan benar-benar dipilih untuk memimpin bank sentral AS di tengah sorotan besar atas independensi The Fed, arah suku bunga, dan batas pengaruh politik terhadap kebijakan moneter.

Berita Terkait